Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Remaja 13 Tahun Ini Lulus dengan Empat Gelar Sarjana Hanya Dalam Waktu Dua Tahun
Internasional
19 jam yang lalu
Remaja 13 Tahun Ini Lulus dengan Empat Gelar Sarjana Hanya Dalam Waktu Dua Tahun
2
Syarief Hasan: Tap MPRS RI XXV/1966 harus Masuk di RUU HIP
Politik
15 jam yang lalu
Syarief Hasan: Tap MPRS RI XXV/1966 harus Masuk di RUU HIP
3
Aplikasi Android Edit Video yang Populer Ini Ternyata Sangat Berbahaya, Ayo Hapus Segera
Umum
13 jam yang lalu
Aplikasi Android Edit Video yang Populer Ini Ternyata Sangat Berbahaya, Ayo Hapus Segera
4
76,7 Persen Pasien Covid-19 di Indonesia Alami Gejala Ini
Kesehatan
17 jam yang lalu
76,7 Persen Pasien Covid-19 di Indonesia Alami Gejala Ini
5
Pemerintah Diminta Penuhi Kebutuhan Sarpras 'e-Learning'
Pendidikan
9 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Penuhi Kebutuhan Sarpras e-Learning
6
Berisiko Kematian, Eropa Larang Pemakaian Chloroquine Obati Pasien Covid-19, Indonesia Tetap Gunakan
Kesehatan
20 jam yang lalu
Berisiko Kematian, Eropa Larang Pemakaian Chloroquine Obati Pasien Covid-19, Indonesia Tetap Gunakan
Home  /  Berita  /  Umum

Merekam Solidaritas Pekerja Seks Ibu Kota, Ketika Ranjang Jadi Hening Akibat Pandemi Corona

Merekam Solidaritas Pekerja Seks Ibu Kota, Ketika Ranjang Jadi Hening Akibat Pandemi Corona
Ilustrasi. (Istimewa)
Sabtu, 16 Mei 2020 23:21 WIB
JAKARTA - Roni (bukan nama sebenarnya) termangu di depan sebuah minimarket menghadap Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, yang menyapanya dengan keheningan tak wajar.

Hilang sepenuhnya satu-dua kendaraan yang menepi mencari jasa Roni, sebagaimana hari-hari biasa. Malam itu, mengenakan jaket tebal, dan topi berwarna gelap di atas kepala, dia langsung mengeluh tak lama setelah kami berkenalan.

"Kerjaan lagi sepi," ujarnya, dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

Roni bekerja sebagai germo, induk semang sekaligus makelar para pekerja seks yang beroperasi di kawasan Mangga Besar. Pandemi Corona yang menyapu dunia empat bulan terakhir membuat pondasi bisnis lendirnya runtuh. Orang-orang diminta berdiam diri di rumah, mencegah munculnya kerumunan massa agar penyebaran virus dapat dikendalikan, tak terkecuali mereka yang terbiasa menyalurkan hasrat di ranjang berbayar. Pelanggan tak lagi datang, otomatis berimbas pada hilangnya pendapatan Roni.

"Bisa dalam beberapa malam itu enggak dapet sama sekali," ujar lelaki 40-an tahun ini seperti dilansir dari VICE.

Roni tidak punya banyak pilihan. Agar dapur rumahnya tetap mengepul, dia menjadi supir ojek di siang hari, kendati, menurutnya, "pemasukannya juga enggak seberapa."

Sektor ekonomi informal salah satu yang terpukul paling telak kebijakan swakarantina untuk mencegah penularan Covid-19. Kendati sering diabaikan ekonom, prostitusi termasuk sektor informal dengan perputaran uang besar, dan ikut terhantam resesi akibat pandemi, sehingga pelakunya nyaris semua limbung. Di masa normal, bisnis prositusi di Tanah Air pernah ditaksir bernilai hingga Rp5,5 triliun per bulan.

Masalahnya, "musuh" pekerja seks kali ini bukan ormas, Satpol PP atau aparat hukum, melainkan virus yang menular tanpa pandang profesi. "Gua, tuh, kadang parno sendiri ngelihat berita soal Covid-19. Ini kayak ngelawan musuh yang enggak kelihatan gitu, lho. Jadinya, kan, serba takut."

