Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
Pemerintahan
14 jam yang lalu
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
2
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
Kesehatan
14 jam yang lalu
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
3
Kontroversi Kalung Anti Virus Corona, Antara Obat dan Ajian Jimat
Pemerintahan
14 jam yang lalu
Kontroversi Kalung Anti Virus Corona, Antara Obat dan Ajian Jimat
4
Gus Jazil Minta Pemerintah Selamatkan Lembaga Pendidikan Swasta
Pendidikan
15 jam yang lalu
Gus Jazil Minta Pemerintah Selamatkan Lembaga Pendidikan Swasta
5
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Pemerintahan
3 jam yang lalu
KUR UMKM Penyelamatan Ekonomi Nasional Berperan Penting Saat Pandemi Covid-19
Home  /  Berita  /  Olahraga
Kisah Pilu Pelatih Angkat Besi

Yon Haryono Terpaksa Mengais Rezeki di Negeri Jiran Demi Pendidikan Anak

Yon Haryono Terpaksa Mengais Rezeki di Negeri Jiran Demi Pendidikan Anak
Yon Haryono bersama lifter muda Malaysia, Muhammad Aniq
Jum'at, 26 Juni 2020 23:25 WIB
Penulis: Azhari Nasution

CABANG olahraga angkat besi memang pantas mendapat sebutan cabang olahraga prioritas dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Pasalnya, angkat besi rutin menyumbangkan medali bagi Kontingen Indonesia dari mulai Olimpiade Sydney Australia 2000 hingga Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Kejayaan angkat besi Indonesia dipelopori lifter putri pada Olimpiade Athena 2000. Saat itu, Lisa Rumbewas (kelas 48kg) meraih perak, Sri Indriyani (48kg) meraih perunggu dan Winarni (kelas 53kg) dengan medali perunggu. Kemudian, Lisa yang turun di kelas 53kg meraih perak di Olimpiade Athena 2004 dan Olimpiade Beijing 2008.

Di Olimpiade Beijing 2008, Eko Yuli Irawan yang turun di kelas 56kg putra meraih perunggu an Triyatno (kelas 62kg) juga meraih perunggu. Lalu di Olimpiade London 2012, Eko meraih perunggu kelas 62kg dan Triyatno meraih perak kelas 69kg putra. Kemudian, Olimpiade Rio de Janeiro Brasil 2016, Eko meningkatkan dari medali perunggu menjadi perak dan Sri Wahyuni yang turun 48kg putri merebut perak,

Meski sudah mengukir segudang prestasi tetapi tetap saja nasibnya sama seperti cabang olahraga lain pada umumnya. Mereka tak punya fasilitas tempat latihan dan kantor sendiri seperti halnya bulutangkis yang punya Padepokan Bulutangkis di Cipayung Jakarta Timur.
Miris memang. Untuk menjalani Trainning Camp (TC) dalam menghadapi multi event maupun single event, PB PABBSI masih menumpang di Markas Komando Marinir Jalan Kwini, Jakarta Pusat.

Cabang angkat besi memang tidak seperti cabang bulutangkis yang pada setiap event banyak dilirik sponsor. Wajar memang jika mereka mengalami kesulitan untuk mendirikan fasilitas seperti yang dimiliki Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI).

Tidak ada salahnya jika Kemenpora memberikan fasilitas terhadap cabang angka besi. Bukan hanya fasilitas, tapi Menpora Zainudin Amali juga harus memberikan penghargaan terhadap pelatih yang telah berjasa mencetak lifter yang mampu menembus Olimpiade.
Perhatin terhadap pelatih yang berjasa ini sangat penting dalam upaya memotivasi mereka untuk bisa mencetak pengganti Lisa, Eko Yuli Irawan dan Triyatno yang hingga kini belum ditemukan. 

Sebagai contoh, Yon Haryono yang namanya tidak begitu populer dibandingkan pelatih kawakan Imron Rosadi yang cukup mencetak lifter nasional. Mantan lifter nasional ini yang pertama kali menemukan Eko Yuli Irawan dan Triyatno.

"Ya Yon Haryono lah yang menemukan Eko Yuli Irawan dan Triyatno. Dan, Yon Haryono juga yang menbawa Eko dan Triyatno ke Jakarta untuk dilatih khusus," kata Sonny Kasiran, Kabid Organisasi Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI).

