Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
24 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
24 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
23 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
24 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
23 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
23 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Badminton

Diskusi soal Corona, Syaifullah Tamliha Singgung Perang yang Lebih Canggih

Diskusi soal Corona, Syaifullah Tamliha Singgung Perang yang Lebih Canggih
Dok. KWP
Kamis, 06 Februari 2020 16:35 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI, Syaifullah Tamliha mengungkapkan, persoalan corona virus dan pemulangan WNI Eks simpatisan ISIS menjadi dua isu yang berkembang di komisinya.

Hal itu disampaikan Syaifullah dalam diskusi "Efek Domino Virus Corona" di Media Center DPR RI, Kamis (6/2/2020).

"Oleh karena itu kita memberikan pengertian dan pemahaman tentang pertahanan itu tidak semata-mata bahwa pertahanan itu adalah perang terbuka tetapi juga bisa perang yang lebih canggih," kata Syaifullah.

Menurut Syaifullah, adanya pernyataan dari intelijen Israel, Mossad, bahwa seolah-olah ada indikasi China memproduksi senjata biologis yang kemudian bocor dan mewabah di Wuhan, menjadikan persoalan Corona "menarik," dari perspektif Komisi I selaku yang membidangi pertahanan negara.

Belum diungkap bagaimana kajian sementara Komisi I terkait dugaan itu. Syaifullah lanjut menyinggung soal kepulauan-kepulauan Indonesia yang belum difungsikan optimal, termasuk dalam penanganan Corona.

Sebenarnya, kata Syaifullah, "Indonesia itu kan memiliki banyak pulau, tapi kita tidak bisa mengelola pulau-pulau itu untuk 'karantina' (atau Observasi jika khusus terkait Corona, Red),".

Misalnya, lanjut dia, "kita itu ingin membeli sapi dari India, sapi itu kita larang masuk ke Indonesia karena sapi India terindikasi penyakit kumu (kuku dan mulut).

"Nah, kenapa tidak ada pulau tersendiri yang khusus untuk mengkarantina sapi-sapi itu, supaya bisa kita mendapatkan harga daging yang lebih murah dan kompetitif dibandingkan dengan sapi yang berasal dari Australia, Brazil atau Amerika," ujarnya.

Dengan begitu-jika pulau yang ada sudah dikelola dengan baik dan dibuatkan pulau khusus untuk karantina atau Observasi, menurut Syaifullah, WNI dari Wuhan bisa untuk ditangani di pulau khusus, bukan DI Natuna.

"Tidak Perlu lah ditaruh di Natuna itu. Masih banyak pulau kok! Tapi kita tidak menyiapkan pulau-pulau itu untuk dikelola. Tapi begitu, pulau-pulau kita diganggu, baru kita ribut," tandas Syaifullah.

Seperti diketahui, ratusan WNI dari pusat penyebaran Corona di Wuhan, China, tengah diobservasi di Natuna. Pemerintah menjamin bahwa ratusan WNI tersebut dalam kondisi sehat. Penanganan sementara di Natuna hanya merupakan standar yang ditetapkan dunia.***

wwwwww