Kata-kata di atas meluncur dari mulut Susan*, pekerja seks yang kami temui di depan Halte Trans Jakarta Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pembawaan Susan ramah, energik, dan seringkali mengeluarkan banyolan-banyolan yang membuat siapapun sekonyong-konyong ikut tertawa. Dia masih belum sepenuhnya kehilangan harapan di tengah pandemi. "Pokoknya gua harus kelihatan cantik, ya, meski muka ketutup waktu difoto," katanya dengan nada becanda.

Susan tiba di Jakarta dari daerah sekira 2010. Mulanya, dia bekerja di bisnis karaoke. Ketika tempat bekerjanya bangkrut, Susan memutuskan banting setir jadi pekerja seks. Pertimbangannya didasarkan pada hitungan fulus jasa lendir yang besar. Terlebih, Susan sudah cukup paham dengan lahan baru yang dia geluti, berkat jejaring dari dunia karaoke.

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi Susan dalam menjalani profesi ini. Petualangannya di bisnis prostitusi kerap berujung kegetiran. Baku hantam dengan sesama pekerja seks, berkali-kali ditangkap petugas Dinas Sosial DKI, diancam begal, hingga jadi korban kekerasan oleh pelanggan yang brengsek, adalah beberapa contoh peristiwa buruk yang rutin dia hadapi.

Nyatanya wabah Covid-19 diakui Susan sebagai yang tersulit, bahkan melebihi pengalaman buruk lain yang pernah menimpanya. "Biasanya semalam bisa dapat satu atau dua pelanggan. Tapi, akhir-akhir ini sampai enggak ada pelanggan sama sekali," kata perempuan 40 tahun tersebut.

Sepinya pelanggan menguras isi dompetnya, mengingat di saat bersamaan dia tetap harus membayar kos, utang, hingga mencukupi urusan perut sehari-hari. Susan sampai menjual perhiasan pribadinya demi bertahan hidup.

"Barang-barang gua udah dijual semua. Cincin sama kalung. Itu juga cuma bisa buat [bertahan] beberapa hari aja. Selanjutnya, ya, enggak punya duit lagi," tutur anak terakhir dari tujuh bersaudara ini kepada VICE. Opsi berdagang baju via media sosial sempat diambil Susan. Namun, hasilnya tak memuaskan, karena pakaiannya jarang laku.

Salah satu saudaranya, yang tinggal di Tangerang, pernah menawarinya tinggal bersama. Tapi, Susan dengan halus menolak. Susan tak ingin merepotkan keluarga mereka. Belum lagi dirinya tinggal di zona merah wabah, sehingga potensinya membawa virus terbuka lebar.

Jalan tunggal yang Susan pilih adalah bekerja seperti biasanya. Susan percaya, di tengah situasi sekarang, "pasti ada satu-dua orang yang sange." Agar kerjanya lancar, Susan sudah membikin peraturan khusus untuk calon pelanggan.

"Pokoknya sebelum 'main', mereka mesti mandi dulu. Gua enggak mau ambil risiko. Terus, gua udah sediain hand sanitizer supaya tangannya tetep bersih. Sama satu lagi, kalau ada pelanggan yang bengek susah napas, gua enggak mau terima. Takutlah," papar Susan.

Sekali bekerja, Susan memasang tarif Rp500 ribu. Jumlah tersebut tidak seluruhnya dia bawa pulang. Sekitar Rp200 ribu dia bagi ke germo dan keperluan hotel. Total, Susan hanya mendapat Rp300 ribu per satu pelanggan. Dalam keadaan normal, angka itu tergolong cukup, setidaknya untuk Susan. Jika seminggu memperoleh, katakanlah, tujuh pelanggan saja, Susan mampu hidup tenang. Kebutuhannya tercukupi dan dia tak perlu pontang-panting cari pinjaman ke sana-sini. Masalahnya semua logika masa normal tak lagi berlaku sekarang.