Ya, Sonny Kasiran memang mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Yon Haryono yang membuka Sasana Kota Metro (Komet) 25 April 2000 itu lah yang menemukan keduanya.

Perjuangannya mengembangkan olahraga angkat besi penuh tantangan. Pada awal pembukaan sasana itu, Yon Haryono, mantan lifter yang pernah berlaga di Kejuaraan Dunia dan Olimpiade Seoul, Korea Selatan 1988 sempat putus asa. Pasalnya, anak-anak yang berada di sekitar tempat tinggalnya di Desa Tejo Agung, Lampung itu lebih memilih sepakbola dari pada latihan angkat besi.

Meski demikian, buruh pabrik ini tak menyerah dalam mengembangkan olahraga angkat besi dengan bermodalkan peralatan bekas. Berbagai strategi dilakukannya agar anak-anak berminat menekuni olahraga yang membesarkan nama dan membawanya tampil di berbagai negara itu.

Dari mulai memasang foto-foto lifter bersama Presiden, Gubernur dan saat tampil di ajang even internasional di berbagai negara di Sasana Komet hingga pendekatan dengan orang tua anak asuhnya.

"Tadinya, saya sempat berhenti melatih sampai dua bulan karena anak-anak lebih tertarik bermain bola di sawah atau lapangan desa. Tetapi, saya terus merayu mereka agar mau berlatih dengan janji jika berprestasi bisa pergi gratis ke Jakarta dan luar negeri atau naik haji. Dan, saya juga menunjukkan foto-foto lifter angkat besi yang dimuat di berbagai media cetak bersama Presiden, Gubernur dan lain-lainnya," cerita Yon Haryono.

"Saya juga suka datang ke rumah orang tua anak-anak yang saya anggap berbakat untuk menjelaskan olahraga angkat besi cukup menjanjikan masa depan termasuk latihan angkat besi bukan penyebab tubuh menjadi pendek. Semua ini, saya lakukan agar orang tuanya memberikan dukungan dan mendorong anaknya tetap giat berlatih," tambahnya.

Istri dan ketiga anaknya. (dok Pribadi) 

Cerita tentang Eko  

Berbicara tentang Eko Yuli Irawan, Yon Haryono menyebut adalah anak tetangga yang rumahnya 400 meter dari kediamannya. Saat itu, Eko yang berusia 11 tahun duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. "Eko itu tetangga saya dari rumah 400 meter, mulai latihan tahun 2000. Setiap minggu, saya keluarkan uang Rp10 ribu buat Eko agar tetap rajin latihan," kenangnya.

Yon sengaja memberikan uang tersebut karena menilai Eko cukup berbakat menjadi lifter. Hal ini diperkuat dengan postur/anamoti Eko bagus. "Eko itu sangat ideal jadi lifter karena jari-jari tangannya agak panjang dan besar. Ditambah lagi dengan postur ibunya yang yang berbadan pendek dengan tulang besar. Itu lah yang membuat saya yakin Eko bakal jadi juara jika dibina dengan baik. Ibarat orang China bilang wajahnya Eko banyak rezeki alias wajah hoki," tandasnya.

Perjuangan Yon Haryono selama dua tahun melatih memang tidak sia-sia. Eko Yuli Irawan, Triyatno, Titin Lestari dan lain-lain mampu meraih medali emas pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi di Indramayu, Jawa Barat 2002. Kemudian, mereka kembali meraih prestasi yang sama pada Kejurnas Angkat Besi di Denpasar Bali 2003.

Mengingat fasilitas Sasana Komet tidak mendukung dalam upaya meningkatkan prestasi mereka ke ajang yang lebih tinggi lagi, Yon Haryono akhirnya menerima tawaran Ketua Umum PB PABBSI, Dharma Surya untuk membawa anak asuhnya berlatih di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat pada akhir tahun 2003.

"Prestasi Eko Yuli Irawan, Triyatno dan lain-lain meningkat berkat latihan di Parung Panjang yang memiliki fasilitas peralatan cukup bagus ditambah asupan gizi yang baik dan suplemen. Jadi, saya bisa bilang bahwa pak Dharma Surya sangat berjasa menjadikan Eko dan Triyatno yang mampu meraih medali di Olimpiade," ungkapnya.

