Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
22 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
2
Syarief Hasan Ajak Masyarakat Teladani Dua Prajurit TNI AL yang Relakan Gaji dan THR untuk Beli Sembako
MPR RI
18 jam yang lalu
Syarief Hasan Ajak Masyarakat Teladani Dua Prajurit TNI AL yang Relakan Gaji dan THR untuk Beli Sembako
3
Mahfuz: Gelora Indonesia Partai Terbuka dan Kekuatan Politik Baru
Politik
9 jam yang lalu
Mahfuz: Gelora Indonesia Partai Terbuka dan Kekuatan Politik Baru
4
Sepasang PNS Bukan Suami-Istri Pingsan Tanpa Busana dalam Mobil di Pinggir Jalan
Peristiwa
20 jam yang lalu
Sepasang PNS Bukan Suami-Istri Pingsan Tanpa Busana dalam Mobil di Pinggir Jalan
5
Bisnisnya Hancur dan Dijauhi Tetangga, Keluarga Pasien yang Peti Jenazahnya Jatuh Minta Nama Baiknya Dipulihkan
Peristiwa
21 jam yang lalu
Bisnisnya Hancur dan Dijauhi Tetangga, Keluarga Pasien yang Peti Jenazahnya Jatuh Minta Nama Baiknya Dipulihkan
6
Sah... Partai Gelora Resmi Terima 3 SK Menkumham
Politik
23 jam yang lalu
Sah... Partai Gelora Resmi Terima 3 SK Menkumham
Home  /  Berita  /  Pendidikan

Hanya Mengejar Jumlah Peserta dan Rating, Program Belajar dari Rumah Hasilnya Apa?

Hanya Mengejar Jumlah Peserta dan Rating, Program Belajar dari Rumah Hasilnya Apa?
Anggota Komisi X DPR RI, Zainudin Maliki.
Jum'at, 01 Mei 2020 07:33 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI, Zainudin Maliki dengan tegas mendesak Kemendikbud segera melakukan evalusi program Belajar dari Rumah (Darum) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui siaran TVRI.

Pasalnya, kata dia, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. "Selama ini hanya baru sebatas jumlah peserta saja yang dilaporkan, tapi hasil dari program ini bagaimana? Hasilnya apa," tanya Zainudin Maliki, Kamis (30/4/2020).

Apa yang sudah dijelaskan oleh Dirjen PAUD, Dasar dan Menengah Kemendikbud yang menyebut lebih dari 90 persen siswa mengikuti program belajar darum, menurutnya, tidaklah cukup. Demikian juga dengan TVRI yang melaporkan rating pemirsanya naik drastis setelah menyiarkan paket pembelajaran bersama Kemdikbud.

"Yang diperlukan bukan hanya jumlah keikutsertaan siswa, tetapi perlu dievaluasi efektivitas pembelajaran itu sendiri. Saya kira survei yang sudah dilakukan KPAI sangat membantu dalam mengevaluasi efektivitas belajar darum ini," tandasnya.

Secara umum, kata politisi asal Jawa Timur ini, Kemendikbud harus akui, bahwa guru-guru di Indonesia juga sudah berusaha bekerja keras selama pandemi. "Namun evaluasinya belum bisa mengantar siswa mencapai tujuan instruksional yang diinginkan. Masalahnya, mayoritas siswa mengaku tidak bisa berinteraksi dengan guru. Interaksi hanya terjadi ketika memberi dan menagih tugas yang bertubi-tubi. Ujungnya, siswa menilai belajar di sekolah lebih menyenangkan daripada Darum," tegasnya.

Dari hasil evaluasi seperti ini, diharapkan Kemdikbud segera mengambil langkah atau memberi kesempatan guru melakukan pelatihan. "Ya tentu secara virtual. Sembari menjalankan tugas mengelola PJJ, guru juga perlu berlatih mengelola belajar Darum dengan benar. Saya berharap, dari pelatihan itu, guru lebih inovatif, tidak sekadar mengisi PJJ hanya dengan memberi dan menagih tugas semata," tukasnya.

PJJ, kata dia, juga menyangkut banyak hal. PJJ memiliki sejumlah dimensi untuk dipertimbangkan. Antara lain guru harus bisa memastikan siswanya tahu apa yang diharapkan dari pembelajaran Darum. Guru juga harus dapat melakukan semua tindakan dan kegiatan yang diperlukan dalam pembelajaran darum.

"Perlu kemampuan tertentu untuk bisa mempersiapkan dan mengimplementasikan materi dalam sesi PJJ yang tidak membikin siswa jenuh, sebaliknya mendorong siswa aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan," tegasnya.

Mentransformasikan materi darum, kata dia lagi, sangat berbeda dengan belajar di sekolah. Guru tidak bisa mengajar dengan membayangkan semua siswa didiknya berada di lingkungan yang sama. Tidak semua siswa didik tinggal di rumah yang kondusif untuk belajar.

"Oleh karena itu, Kemdikbud harus bisa memfasilitasi berupa sarana yang bisa membantu guru betapa pun sulitnya, untuk tetap bisa mengetahui dan memahami kondisi siswanya di rumah masing-masing. Jadi memang PJJ adalahal sesuatu yang kompleks".

Kemdikbud, menurutnya harus bisa mengajak dan memfasilitasi guru menyisihkan waktu meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi pembelajaran daring. "Fasilitasi guru mengadaptasikan teknologi PJJ yang tiba-tiba harus digeluti ini untuk bisa dilaksanakan secara efektif sehingga siswa belajar darum dengan senang," pungkasnya.***


wwwwww