Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jika Labil, Kebijakan Penanggulangan Covid-19 bisa 'Ambyarrr'
DPR RI
19 jam yang lalu
Jika Labil, Kebijakan Penanggulangan Covid-19 bisa Ambyarrr
2
Seiring 'New Normal', Portal Akses 'Pemicu Konflik' Baiknya Dibuka
Lingkungan
12 jam yang lalu
Seiring New Normal, Portal Akses Pemicu Konflik Baiknya Dibuka
3
Kritik Mahfud MD, Saleh Daulay: Tak Bijak Bandingkan Kematian Covid-19 dengan Kecelakaan
Politik
19 jam yang lalu
Kritik Mahfud MD, Saleh Daulay: Tak Bijak Bandingkan Kematian Covid-19 dengan Kecelakaan
4
Dunia sedang Hadapi Covid-19, China dan India Diharap Berkepala Dingin di 'Pangong Lake'
Internasional
20 jam yang lalu
Dunia sedang Hadapi Covid-19, China dan India Diharap Berkepala Dingin di Pangong Lake
5
Tak Setuju 'New Normal'? Ini Pesan Hergun...
DPR RI
13 jam yang lalu
Tak Setuju New Normal? Ini Pesan Hergun...
6
AS Mencabut Status Khusus Hong Kong, Ini Bisa Berdampak pada Perdagangannya
Internasional
21 jam yang lalu
AS Mencabut Status Khusus Hong Kong, Ini Bisa Berdampak pada Perdagangannya
Home  /  Berita  /  Nasional

Pendiri Mualaf Center Koh Steven Jual Semua Hartanya Bantu Tangani Covid-19, Hampir Rp13 Miliar

Pendiri Mualaf Center Koh Steven Jual Semua Hartanya Bantu Tangani Covid-19, Hampir Rp13 Miliar
Pendiri dan Ketua Mualaf Center Indonesia Steven Indra Wibowo alias Koh Steven. (republika.co.id)
Minggu, 03 Mei 2020 07:23 WIB
YOGYAKARTA - Pendiri sekaligus Ketua Mualaf Center Indonesia, Steven Indra Wibowo, yang akrab disapa Koh Steven, telah menjual hampir seluruh hartanya untuk membantu menangani pandemi virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

Dikutip dari Republika.co.id, Koh Steven menganggap harta hanyalah titipan Allah SWT, yang harus dikembalikan. Maka hanya ada dua, kembali dalam keadaan dipaksa karena suatu musibah dan sebagainya atau mengembalikannya dalam bentuk sedekah.

''Saya memilih mengembalikan ini dengan cara yang baik. Ini harta pinjaman dari Allah, saya cuma ingin balikin, momennya sekarang lagi bagus. Ya sudah aku balikin aja. Karena cepat atau lambat itu akan kembali, dan akan Allah minta pertanggungjawaban,'' kata dia kepada Republika.co.id.

Koh Steven menjelaskan, Rasulullah SAW pun pernah memperingatkan orang-orang, bahwa ada dua hal yang tidak disukai anak Adam. Pertama, kematian, padahal ini lebih baik daripada fitnah.

Kedua, adalah kefakiran atau kemiskinan. Padahal dengan sedikitnya harta, maka sedikit pula yang dihisab pada hari akhir nanti.

''Aku berpatokan pada hal itu saja, ya sudahlah ini balikin saja. Dulu waktu saya mualaf juga dibikin miskin kok. Dan Allah bisa bikin saya seperti sampai kemarin. Tidak akan sulit bagi Allah mengembalikanku ke posisi kemarin. Yang penting kan tauhidnya kita, yakin Allah akan cukupin itu semua,'' katanya.

Koh Steven telah menjual dua rumah, tujuh mobil, tiga motor gede alias moge miliknya. Harta yang tersisa kini tinggal satu rumah di Salatiga, yang masih menunggu pemilik barunya.

''Sisa satu rumah ini, yang lagi ditawarin, dan satu motor Beat yang saya pakai,'' katanya.

Selama dua bulan belakangan, Koh Steven tinggal di Yogyakarta di sebuah rumah kontrakan bersama tim yang terdiri dari 11 orang. Sedangkan istrinya berada di Bandung tinggal bersama orangtuanya.

''Istri saya numpang di rumah mertuaku. Aku di Yogyakarta sudah dari Februari, jadi memang sudah prepare (bersiap),'' ucapnya.

Dengan dana yang dia miliki, Koh Steven telah memproduksi 48 ribu pakaian hazmat untuk dibagikan secara gratis ke 4.781 fasilitas kesehatan di seluruh wilayah Indonesia. Fasilitas kesehatan dimaksud meliputi rumah sakit umum daerah, rumah sakit swasta, hingga Puskesmas.

''Sampai ke tempat pemakaman umum kita kirim hazmat juga, untuk mereka yang memakamkan korban meninggal. Dan yang boleh minta itu hanya fasilitas kesehatan dengan tenaga kesehatan yang resmi. Dokter dan perawat yang resmi,'' ujarnya.

Selain memproduksi hazmat, Koh Steven juga telah memasang surgical gown ke 43 ribu pakaian alat pelindung diri (APD) sumbangan yang diterima banyak rumah sakit. Surgical gown ini dipasang karena APD sumbangan tersebut belum berstandar WHO.

''Daripada tidak bisa dipakai, mereka minta memasang surgical gown di bagian dalam hazmat, supaya di bagian yang dijahit itu jika virus masuk maka ditahan surgical gown. Karena kan tidak boleh dijahit, agar tidak tembus,'' tuturnya.

