Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
Pemerintahan
22 jam yang lalu
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
2
RUU HIP Bergejolak, PDIP Copot Rieke Diah dari Pimpinan Baleg DPR RI
Politik
23 jam yang lalu
RUU HIP Bergejolak, PDIP Copot Rieke Diah dari Pimpinan Baleg DPR RI
3
Guru Besar UGM Sebut Nadiem Lebih Cocok jadi Dirjen Ketimbang Menteri
Pendidikan
23 jam yang lalu
Guru Besar UGM Sebut Nadiem Lebih Cocok jadi Dirjen Ketimbang Menteri
4
Misbakhun Dorong Efektivitas Ratusan Triliun Subsidi Energi
DPR RI
12 jam yang lalu
Misbakhun Dorong Efektivitas Ratusan Triliun Subsidi Energi
5
KAI Butuh Dana Talangan, Legislator Dorong Kreativitas Bisnis
DPR RI
12 jam yang lalu
KAI Butuh Dana Talangan, Legislator Dorong Kreativitas Bisnis
6
NJOP Tinggi dan Memberatkan, Legislator Lirik Insentif sebagai Solusi
DPR RI
12 jam yang lalu
NJOP Tinggi dan Memberatkan, Legislator Lirik Insentif sebagai Solusi
Home  /  Berita  /  Politik

Usulan Salat Jumat Diatur Berdasarkan Nomor Ponsel, Jazilul Fawaid: Jangan Persulit Umat Beribadah

Usulan Salat Jumat Diatur Berdasarkan Nomor Ponsel, Jazilul Fawaid: Jangan Persulit Umat Beribadah
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. (dok. Humas MPR)
Kamis, 18 Juni 2020 20:10 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Usulan menerapkan Salat Jumat dengan sistem bergilir, dua gelombang, atau dengan sistem ganjil genap dari nomer ponsel jamaah, ditolak oleh Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid.

"Saya tidak setuju usulan itu," ujarnya, Kamis (18/06/2020) di Jakarta.

Menurut politisi PKB itu, ibadah Salat Jumat harus dalam keadaan khusyu' dan menyenangkan, sehingga ibadah wajib bagi umat Islam itu tidak dipersulit. Istilah salat Jumat bergilir, ganjil genap, dua gelombang, atau Jum'atan New Normal menurutnya tidak ada.

Menurut pria yang menjadi Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu, menjalankan Salat Jumat, harus yakin dan mantap. "Kalau sudah merasa yakin aman, ya sudah dibuka saja. Jangan setengah-tengah," tambahnya.

Usulan salat jumat dengan sistem ganjil genap, menurut pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, justeru akan mempersulit umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah. "Setahu saya agama itu mudah, 'addinu yusrun'," paparnya.

Dirinya setuju dengan protokol kesehatan dalam pelaksanaan Salat Jumat, namun mengacu pada protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Ia tidak sepakat dengan protokol kesehatan yang diusulkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Sebelumnya, DMI mengeluarkan SE Nomor 105-Khusus/PP-DMI/A/VI/2020 tertanggal Selasa 16 Juni 2020. Dalam surat edaran itu berisi tata cara salat Jumat yang dibuat dua gelombang dengan aturan ganjil-genap yang didasarkan pada nomor handphone jamaah.

Dalam surat edaran yang ditandatangani oleh Ketua Umum DMI Jusuf Kalla dan Sekjen DMI Imam Addaraqutni itu merincikan, apabila hari Jumat bertepatan dengan tanggal ganjil maka jamaah yang memiliki nomor handphone berakhiran ganjil melaksanakan Sholat Jumat gelombang pertama.

Sedangkan jamaah yang memiliki nomer handphone genap, mendapat kesempatan Salat Jumat gelombang kedua. Begitu sebaliknya.***


wwwwww