Virus Corona Belum ada Vaksinnya, Ini Upaya Awal Kemenkes Cegah Penyebaran di Indonesia

Virus Corona Belum ada Vaksinnya, Ini Upaya Awal Kemenkes Cegah Penyebaran di Indonesia
Gambar: Istock
Rabu, 22 Januari 2020 17:30 WIB
JAKARTA - Dunia tengah dihebohkan dengan mewabahnya virus corona atau novel Coronavirus (2019-nCoV), yaitu jenis virus baru yang satu family dengan virus penyebab SARS dan MERS.

Pada 31 Desember 2019 sampai 5 Januari 2020, di Kota Wuhan, Cina, dilaporkan 59 kasus dengan gangguan pernapasan (pneumonia) dan dirawat di rumah sakit.

Dari sekian kasus itu, 7 orang dalam kondisi kritis dan 2 orang meninggal pada tanggal 16 dan 17 Januari 2020.

Korban yang terus-menerus bertambah dan penyebaran virus yang makin luas hingga ke Amerika Serikat, membuat banyak orang khawatir akan kesehatan mereka. Tak terkecuali di Indonesia.

Erlina Burhan, Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP PDPI) mengatakan banyak orang menginginkan divaksin supaya terhindar dari penyakit ini. Hanya saja dia menegaskan sampai saat ini belum ada vaksin khusus pneumonia Wuhan.

"Tidak ada vaksin pneumonia Wuhan," kata dia dikutip dari CNNIndonesia Rabu (22/1/2020).

Erlina mengatakan pembuatan vaksin memerlukan waktu lama sehingga tidak mungkin vaksin ditemukan dan dipasarkan sesaat setelah terjadi outbreak.

Sementara itu, khawatir virus tersebut menyebar ke Indonesia, pemerintah melalui Kemenkes menyiapkan termoscanner di 135 pintu keluar masuk negara Indonesia.

''135 pintu negara baik udara, laut, maupun darat yang jaga petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan. Yang paling awal bisa dideteksi adalah dengan termoscanner untuk mendeteksi suhu tubuh. Kalau ada orang dari luar negeri masuk ke Indonesia dengan suhu tubuh di atas 38 derajat celcius, maka posturnya terlihat berwarna merah pada termoscanner,'' kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes Anung Sugihantono di Gedung Kemenkes, Jakarta, Senin (20/1/2020) lalu.

Selain itu, bandara-bandara di seluruh Indonesia terutama yang mempunyai penerbangan langsung dari Cina, meningkatkan kewaspadaan di antaranya dengan mengaktifkan thermal scanner, memberikan health alert card dan KIE pada penumpang.

Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI merinci, kasus yang perlu dicurigai terinveksi nCoV adalah :

1. penderita Infeksi saluran pernapasan akut berat (Severe Acute Respiratory Infection/SARI), dengan riwayat demam dan batuk serta penyebab yang belum pasti, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina dalam waktu 14 hari sebelum timbulnya gejala.

2. Seseorang yang sakit dengan gejala klinis yang tidak biasa, kemudian terjadi penurunan kondisi umum mendadak meskipun telah menerima pengobatan yang tepat, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat perjalanan.

3. Penderita Infeksi Saluran Pernapasan akut (ISPA) ringan atau berat, yang dalam 14 hari sebelum timbulnya penyakit, telah terpajan dengan:

a. Kontak erat dengan kasus positif infeksi nCoV;

b. Mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan di negara-negara terjangkit nCoV;

c. Mengunjungi atau bekerja di pasar hewan di Wuhan,Cina;

d. Memiliki riwayat kontak dengan hewan (jika hewan penular sudah teridentifikasi) di negara terjangkit nCoV pada hewan atau pada manusia akibat penularan hewan (zoonosis).

Annas menyarankan kepada masyarakat Indonesia yang berada di Wuhan untuk menghindari wilayah yang menjadi penyebaran penyakit akibat nCoV, menghindari kontak yang diduga menderita nCoV, berperilaku hidup bersih dan sehat, dan jika sakit segera berobat ke Fasyankes.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:GoNews Group, Umum, Pemerintahan, Lingkungan, DKI Jakarta

wwwwww