Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Pemerintahan
18 jam yang lalu
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
2
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
Kesehatan
4 jam yang lalu
Soal Kalung Corona Kementan, Ahli Epidemologi: Kecap dan Cuka juga Bisa Bunuh Virus, Tapi Jangan Sembarang Klaim
3
New Normal, MPR Kembali Gelar Pentas Seni Budaya Sunda dan Kuliner Lokal di 'Kota Hujan'
MPR RI
4 jam yang lalu
New Normal, MPR Kembali Gelar Pentas Seni Budaya Sunda dan Kuliner Lokal di Kota Hujan
4
Sore Ini, Gus Jazil Jemput PMI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta
Politik
5 jam yang lalu
Sore Ini, Gus Jazil Jemput PMI Bebas dari Hukuman Mati di Bandara Soetta
5
Tak Setuju Dibubarkan, Wakil Ketua MPR RI: OJK Perlu Direformasi
Ekonomi
4 jam yang lalu
Tak Setuju Dibubarkan, Wakil Ketua MPR RI: OJK Perlu Direformasi
6
Fraksi PAN minta Kalung Anticorona Diteliti
Kesehatan
5 jam yang lalu
Fraksi PAN minta Kalung Anticorona Diteliti
Home  /  Berita  /  Olahraga
Kisah Pilu Pelatih Angkat Besi

Lukman, Terbuang ke Malaysia Hingga Thailand

Lukman, Terbuang ke Malaysia Hingga Thailand
Lukman di Chiang Mai. (Dok Pribadi)
Jum'at, 26 Juni 2020 23:46 WIB
Penulis: Azhari Nasution

TIDAK seperti pelatih angkat besi Yon Haryono yang namanya tak muncul di permukaan sebagai penemu Eko Yuli Irawan dan Triyatno. Tetapi, Lukman yang berjaya mengantarkan kesuksesan lifter Indonsia meraih medali dari mulai Olimpiade Sydney 2000 hingga Olimpiade London 2012 pun tenggelam tatkala sudah tidak lagi menangani Tim Nasional Angkat Besi Indonesia.

Padahal, pria kelahiran Lampung, 7 Juli 1966 ini sangat berperan terhadap kesuksesan lifter Lisa Rumbewas, Eko Yuli Irawan maupun Triyatno dalam meraih sukses di Olimpiade.

Kesuksesan tersebut diawali Lisa meraih perak Olimpiade Sydney 2000, lalu medalli yang sama pada Olimpiade Athena 2004 dan Olimpiade Beijing 2008. Kemudian, lewat sentuhan Lukman juga Eko muncul meraih perunggu di Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012 serta Triyatno yang meraih perunggu di Olimpiade Beijig 2008 dan perak di Olimpiade London 2012.

Lukman yang selalu menjadi langganan pelatih Timnas Angkat Besi Indonesia mulai tersingkir setelah Olimpiade London 2012. Saat itu, dia sedang mempersiapkan lifter Indonesia yang akan menghadapi Asian Games Incheon, Korea Selatan 2014. Kesalahan Lukman hanya mengizinkan lifter Malaysia menjalani latihan bersama tanpa meminta izin dari PB PABBSI.

'"Saya akui kesalahan mengizinkan lifter Malaysia berlatih bersama Timnas Angkat Besi Indonesia tanpa melapor ke PB PABBSI. Saat itu, saya pikir hanya biasa karena lifter Malaysia juga sering berlatih di Indonesia bersama dengan lifter daerah di Bekasi. Tetapi, saya tidak diberikan kesempatan untuk mengklarifikasinya dan langsung saja diberikan sanksi tegas tak boleh lagi terlibat menangani tim angkat besi nasional maupun daerah. Semua itu terjadi karena ada yang menjelek-jelekkan saya dengan tujuan ingin menggantikan posisi saya," kata Lukman yang dihubungi melalui telepon WhatsApp, Kamis (25/6/2020) malam.

Sanksi itu secara otomatis sangat memukul perasaan Lukman. Dia merasa perjuanganya selama ini menjadikan lifter meraih prestasi di Olimpiade tidak dianggap. "Hanya karena kesalahan kecil langsung disingkirkan tanpa diberikan kesempatan membela diri. Saat itu, saya benar-benar terpukul apalagi anak-anak masih berharap saya tetap bersama mereka yang sudah saya anggap sebagai keluarga," kenangnya.