Kondisi serupa turut dialami teman-teman Susan lainnya, terutama mereka yang berada di showroom, merujuk pada tempat berkumpulnya pekerja seks di luar jalanan, di bawah pengawasan langsung seorang germo. Susan bukan termasuk pekerja seks showroom. Dia mencari pelanggan di jalanan.

Mereka yang berada di showroom, biasanya, adalah pekerja seks berusia muda. Sekali bekerja, kata Susan, mereka mematok harga sekitar Rp400 ribu. Angka itu lagi-lagi bukan pendapatan bersih yang diterima anak showroom. Setelah dibagi ke berbagai pihak, seperti germo dan hotel, mereka cuma memperoleh jatah Rp150 ribu.

"Jadi kasihan banget. Kondisi gua sedikit lebih beruntung karena istilahnya gua kerja sendiri. Coba bayangin mereka yang ada di showroom. Udah dapetnya uang kecil, ditambah kondisi sekarang lagi kayak gini," jelas Susan, seraya mengisap batang rokoknya yang sudah mulai habis.

Nasib miris menimpa pekerja seks di berbagai negara. Pandemi membuat bisnis syahwat nyaris kolaps, karena sifatnya yang mengutamakan kontak tubuh. Para pekerja di dalamnya lantas dipaksa menghentikan operasionalnya, meninggalkan lubang ketidakpastian akan masa depan.

Di India, pandemi membikin ribuan pekerja seks menganggur. Sementara di Jerman, yang kegiatan prostitusinya dilegalkan pemerintah, rumah bordil tak luput kena dampak dari adanya pandemi. Hal serupa bisa kamu jumpai pula di Amerika, Jepang, sampai Belanda.

Langkah alternatif bukannya tak ada. Beberapa pekerja seks memutuskan untuk pindah ke ranah daring. Di Amerika, keputusan ini cukup dianggap realistis. Banyak dari mereka yang beralih ke situs-situs macam OnlyFans dan ManyVids agar tetap memperoleh pendapatan. Akan tetapi, jalan ke sana tak serta merta mulus. Membangun basis massa secara online perlu waktu tak sebentar. Belum lagi soal respons pasar yang cenderung tengah jenuh.

Sedangkan di Indonesia, pekerja seks yang bergerak di ruang online bakal mendapati rintangan berupa jeratan pasal yang termaktub dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Ujung-ujungnya, mereka bisa dibui. "Jadinya, kan, takut. Mau cari duit di situ online, tapi malah ditangkep dan dipenjara," tegas Susan.

Organis Non Profit di Riau, Akomodir Para Pekerja Seks Komersial.

Lia Andriyani masih ingat betul kejadian tahun lalu, tatkala kantor cabang Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) di Riau digeruduk massa. Waktu itu, orang-orang menganggap kantor OPSI sebagai sarang pekerja seks di bawah kendali seorang mafia. Langkah pembersih harus diambil, demikian pikir masyarakat setempat. Massa yang marah menangkap pengurus di dalamnya dan menggelandang mereka ke kantor polisi.

Kasus tak berlangsung lama setelah pihak Badan Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) menyatakan bahwa OPSI merupakan organisasi resmi yang memiliki keabsahan secara hukum. Massa pun akhirnya membubarkan diri.

"Itu merupakan salah satu memori kolektif buruk yang pernah kami hadapi. Kami selalu identik dengan tempat maksiat yang di dalamnya ada banyak pekerja seks," terang Lia, yang sekarang menjabat sebagai Koordinator Nasional OPSI.

OPSI merupakan organisasi nonprofit, berfokus pada isu dan advokasi pekerja seks. Organisasi ini berdiri pada 2009 dan telah punya cabang yang tersebar di 20 provinsi di Indonesia. Tujuan mereka adalah pemberdayaan pekerja seks melalui berbagai pelatihan sampai edukasi ihwal reproduksi. "LSM Lembaga Swadaya Masyaraka ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan yang prinsipnya 'dari kita, oleh kita, untuk kita.' Kita di sini mengacu pada pekerja seks," ujarnya. "Karena kalau kami enggak bersatu, siapa lagi yang peduli?"