Sebelum memproduksi hazmat, Koh Steven terlebih dulu memproduksi masker. Total masker yang telah diproduksi dan dibagikan secara gratis sebanyak 150 ribu masker, 12 ribu di antaranya merupakan masker N95 yang tujuh lapis dan sisanya masker medis tiga lapis.

Saat ini, pun dia sedang memproduksi 60 ribu masker medis dan 8.000 masker N95.

''Setelah masker, baru ke (memproduksi) hazmat, tetapi saat itu butuh uang lagi, lalu saya jual mobil satu per satu,'' ujar dia.

Total nilai uang yang telah Koh Steven gelontorkan untuk memproduksi APD berstandar WHO, memasang surgical gown pada APD, dan masker mencapai Rp11,2 miliar. "Kalau sama mesin (beli impor untuk produksi) itu sekitar Rp12,8 miliar,'' kata dia.

Tak hanya hazmat dan masker, Koh Steven juga membagikan gratis total 80 ribu liter hand sanitizer, ribuan paket sembako dan makanan siap saji.

Hingga kini total paket sembako yang telah dibagikan sebanyak 120 ribu paket. Sedangkan total paket makanan siap santap yang dibagikan gratis ke seluruh Indonesia, 560 ribu paket.

''Di tiap wilayah aku menggerakkan warung makan lokal termasuk juga tempat fast food. Aku bagikan bukan hanya untuk Muslim saja, tetapi semua yang lapar kita kasih,'' jelasnya.

Koh Steven melalui Yayasan Mualaf Center Indonesia, juga membuka donasi bagi siapa pun yang ingin membantu. Untuk donasi, bisa dikirimkan ke Bank BTN Cabang Depok nomor rekening 0025-4015-0001-7445 atas nama Yayasan Mualaf Center Indonesia.

Hingga kini, total donasi yang terkumpul sudah sebesar Rp 480 juta. Jumlah ini bisa membantu orang-orang yang membutuhkan makanan.

Apalagi dana yang dia miliki pun kian menipis. Dia berharap langkahnya dapat diikuti oleh banyak orang. Semula makanan siap saji yang dikirim itu bisa 2.000 paket sehari, tetapi kini berkurang menjadi 700 atau 1.000.

Paket sembako yang dikirim juga tidak sebanyak sebelumnya, karena kini hanya 200-300 paket sembako yang dikirim tiap hari. Total dana yang dihabiskan per hari untuk sembako dan makanan siap santap sebesar Rp50 juta.

''Aku berharap gerakan ini diduplikasi oleh orang lain, karena kapasitasku ini akan berakhir, pasti ada ujungnya. Dan ini akan menjadi panjang dan lama. Orang lapar pasti ada terus,'' ujarnya.

Koh Steven juga buka-bukaan soal mengapa dia memahami pakaian hazmat yang berstandar WHO. Dia bekerja di sebuah perusahaan riset di Singapura, yang salah satu kliennya adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan WHO menjadi subklien. Perusahaan riset sosial ini mengurus soal peredaran obat dan kadar gizi buruk di beberapa negara.

Pada Januari 2020, Koh Steven dan rekan kerjanya yang lain rapat bersama WHO. Saat itu disebutkan mengenai virus yang akan menjadi pandemi global, dan hanya soal waktu kapan WHO mengeluarkan pernyataan.

Semula Koh Steven mengira virus ini seperti MERS sehingga yang dibutuhkan hanya masker. Ia pun mencoba memproduksi masker sendiri dengan mengimpor alat produksi dan bahan untuk dibagikan gratis. Total biaya saat itu habis sekitar Rp500 juta.

''Tetapi ternyata penyakit ini naik. Terus aku coba cek tenaga medis, ternyata Indonesia sudah mengekspor hazmat atau APD-APD cukup banyak. Ya sudah, bikin hazmat. Beli alat-alatnya dari Guangzhou, China, dari sana dikirim ke Taiwan lalu ke Singapura lalu ke Indonesia,'' ucap dia.

Untuk bahan, Koh Steven mengimpor dari Jepang. Bahannya terbilang bagus dan tidak terlalu mahal. Koh Steven kemudian belajar dari teman-teman di WHO tentang caranya sanitizing, sterilisasi, dan bagaimana memasukkannya ke dalam bahan.

''Terus (belajar tentang) UV segala macam, beli UV Chamber, bikin ruangannya khusus untuk sterilisasi. Alhamdulillah, ya sudah akhirnya mencetak sendiri dulu,'' kata dia.

Kini, ada 70 lebih penjahit yang membantu memproduksi ribuan hazmat. Mesin-mesin jahit yang diimpor itu ditaruh di rumah si penjahit agar mudah dikerjakan. Koh Steven menanggung biaya listrik rumah, termasuk juga membayar puluhan penjahit tersebut. Para penjahit ini bekerja lebih dari 12 jam dan ongkos lemburnya tidak dibayar.

''Aku bilang dari awal ke mereka, ini untuk didonasikan, buat berkhidmat. Kata mereka nggak apa-apa, sekalian beramal. Mereka dibayar normal, tetapi lemburannya tidak dibayar,'' katanya.

Koh Steven memastikan pakaian hazmat yang diproduksi tersebut sudah berstandar WHO. ''Karena aku belajar dari situ. Aku tidak jual, aku tidak mencari cuan (uang) tidak mencari untung. Jadi produksi seaman mungkin, dan aku bagikan gratis,'' ujarnya. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Umum, Nasional

wwwwww