Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
14 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
2
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
Ekonomi
17 jam yang lalu
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
3
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
Umum
22 jam yang lalu
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
4
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
Hukum
22 jam yang lalu
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
5
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
Kesehatan
20 jam yang lalu
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
6
Detik-detik Jenazah PDP Corona di Sumsel Jatuh Saat akan Dikuburkan
Peristiwa
18 jam yang lalu
Detik-detik Jenazah PDP Corona di Sumsel Jatuh Saat akan Dikuburkan
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Jelang Olimpiade Tokyo 2020

Johni Asodoma Mundur Sebagai Konsekuensi Kegagalan Dipuji Carol Renwarin

Johni Asodoma Mundur Sebagai Konsekuensi Kegagalan Dipuji Carol Renwarin
Jum'at, 20 Maret 2020 18:48 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Sifat ksatria Brigjen Pol Johni Asadoma yang ingin mundur sebagai Ketua Umum PB Pertina jika petinju Indonesia gagal lolos ke Olimpiade Tokyo 2020 dapat pujian dari mantan pelatih tinju nasional, Carol Renwarin.

"Saya memuji sifat ksatria Johni Asadoma sebagai mantan petinju nasional yang ingin mundur dari jabatan Ketua Umum PB Pertina jika memang tidak ada petinju Indonesia yang meraih tiket ke Olimpiade Tokyo 2020. Dan, saya mendukung keinginannya itu," kata Carol Renwarin saat ditemui di Gedung KONI Pusat Jakarta, Rabu (18/3/2020). 

Carol Renwarin merupakan pelatih tinju lulusan terbaik yang mengantongi sertifikat Asosiasi Tinju Amatir Internasional (AIBA). Pria asal Papua ini merupakan pelatih Tinju Adriasus Taroreh dan Ilham Lahia saat menghadapi Olimpiade Seoul 1988. 

Pernyataan akan mundur dari Ketua Umum PB Pertina itu disampaikan Johni Asadoma pada acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Kemenpora dan PB Pertina sehubungan bantuan dana pelatnas Olimpiade Tokyo di Media Centre Kemenpora Jakarta, Jumat (29/2/2020). 

"Kita sudah tiga kali pelaksanaan Olimpiade tanpa petinju. Makanya, saya akan mundur dari Ketua Umum PB Pertina jika memang tidak ada petinju yang lolos ke Olimpiade Tokyo," kata Johni yang juga Wakapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) di hadapan para wartawan yang menghadiri acara MoU tersebut. 

Prestasi olahraga tinju amatir Indonesia memang pernah bersinar dengan menempatkan tiga  petinju ke perempat finalis Olimpiade. Yakni, Ferry Moniaga (Kelas Layang) pada Olimpiade Munchen 1972, Albert Papilaya (Kelas Menengah) pada Olimpiade Barcelona 1992 dan La Paena Masara (Kelas Layang) pada Olimpiade Atlanta 2000. 

Sebanyak empat petinju Indonesia sudah mengikuti babak kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020 untuk Asia-Oceania yang akan digelar di Amman, Yordania,  3-12 Maret 2020. Keempat petinju yang terdiri dari Mikhail Roberto Muskita (Menengah 75kg), Lucky Mira Agusto Hari (Bantam 57kg), Aldom Sugoro (Layang 52kg), dan Ratu Silpa Lau (Bulu 57kg putri) gagal meraih tiket ke Olimpiade Tokyo 2020. 

Kini, petinju Indonesia masih punya kesempatan untuk bisa lolos pada Kejuaraan Tinju Dunia  sekaligus babak kualifikasi Olimpiade yang akan digelar di Paris, Perancis Mei mendatang. Namun, Johni merasa peluang untuk bisa meloloskan petinuu cukup berat. 

"Persaingan di kejuaraan dunia itu sangat berat karena lawan yang dihadapi petinju dari penjuru dunia. Di sini kita juga akan menerjunkan Farrand Papendang (Kelas Welter Ringan) dan petinju peraih perunggu Asian Games 2018, Uswatun (kelas Ringan 60kg putri)." ungkapnya. 

Untuk pelatnas Olimpiade Tokyo 2020, PB Pertina mendapat bantuan dana senilai Rp 5,2 miliar dari permohonan semula Rp 7,3 miliar. Dana itu dialokasikan untuk biaya program pemusatan latihan hingga uji coba  ke luar negeri. ***


wwwwww