Kerja-kerja OPSI tak dibangun mandiri. Dalam beberapa kesempatan, mereka menggandeng pihak lain seperti Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta sampai Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Tarumanagara Tangerang, demi merealisasikan "ekonomi alternatif" untuk para pekerja seks.

"Yang dimaksud 'ekonomi alternatif' di sini mencakup koperasi bersama sampai buka warung. Kalau sama Universitas Atma Jaya dan STIKES Tarumanagara, kami menyediakan kesempatan untuk para pekerja seks yang ingin belajar fotografi sampai keperawatan," ucap Lia.

Bagi Lia, para pekerja seks harus punya bekal yang mumpuni di luar pekerjaan yang mereka jalani. Ini tidak bisa dilepaskan dari faktor ketika sudah memasuki usia 30-an tahun ke atas, mereka kemungkinan besar tak lagi diminati pelanggan. "Ada fase dan masa di mana mereka enggak laku. Inilah pentingnya membekali mereka dengan kemampuan lainnya," tuturnya.

Lia mengaku bahwa menjadi pekerja seks di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Masyarakat selalu beranggapan pekerjaan ini identik dengan dosa, selain juga dinilai penuh kemewahan, atau dengan kata lain: mudah mencari uang.

"Padahal kenyataannya enggak begitu. Stigma seperti ini yang pada akhirnya membuat masyarakat kurang sensitif dengan keberadaan mereka. Akhirnya lagi muncul [aksi] persekusi dan sebagainya," tegasnya.

Tidak bisa dipungkiri persoalan stigma inilah yang lantas membuat para pekerja seks hidup dalam lingkaran setan tak berkesudahan. Tunggal Pawestri, aktivis cum peneliti yang banyak berkecimpung dalam isu perempuan, gender, dan HAM, menyatakan setiap ada pekerja seks yang hendak membangun hidup kembali, mereka bakal mendapati tantangan dari masyarakat yang masih memandang profesi yang dilakukan "tidak bermartabat."

Tunggal memberi contoh begini. Ada pekerja seks yang memutuskan berhenti dari kegiatannya. Dia lalu memilih berusaha. Tapi, mereka terkendala modal sebab pihak bank tidak bersedia kasih pinjaman. Pun ketika mereka berhasil usaha, dagangannya sering tidak laku karena orang-orang yang mengenal masa lalunya tak mau membeli. Alhasil, akibat terjepit keadaan, mereka kembali lagi ke pekerjaan semula.

"Semua karena adanya anggapan atau stigma buruk tadi. Mereka dianggap sampah masyarakat yang pekerjaannya melanggar norma dan moral. Itu melekat di diri para pekerja seks," kata peneliti yang pernah mengikuti kursus gender dan seksualitas di Leiden University ini, saat dihubungi VICE.

Gambaran yang sama diutarakan juga oleh Lia. Usai sebuah lokalisasi di Malang ditutup, pemerintah setempat menyediakan fasilitas usaha untuk para pekerja seks. Mereka dilatih membuat keripik. Namun, ketika dagangannya siap dijual, orang-orang tak bersedia membeli.

"Ada yang mengatakan, ‘Jangan beli keripik lonte [ungkapan kasar yang ditujukan pada pekerja seks]’," cerita Lia. Omongan tersebut seketika membuat mental para pekerja seks down, sehingga mendorong mereka untuk melakoni profesi lamanya.

Pandemi membuat hidup banyak orang berantakan. Mereka terpaksa kehilangan pekerjaan sekaligus pendapatan dan bersiap menyambut hari esok dengan ketidakpastian. Demi mengatasi masalah tersebut, pemerintah mengeluarkan jaring pengaman sosial (social safety net) supaya mereka yang kurang beruntung ini mampu bertahan hidup.

Wujud jaring pengaman sosial itu dapat dilihat manakala pemerintah menyalurkan sembako, Bantuan Langsung Tunai (BLT), sampai kartu prakerja kepada masyarakat yang terdampak dan rentan. Dengan uluran tangan yang ada, pemerintah ingin memastikan hidup masyarakat rentan bisa terjamin di tengah pandemi yang tak jelas kapan berakhirnya ini.

