Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
Pemerintahan
24 jam yang lalu
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
2
Misbakhun Dorong Efektivitas Ratusan Triliun Subsidi Energi
DPR RI
14 jam yang lalu
Misbakhun Dorong Efektivitas Ratusan Triliun Subsidi Energi
3
KAI Butuh Dana Talangan, Legislator Dorong Kreativitas Bisnis
DPR RI
14 jam yang lalu
KAI Butuh Dana Talangan, Legislator Dorong Kreativitas Bisnis
4
DPR Tegaskan Pentingnya Penyelamatan UMKM Segera
DPR RI
13 jam yang lalu
DPR Tegaskan Pentingnya Penyelamatan UMKM Segera
5
NJOP Tinggi dan Memberatkan, Legislator Lirik Insentif sebagai Solusi
DPR RI
13 jam yang lalu
NJOP Tinggi dan Memberatkan, Legislator Lirik Insentif sebagai Solusi
6
Siapkan Rp2,6 Triliun untuk Pesantren, Gus Jazil: Aspirasi Kita Didengar dan Direspon Presiden Jokowi
MPR RI
23 jam yang lalu
Siapkan Rp2,6 Triliun untuk Pesantren, Gus Jazil: Aspirasi Kita Didengar dan Direspon Presiden Jokowi
Home  /  Berita  /  Politik

Anis Matta: Ada Tiga Fitur Manusia Indonesia dalam Menghadapi Krisis

Anis Matta: Ada Tiga Fitur Manusia Indonesia dalam Menghadapi Krisis
Sabtu, 20 Juni 2020 14:51 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Dalam dua dekade terakhir pasca reformasi, bangsa Indonesia sepertinya belum bisa bergerak maju memanfaatkan potensi sumberdaya yang dimiliki.

Bangsa Indonesia juga terlihat sibuk dengan 'pekerjaan rumahnya' sendiri, sehingga lupa untuk melihat ke dunia luar yang sedang menuju pembentukan keseimbangan baru.

"Energi bangsa ini terserap oleh bermacam-macam konflik yang tidak perlu, dan justru menciptakan pembelahan dan polarisasi masyarakat, yang membuat kekuatan kita sebagai suatu bangsa melemah," kata Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Muhammad Anis Matta dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2020).

Menurut Anis, untuk bergerak maju diperlukan tiga fitur utama dalam masyarakat Indonesia agar tercipta daya dorong yang kuat bagi kemajuan bangsa ini, yaitu efektif, inovatif dan kolaboratif.

Saat ini, lanjutnya, energi bangsa Indonesia terlalu banyak dihabiskan untuk konflik internal dan sosial di masyarakat, sehingga tidak efektif.

Karena itu, diperlukan menumbuhkan kembali semangat persaudaraan, mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin berjiwa besar yang mampu menginspirasi bangsanya untuk bergerak, bukan dengan kekuatan pemaksa dan otoritas.

"Jadi kita perlu menumbuhkan lahirnya masyarakat efektif dengan menciptakan kembali 'energi sosial' yang akan menjadi tenaga penggerak bangsa ini untuk maju," terang Anis.

Sedangkan mengenai inovatif, Anis menilai inovasi tidak selalu kaitannya dengan temuan-temuan ilmiah dalam dunia sains, tapi juga metode-metode baru dalam memecahkan persoalan masyarakat.

"Kita perlu mendorong lahirnya masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Sebuah masyarakat yang ditandai dengan pemerataan pendidikan tinggi dan pemanfaatan pengetahuan serta inovasi sebagai faktor utama dalam penciptaan kemakmuran, mendahului faktor produksi klasik lainnya," ujar Anis.

Penyuka buku karya Soekarno-Hatta ini berharap individu dan komunitas bisa saja mendorong terwujudnya masyarakat berpengetahuan di Indonesia. Namun, untuk mewujudkannya dalam skala yang lebih luas dan waktu yang relatif lebih singkat, kebijakan pemerintah akan jauh lebih berpengaruh.

"Kebijakan yang terencana dengan dukungan anggaran yang lebih pasti, akan membuat proses pencapaian tujuan dapat dilakukan dengan lebih efektif," ungkapnya

Sementara terkait kolaboratif, Anis menegaskan, persoalan bangsa ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh otak satu orang. Juga terlalu rumit untuk diselesaikan oleh pikiran satu orang. Oleh karena itu kata dia, dibutuhkan semangat kolaborasi sesama anak bangsa.

"Kita tidak perlu menunggu seorang 'superman' atau seorang juru selamat untuk datang menyelesaikan persoalan-persoalan kita," tegas Ketua Umum Partai Gelora Indonesia ini.

Bangsa ini, imbuh dia, memiliki otak-otak cerdas dan bakat-bakat hebat yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

"Lihat saja prestasi-prestasi luar biasa pelajar-pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mengikuti kompetisi-kompetisi global, tidak kalah dari negara-negara maju," ujarnya.

Anis berpandangan yang belum dilakukan bangsa ini adalah mempertemukan otak dan bakat-bakat hebat ini dalam semangat kolaborasi untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Potensi-potensi berserakan ini perlu diwadahi oleh negara, dengan menyediakan ruang-ruang kolaborasi dan penghargaan terhadap kontribusi serta karya-karya mereka.

"Dengan hadirnya masyarakat yang efektif, inovatif dan kolaboratif, maka kita telah menciptakan suatu budaya baru pada bangsa kita. Budaya yang menjadi modal besar bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi negara maju, melengkapi modal bonus demografi dan kekayaan alam. Maka, mimpi untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia akan sangat mungkin terwujud di masa depan," pungkasnya.***


wwwwww