Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Aksi Solidaritas Kematian George Floyd Berujung Ricuh Hampir ke Seluruh Amerika
Internasional
17 jam yang lalu
Aksi Solidaritas Kematian George Floyd Berujung Ricuh Hampir ke Seluruh Amerika
2
Kematian George Floyd Berujung Rusuh, KJRI Chicago Pastikan WNI Aman
Peristiwa
17 jam yang lalu
Kematian George Floyd Berujung Rusuh, KJRI Chicago Pastikan WNI Aman
3
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO 'Boneka' China
Internasional
8 jam yang lalu
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO Boneka China
4
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
Internasional
8 jam yang lalu
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
5
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
Politik
9 jam yang lalu
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
6
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
Peristiwa
7 jam yang lalu
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Pandemi Covid-19, Satu Keluarga di Medan Ini Tetap Bersyukur Meski Makan Lauk Royco

Pandemi Covid-19, Satu Keluarga di Medan Ini Tetap Bersyukur Meski Makan Lauk Royco
Sabtu, 02 Mei 2020 03:33 WIB
MEDAN - Akibat pandemi Covid-19, tidak sedikit masyarakat Kota Medan yang kesulitan mendapat penghasilan, khususnya masyarakat bawah yang saat ini berjuang mencari nafkah bagi keluarganya hanya sekedar untuk makan.

Seperti yang dialami satu keluarga di kawasan Medan Selayang. Sehari-hari harus makan nasi berlaukkan penyedap rasa (royco). Kejadian ini sudah berlangsung sejak virus covid-19 menyerang.

Keluarga ini terpaksa makan lauk Royco, karena penghasilan sehari hari yang didapat tak mencukupi.

"Kami sekeluarga makan menggunakan penyedap Royco, tapi bukan langsung makan dengan itu saja. Artinya, setiap akan makan dengan lauk seadanya, kami menambahkan Royco (penyedap) sebagai penambah rasa. Terkadang kami mencari daun ubi untuk mengganti lauk,'' ungkap A br Ginting saat ditemui di kediamannya.

Ia menambahkan, hal itu terpaksa dilakukannya karena pendapatan harian dirinya dan suaminya tidak tentu. Hasil dari jualan BBM eceran yang dilakukannya dan suaminya yang menarik becak tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Jualan minyak (BBM eceran) ini pun kadang sehari enggak ada yang beli. Kalau pun ada yang beli dapetnya dua puluh ribu. Itulah yang dipakai untuk makan. Suami ku pun narik becak enggak ada sewanya," jelasnya.

Tetangga yang mendegar kisah mereka pun tidak tega. Mereka pun kerap mendapatkan pemberian dari tetangga dan warga sekitar berupa mie instan, telur. Selain itu, ia juga memetik daun ubi yang ada di sekitar rumahnya untuk dimasak dan dijadikan lauk menemani nasi yang ditambahkan penyedap.

Meski dalam keadaan yang memprihatinkan, pasutri beranak dua itu tetap bersemangat untuk mencari nafkah menghidupi buah hatinya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:CekTKP.id
Kategori:Sumatera Utara, Pemerintahan, Ekonomi, Peristiwa

wwwwww