Akan tetapi, bantuan tersebut tidak menyentuh pekerja seks. Susan mengatakan sampai sekarang dia dan teman-teman satu profesinya belum menerima sama sekali bantuan apapun dari pemerintah. "Gua denger berita itu, tapi belum dapet juga," ungkapnya.

Susan tidak sendirian. Para pekerja seks yang berada di bawah koordinasi OPSI mengalami pula hal serupa. Menurut keterangan Lia, kondisi ini bisa muncul karena sistem pembagian bantuan sosial didasarkan pada faktor domisili.

"Bansos itu, kan, mekanismenya lewat Rukun Tetangga [RT]. Di DKI, mereka yang dapat bansos adalah orang-orang yang punya KTP DKI. Sementara temen-temen kami itu kebanyakan pendatang," jelas Lia.

Situasi makin pelik tatkala para pekerja seks sudah tak lagi berada dalam tempat yang terpusat semenjak pemerintah pusat menggencarkan kampanye “2019 Indonesia Bebas dari Lokalisasi.” Kebijakan yang diluncurkan Kementerian Sosial pada 2018 ini menargetkan penutupan lokalisasi di semua daerah di Indonesia. Total, sudah terdapat ratusan lokalisasi yang terlindas, baik oleh kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.

Penutupan lokalisasi, Tunggal bilang, membuat pendamping dari LSM kesusahan menghimpun data pekerja seks, sebab mereka menyebar ke banyak titik. Pengumpulan data para pekerja seks ini sebetulnya penting, karena dapat dimanfaatkan sebagai akses bagi pemerintah bila ada kebijakan bantuan sosial. Dengan kata lain, pemerintah tak perlu repot-repot mendata sejak awal dan peluang kebijakan tepat sasaran pun terbuka lebar.

Sejak awal, kebijakan penutupan lokalisasi dinilai tidak efektif menghilangkan prostitusi, sebagaimana tujuan utama yang diharap pemerintah. Penelitian yang digarap OPSI bersama Pusat Penelitian HIV & AIDS Unika Atma Jaya berjudul “Studi Kualitatif Dampak Penutupan Lokalisasi/Lokasi Transaksi Seks di Empat Kota” (2016) menyimpulkan penutupan lokalisasi tidak serta merta membuat jasa seks berbayar lenyap. Malah, praktik tersebut justru lebih sulit untuk diamati persebaran dan besarannya. Penelitian ini mengambil sampel empat lokasi: Kramat Tunggak (Jakarta), Saritem (Bandung), Dolly (Surabaya), dan Tanjung Elmo (Sentani).

Selain itu, penutupan lokalisasi membikin upaya penanggulangan HIV-AIDS, mengutip hasil riset, "menjadi lumpuh." Pasalnya, selama ini, LSM menggunakan pendekatan berbasis lokasi untuk penyuluhan program HIV-AIDS. Dengan ditutupnya lokalisasi, maka mereka kesulitan melakukan program seperti pembagian kondom sampai komunikasi perubahan perilaku sebab para pekerja seks tak lagi terpusat. Konsekuensi buruknya: HIV-AIDS jadi sulit dikendalikan.

Tak kalah penting, dengan tersebarnya para pekerja seks, ini membuka lebar ruang kriminalisasi. Aparat akan begitu mudah menangkapi para pekerja seks yang tengah beroperasi di pinggir jalan atau kawasan lainnya di luar lokalisasi. Dalihnya "mengganggu ketertiban umum" atau "meresahkan masyarakat."

Sepenuturan Lia, pandemi dapat dibilang berandil dalam membuat hidup para pekerja seks makin susah. Dia tak heran bila pada akhirnya banyak dari mereka menjual barang berharga yang dimiliki agar mampu bertahan hidup. Namun, Lia menegaskan bahwa aksi gadai itu bersifat jangka pendek dan tak bisa menjamin nasib mereka di waktu mendatang.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:vive.com
Kategori:DKI Jakarta, Ekonomi, Peristiwa, Umum

wwwwww