Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
17 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
17 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
16 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
16 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
17 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
16 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Badminton

Pemekaran Papua Butuh 'Tools' Khusus, Tapi Mesti Cermat agar Tak Jadi Preseden

Pemekaran Papua Butuh Tools Khusus, Tapi Mesti Cermat agar Tak Jadi Preseden
Anggota Fraksi Demokrat DPR RI, Herman Khaeron. (Foto: Zul/GoNews.co)
Kamis, 05 Maret 2020 17:45 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Anggota Fraksi Demokrat DPR RI, Herman Khaeron mengungkapkan, adalah fakta bahwa usulan pembentukan daerah otonomi baru (DOB)/pemekaran wilayah merupakan usulan terbesar yang masuk ke DPR.

Demikian diungkap mantan pimpinan Komisi II itu dalam diskusi terkait pemekaran Papua yang berlangsung di Media Center DPR RI, Kamis (5/3/2020).

Dalam diskusi, mengemuka bahwa rencana pemekaran Papua agar tak keluar dari konteks otonomi khusus. Terkait hal ini, Herman mengaku sependapat bahwa memang diperlukan tools tersendiri untuk membahas kekhususan suatu daerah.

Tapi, kata Herman, perlu juga cermat agar kekhususan itu tak menjadi preseden di tengah fakta besarnya permintaan pemekaran wilayah/DOB.

"Khusus untuk Papua, harus diberi perhatian khusus. Melibatkan rakyat Papua. Bahwasanya otonomi daerah bukan hanya berdasar aturan-aturan baku tapi juga berdasarkan aturan khusus," kata Herman, sembari menyinggung bahwa sikap ini adalah sikap Partai Demokrat.

Sebelumnya, dalam forum yang sama, Direktur Papua Circle Institute, Hironimus Hilapok menyatakan pihaknya setuju dengan pemekaran Papua selama dilakukan dengan cara yang benar dan dalam konteks otonomi khusus. Orang asli Papua juga harus menjadi tuan di bumi Papua.

"Pemekaran Papua itu harus kita lihat dari konteks Otonomi Khusus. Jangan kita melihat pemekaran di Papua sama dengan yang terjadi di daerah lain," kata Hironimus.

Sehingga, lanjut Hironimus, "boleh Papua dimekarkan tapi harus ada atau ditunjuklah seorang seperti Gubernur Jenderal, misal pemerintah membentuk sebuah badan yang mengkoordinir semua provinsi yang ada,".***

wwwwww