Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
43 Persen Serangan Siber Sasar UMKM, BSSN Beri Pedoman Proteksi
Umum
20 jam yang lalu
43 Persen Serangan Siber Sasar UMKM, BSSN Beri Pedoman Proteksi
2
Ungkap Korupsi Dana Covid19, KPK: Hanya Persoalan Waktu bagi Kami
DPR RI
15 jam yang lalu
Ungkap Korupsi Dana Covid19, KPK: Hanya Persoalan Waktu bagi Kami
3
Klaster Baru Covid-19 di Gontor 2, Gus Jazil: Harusnya Rapid Test Santri Digaritaskan
MPR RI
14 jam yang lalu
Klaster Baru Covid-19 di Gontor 2, Gus Jazil: Harusnya Rapid Test Santri Digaritaskan
4
Timnas U 16 Indonesia Sudah Terbiasa Latihan dengan Protokol Kesehatan
Sepakbola
16 jam yang lalu
Timnas U 16 Indonesia Sudah Terbiasa Latihan dengan Protokol Kesehatan
5
Kuasa Hukum Wahyu Setiawan Desak KPK Hadirkan Gubernur Papua Barat ke Persidangan
Hukum
14 jam yang lalu
Kuasa Hukum Wahyu Setiawan Desak KPK Hadirkan Gubernur Papua Barat ke Persidangan
6
Istana Nyatakan Pentingnya Digitalisasi Pers dan Penyiaran
Pemerintahan
15 jam yang lalu
Istana Nyatakan Pentingnya Digitalisasi Pers dan Penyiaran
Home  /  Berita  /  Politik

Curhat ke DPD RI, Mayoritas Orangtua di Kelapa Nunggal Ingin Anaknya Sekolah Tatap Muka

Curhat ke DPD RI, Mayoritas Orangtua di Kelapa Nunggal Ingin Anaknya Sekolah Tatap Muka
Wakil Ketua dan Anggota DPD RI saat berdialog dengan tenaga pendidik di Kelapa Manunggal, Bogor Jawa Barat. (GoNews.co)
Selasa, 02 Juni 2020 18:05 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BOGOR - Berbeda dengan di Jakarta, hampir seluruh perwakilan orangtua wali murid dan tenaga pengajar di Kelapa Nunggal, Bogor, Jawa Barat, setuju pemerintah berlakukan New Normal.

Bahkan, rata-rata orangtua Wali Murid meminta sekolah sistem online ditiadakan. "Kami ingin sekolah tatap muka dibuka kembali. Anak-anak kami sangat merindukan sekolah," curhat salahsatu orangtua kepada rombongan Anggota DPD RI yang dipimpin Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono di Tiara School 2, Kelapa Nunggal, Bogor, Jawa Barat, Selasa (2/6/2020).

Hal lain yang disampaikan para tenaga pendidik, adalah keterbatasan jumlah guru jika sekolah dilaksanakan menggunakan Protokol Kesehatan. "Kalau diterapkan sistem jaga jarak, kemungkinan sistem belajar mengajar bisa jadi dua shift. Kendalanya kita masih kekurangan guru. Kalau dipaksakan ya minimal ada kebijakan untuk honor tambahan pak," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono mengaku akan menampung aspirasi mereka. "Yang pertama kita mau tahu dulu kondisi di sini seperti apa. Kemudian nanti kita tampung semua aspirasi mereka, dan akan kita bahas di rapat Komite yang membidangi Pendidikan," ujar Nono.

Masih kata Nono, wilayah Kelapa Nunggal dan Jonggol adalah lokasi zona hijau dari penyebaran Covid-19. Artinya kata Dia, jika sekolah kembali dibuka dengan sistem tatap muka tidak ada masalah. "Yang penting tetap melakukan kegiatan belajar mengajar dengan mematuhi protokol kesehatan," tandasnya.

"Tadi para guru dan Orangtua murid sangat antusias sekali jika sekolah bisa dilaksanakan normal seperti biasa," tambahnya.

Sementara itu, Senator asal DKI Jakarta, Syilvia Murni mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk memastikan kapan sekolah akan dibuka kembali. "Kemendikbud sendiri belum memberikan keputusan, kapan waktu pastinya sekolah akan dibuka," tandasnya.

Namun demikian kata Dia, Kemendikbud sudah memastikan keselamatan anak didik akan menjadi prioritas sebelum memutuskan kapan sekolah akan dibuka.

Ia menjelaskan, pemerintah tak ingin terburu-buru membuat keputusan karena harus mempertimbangkan aspek keselamatan siswa. "Karena pemerintah saat ini harus mepertimbangkan soal kesehatan dan keselamatan anak-anak. Itu yang menjadi dasar pertimbangan utama Pemerintah," ujarnya.

Senada dengan Syliviana, Anggota DPD RI, Fahira Idris meminta Pemerintah untuk benar-benar mempertimbangkan keselamatan anak didik.

"Untuk pembukaan sekolah, saya sangat memohon kepada semua para pengambil kebijakan untuk benar-benar memikirkan secara matang. Selama penyebaran virus ini belum bisa kita kendalikan jangan coba-coba membuka kembali aktivitas belajar di sekolah. Risikonya terlalu besar dan dikhawatirkan membuat kerja keras kita menanggulangi Covid-19 akan semakin berat," urainya.

Menurut Fahira, selain faktor keamanan dan kondusifitas, faktor psikologis dan kesiapan orang tua dan siswa juga perlu menjadi perhatian sebelum sekolah di buka.

Selama masa penanggulangan Covid-19 yang sudah berlangsung hampir tiga bulan ini, semua lapisan masyarakat mengalami dampak ekonomi serius terutama masyarakat berpenghasilan rendah.

Bagi orang tua yang anaknya tahun ini naik jenjang pendidikan dari TK ke SD, atau SD ke SMP dan SMP ke SMA/SMK tentunya harus menyiapkan banyak hal dan itu tidak mudah dilakukan di tengah pandemi yang masih berlangsung. Kondisi-kondisi seperti ini tentu berpengaruh kepada faktor psikologis orang tua dan siswa.

Jika pun nanti kondisi sudah benar-benar aman, kondusif dan transmisi Covid-19 sudah dapat dikendalikan, lanjut Fahira, harus ada prakondisi dan jeda waktu bagi orang tua, siswa, guru, dan sekolah untuk bersiap kembali ke sekolah.

Prakondisi ini penting sebagai tahapan pemulihan bagi kita semua agar siap terutama secara ekonomi dan psikologis menjalani kehidupan baru yang tidak sepenuhnya normal (new normal) seperti sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

Menurutnya, selama vaksin belum ditemukan dan didistribusikan secara merata, maka kehidupan kita tidak akan pernah normal kembali seperti sebelum pandemi ini datang.

"Jadi walaupun nanti kondisi sudah aman karena transmisi virus dapat dikendalikan, sekolah belum bisa langsung dibuka begitu saja. Selain harus menyiapkan berbagai protokol kesehatan yang ketat, kita semua, terlebih anak-anak kita dan sekolah harus diberi waktu untuk mempersiapkan diri memulai kembali aktivitas belajar mengajar," pungkasnya.***


wwwwww