Usai tak lagi menangani Timnas Angkat Besi Indonesia, Lukman mendapat tawaran untuk menangani Tim Angkat Besi Malaysia. Dia dikontrak Negeri Jiran itu dari Juli 2014 hingga Desember 2016.

"Saya tidak punya keahlian apa-apa dan tidak punya usaha apapun. Saya hanya menggantungkan hidup dari melatih makanya saya terima tawaran Malaysia," ungkapnya.

Bersama Eko dan Triyatno (foto Tribunews.com)

Selepas dari Malaysia, pelatih yang mengantongi sertifikat International Coaching Course (ICC) mencoba untuk mengajukan diri menjadi pelatih Timnas Angkat Besi Indonesia. Namun, upaya untuk kembali mengabdi kepada negeri tercinta Indonesia tidak terwujud. Usai Asian Games Jakarta-Palembang 2018, dia kembali mendapat tawaran untuk menangani Timnas Angkat Besi Thailand.

"Saat ini, saya menangani Timnas Angkat Besi Thailand yang berlatih di Chiang Mai. Saya mempersiapkah lifter-lifter potensial yang bakal diturunkan pada event-event internasional setelah pencabutan sanksi dari IWF akibat ada lifter THailand yang terbukti menggunakan doping," jelasnya.

Mengingat Malaysia masih membutuhkan pelatih, Lukman mengaku mengusulkan Yon Haryono untuk menggantikan posisinya. Tujuannya, memberikan kesempatan Yon yang sudah tidak bekerja berkarir di dunia kepelatihan dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

"Saya meminta Yon Haryono melatih di Malaysia karena saya nilai pelatih berkualitas hanya saja tak mendapat kesempatan menangani Timnas Angkat Besi Indonesia. Dan, saya juga ingin membantu Yon yang sudah tidak punya pekerjaan tetap dan biaya pendidikan anak-anaknya. Sekarang, saya bangga karena Yon mampu membuktikan kemampuannya dan sukses melatih lifter muda Malaysia, Mohammad Aniq, meraih tiga medali emas pada The 2nd Indonesia International Weightlifting Championships di Semarang, Jawa Tengah 2019," tandasnya.

Lukman bersama lifter Thailand. (Dok Pribadi)

Lukman dan Yon Haryono sudah bekerja sama dalam membangun prestasi liifter Indonesia. Saat Yon membawa Eko Yuli Irawan, Triyatno dan lain-lainnya untuk menjalani TC di Parung Panjang Bogor tahun 20023, Lukman ditunjuk Ketua Umum PB PABBSI, Dharma Surya sebagai penanggung jawab.

"Saya ditugaskan menyiapkan program latihan bersama Yon dan Joni Firdaus. Jadi, kita memang sudah lama dalam satu tim yang solid. Berkat bantuan fasilitas yang memadai, kami akhirnya bisa sukses membina Eko dan Triyatno," ungkapnya.

Eko dan Triyatno kemudian jadi bintang dan andalan Indonesia. Baik pada ajang multi event maupun single event internaasional. "Bagaimanapun juga kita tidak bisa melupakan peran pak Dharma Surya dalam mengangkat prestasi angkat besi Indonesia. Saya tegaskan sekali lagi tanpa peran beliau tidak ada Eko Yuli Irawan dan Triyatno yang meraih prestasi di Olimpiade," tegasnya.

Lantas apa harapannya kepada Menpora Zainudin Amali untuk cabang angkat besi Indonesia ke depan? "Sudah saatnya pak Menpora, Zainudin Amali memberikan perhatian khusus terhadap cabang angkat besi yang tidak berhenti menyumbangkan medali dari Olimpiade Sydney 2000 hingga Olimpiade London 2012. Paling tidak, kita harus memiliki fasilitas tempat latihan yang memadai milik sendiri seperti Padepokan Bulutangkis Indonesia milik PB PBSI," ujarnya.

"Yang paling penting lagi, baik Kemenepora dan PB PABBSI memberikan penghargaan terhadap pelatih-pelatih yang mencetak atlet berkualitas. Mereka harus dipicu untuk bisa mencetak pengganti Eko, Triyatno, Lisa dan lain-lainnya. Dan, mereka juga diberikan kesempatan untuk mengikuti kursis kepelatihan di luar negeri. Ke depan, saya yakin cabang angkat besi bisa mempertahankan tradisi menjadi penyumbang medali emas bagi Kontingen Indonesia pada setiap pelaksanaan Olimpiade," tambahnya. ***

(Penulis : Azhari Nasution (Wartawan Gonews.co Group) 


wwwwww