Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
20 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
24 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
3
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
20 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
4
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
19 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
5
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
19 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
6
Stefan Jevtoski Sebut Catatan Clean Sheet Beruntun Bukti PSM Berprogras
Sepakbola
24 jam yang lalu
Stefan Jevtoski Sebut Catatan Clean Sheet Beruntun Bukti PSM Berprogras
Home  /  Berita  /  Kriminal

BRI Lebih Baik, Menkeu Ditantang Buka Dokumen Syarat Utang World Bank dan ADB

BRI Lebih Baik, Menkeu Ditantang Buka Dokumen Syarat Utang World Bank dan ADB
Bank Rakyat Indonesia (BRI). (Ilustrasi: Ist./ROL)
Selasa, 19 Mei 2020 13:38 WIB
JAKARTA - Bank Rakyat Indonesia (BRI) mendapatkan global bond dari 13 Bank asing dengan total sebesar USD 1 miliar. Rerata global bond tersebut berbunga lebih rendah dari terbitan pemerintah, dengan selisih sekira 2 persen.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan dalam pernyataan tertulis yang diterima GoNews.co, Selasa (19/5/2020), menilai apa yang dilakukan BRI patut berbuah pertanyaan kepada Pemerintah, "Kalau BRI bisa dapat bunga rendah, kenapa menteri terbaik sedunia (Menkeu RI, Sri Mulyani, Red) tidak bisa?".

Seperti diketahui, ada tiga jenis surat utang yang sudah diterbitkan pemerintah. Pertama, Surat Berharga Negara (SBN) Seri RI1030 dengan tenor 10,5 tahun yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2030 diterbitkan sebesar 1,65 miliar dolar AS dengan yield global/kupon sebesar 3,9 persen.

Kedua, Seri RI1050 dengan tenor 30,5 tahun atau jatuh tempo 15 Oktober 2050. Nominal yang diterbitkan juga 1,65 miliar dolar AS dengan yield/kupon 4,25 persen. Dan ketiga, Seri RI0470 dengan tenor 50 tahun, jatuh tempo 15 April tahun 2070 sebesar 1 miliar dolar AS dengan tingkat yield/kupon 4,5 persen. SBN yang ketiga adalah seri baru yang belum pernah diterbitkan sebelumnya.

"Bisa dibandingkan selisih bunga utang BRI dengan global bond pemerintah," ujar Heri.

Di sini, kata Heri, "Menkeu Sri Mulyani harusnya malu. Betapa tidak? Ia mendapatkan utang dari konsorsium bank (World Bank dan ADB) dengan bunga tinggi dan syarat mencekik,".

Heri juga mencontohkan bank himbara yang mendapatkan utang dengan tenor lima tahun. Sementara pemerintah 10 tahun. "Itu artinya pemberi utang lebih percaya pada bank himbara. Pinjaman ini tentunya tanpa syarat, hanya syarat nya mampu membayar utang tepat waktu. Sementara pinjaman konsorsium bank itu apakah fleksibel digunakan di APBN kecuali ikut program kreditor yang dimasukkan ke APBN?".

Mestinya, kata Heri, yield SBN bisa lebih murah, tapi ternyata yield Indonesia masih paling tinggi se-ASEAN. "Itu berarti Menkeu Sri Mulyani cari utang dengan bunga tinggi. Sikap Sri Mulyani akhirnya dipertanyakan. Apakah dia berani membuka dokumen persyaratan utang yang Ia peroleh dari World Bank dan (Asian Development Bank (ADB)".

"Sebaliknya, kita patut acungi jempol buat BRI dan bank himbara kita yang mampu mencari pinjaman dengan bunga rendah," tutup Heri.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Kriminal, Nasional, Ekonomi
wwwwww