Tenyata nasib Eko Yuli Irawan dan Triyatno jauh lebih bagus. Kedua lifter yang sudah mengukir prestasi di ajang internasional berlumur bonus cukup besar. Sebaliknya, pria kelahiran Pringsewu, Lampung, 16 Febuari 1969 tetap saja terus menjadi pelatih di Sasana Komet.

"Perjuangan jadi pelatih di Metro Lampung itu sangat berat sekali. Dan, saya yakin nggak ada pelatih yang sanggup nggak dibayar puluhan tahun. Silahkan aja di cek ke KONI Metro. Saya beruntung ketemu Eko yang sampai saat ini belum ada penggantinya," jelas suami Yati Sucipto ini.

Di tengah kebutuhan keluarga yang semakin tinggi, Yon Haryono yang bekerja sebagai buruh semakin terjepit ekonominya. Apalagi, anaknya Yolanda Haryono dan Yordan Haryono ingin kuliah di perguruan tinggi. "Saat itu, saya benar-benar kesulitan ekonomi. Gaji sebagai buruh tidak mungkin bisa membiayai mereka di perguruan tinggi," ujarnya. 

Di akhir tahun 2015 yang merupakan masalah sulit itu, Yon Haryono tidak menduga ada tawaran pelatih Lukman untuk melatih di Malaysia. Pasalnya, Lukman yang dikontrak Federasi Angkat Berat Malaysia (FABM) mendapat tawaran melatih di Thailand.

"Saya menerima tawaran Lukman itu demi memenuhi biaya kuliah kedua anak. Saat itu, saya berangkat dengan uang tabungan ke Malaysia awal Januari 2016 demi harapan bisa mewujudkan cita-cita mereka. Alhamdulillah ... berkat kerja keras dan doa keluarga, saya bisa membiayai keduanya hingga sarjana. Anak pertama sudah jadi guru SMA di Tangerang Selatan dan yang kedua bekerja di perusahaan swasta di Jakarta sedangkan anak bungsu Yosefi Surya Haryono masih sekolah di SMP," jelasnya.

Ketika ditanyakan apakah ada keinginan untuk kembali melatih di Indonesia, Yon Haryono menjawab singkat,"Belum ada niat sih balik ke Indonesia. Saya merasa lebih nyaman tetap di Malaysia karena semua kebutuhan tercukupi."

Mengenai sasana Komet yang ditinggalkannya, Yon menyebut masih terus membina lifter. Saat ini, Rio Setiawan dan Deni Kurniawan yang menjadi pelatih menangani 7 lifter. Hanya saja, dia menyebut sasananya itu masih menggunakan peralatan lama yang pernah digunakan Eko pada tahun 2000. Kondisinya pun sudah rusak.

"Hanya gedungnya saja yang bagus atas bantuan PT Kalbe Farma. Memang ada bantuan KONI Metro tapi hanya sebesar Rp 5 juta setahun untuk biaya listrik, beli kapur tangan/magnesium, dan aqua galon," ungkapnya.

Ternyata Lukman tidak salah memilih Yon Haryono menggantikan posisinya. Lewat sentuhan Yon, lifter Malaysia, Mohammad Aniq, meraih tiga medali emas pada The 2nd Indonesia International Weightlifting Championships di Semarang, Jawa Tengah 2019. Lifter berusia 17 tahun yang tampil di kelas 55 kg youth putra mencatat total angkatan 241 kg (Snatch 103 kg, clean and jerk 138 kg).

Yon menyebut Aniq memang berpotensi menjadi atlet angkat besi andalan Malaysia di masa mendatang. "Sekarang saja, dia sudah berhasil memecahkan rekor atlet senior Malaysia saat mengikuti Kejuaraan Asia di China 2018 lalu, yakni beban 137 kg di angkatan clean and jerk," kata Yon yang menyebut di masa pandemi Covid 19, lifter Malaysia sudah mulai menjalani latihan sejak 10 Juni lalu dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. ***

(Penulis : Azhari Nasution/Wartawan Gonews.co Group) 


wwwwww