Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
Pemerintahan
15 jam yang lalu
1,6 Juta ASN Akan Dipecat, Tjahjo Sebut Tak Ada Hubungannya dengan Corona
2
RUU HIP Bergejolak, PDIP Copot Rieke Diah dari Pimpinan Baleg DPR RI
Politik
16 jam yang lalu
RUU HIP Bergejolak, PDIP Copot Rieke Diah dari Pimpinan Baleg DPR RI
3
Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Dikebut, Lukman Edy Mengaku Siap Laksanakan Perintah Presiden
Pemerintahan
18 jam yang lalu
Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Dikebut, Lukman Edy Mengaku Siap Laksanakan Perintah Presiden
4
Guru Besar UGM Sebut Nadiem Lebih Cocok jadi Dirjen Ketimbang Menteri
Pendidikan
16 jam yang lalu
Guru Besar UGM Sebut Nadiem Lebih Cocok jadi Dirjen Ketimbang Menteri
5
Mantan Pemred Tempo Angkat Bicara Soal Isu Terima Duit KKP
Pemerintahan
19 jam yang lalu
Mantan Pemred Tempo Angkat Bicara Soal Isu Terima Duit KKP
6
Gus Jazil Apresiasi Kebijakan Kemenag dalam Penanggulangan Covid-19 di Madrasah
Politik
18 jam yang lalu
Gus Jazil Apresiasi Kebijakan Kemenag dalam Penanggulangan Covid-19 di Madrasah
Home  /  Berita  /  Nasional

Santri Bayar Rapid Test Rp400.000/Orang, KH Cholil: Ke Mana Uang Kita 667 Triliun Itu?

Santri Bayar Rapid Test Rp400.000/Orang, KH Cholil: Ke Mana Uang Kita 667 Triliun Itu?
KH Cholil Nafis. (kumparan)
Minggu, 21 Juni 2020 22:23 WIB
JAKARTA - Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp695,2 triliun untuk penanggulangan Covid-19 di Tanah Air.

Dikutip dari Sindonews.com, mulanya pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp405,1 triliun pada Mei 2020 . Kemudian, tiba- tiba angkanya naik menjadi Rp641,1 triliun.

Tidak berselang lama, anggaran penanganan Covid-19 naik lagi sebesar Rp677,2 triliun. Akhirnya, membengkak lagi, hingga menjadi Rp695,2 triliun.

Dari total anggaran penanganan Covid-19 tersebut, Rp87,55 triliun dialokasikan untuk anggaran kesehatan. Anehnya, meski anggaran untuk kesehatan sangat besar, namun masyarakat tetap harus membayar bila melakukan rapid test.

Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia yang juga Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat KH Cholil Nafis. Kiai Cholil turut mengkritisi biaya rapid test yang dibebankan kepada masyarakat, khususnya terhadap para santri yang akan kembali ke pondok pesantren (ponpes).

Kritik Kiai Cholil ini diungkapkan dalam Twitter pribadinya @cholilnafis. Dalam cuitannya, Kiai Cholil mempersoalkan alokasi anggaran negara yang terus naik untuk penanganan Covid-19. Namun, hanya untuk rapid test para santri saja, masih dipungut bayaran. Para santri itu diharuskan membayar Rp400.000 per orang saat rapid test di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

''Kemana ya, uang 405 T yg skrng naik 667 T. Ini anak2 santri mau balik ke pesantren harus rapit tes masih bayar. Lah anak saya minggu lalu mau ke malang utk lulusan sekolahnya di Airport Halim harus rapid tes Bayar 400 rb. Bener nihh serius nanya kemana uang kita sebanyak itu ya?,'' begitu cuitan Kiai Cholil.

Cuitan Kiai Cholil pun ditanggapi beragam. Salah satunya Faridism melalui akun @faridism yang juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mengaku, anaknya juga diminta mengikuti rapid test dengan biaya Rp250.000. ''Kami kirim anak kami ke ponorogo. Rapid test bayar 250rb yai,'' ungkap Faridism.

Padahal, rapid test itu hanya berlaku selama 3 hari. Untuk rapid test tahap 3 juga sama berlaku untuk masa 7 hari. Dengan besarnya biaya ini, maka tidak mengherankan jika nantinya jual beli surat bebas Covid-19 akan marak kembali.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Umum, Nasional

wwwwww