Tak Ingin Hanya Fokus Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Nasional
![]() |
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematangkan skema hilirisasi mineral kritis untuk menopang kebutuhan rantai pasok global. Melalui Forum Energi Indonesia-Korea ke-16 di Bali pada Rabu (28/10/2026), pemerintah bersama holding industri pertambangan MIND ID mendorong percepatan pengolahan bauksit, tembaga, dan timah. Langkah ini diambil agar ekosistem industri nasional tidak semata-mata bergantung pada komoditas nikel.
Diversifikasi Bahan Baku Manufaktur
Koordinator Kerja Sama dan Investasi Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Yan Abrar menerangkan, Indonesia menyimpan cadangan mineral yang sangat bervariasi. Ia mengarahkan agar seluruh komoditas tersebut dikelola hingga tahap penciptaan material maju serta perakitan manufaktur, bukan sebatas ekspor bahan mentah.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM hingga September 2026, produksi bijih nikel memang mendominasi dengan capaian 225,3 juta ton. Kendati demikian, angka produksi komoditas lain juga tergolong masif, meliputi 114,9 juta ton bijih tembaga, 23,43 juta ton bijih bauksit, serta 57,24 ribu ton bijih timah.
Komoditas pendamping ini memiliki peruntukan spesifik dalam memajukan industri masa depan. Bauksit diproyeksikan untuk menyokong kebutuhan alumina dan aluminium, tembaga dialokasikan bagi jaringan kelistrikan, sementara timah diserap untuk memproduksi komponen elektronik rakitan.
"Keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya volume mineral yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah," urai Department Head of Downstream & Mineral Ecosystem Energy MIND ID Novi Muharam dalam rilis tertulisnya, Jumat (6/11/2026).
Sinergi Teknologi dan Pemulihan Limbah
Lonjakan permintaan mineral kritis diprediksi terus merangkak naik menjelang tahun 2030, sejalan dengan tren kendaraan listrik, penyimpanan energi terbarukan, hingga pusat data. Merespons proyeksi tersebut, pemerintah berambisi membangun rantai operasional yang menyambungkan sektor hulu pertambangan secara langsung dengan fasilitas hilir.
Yan menambahkan, peningkatan daya saing sektor ini tidak bisa hanya berbekal peningkatan volume hasil eksploitasi tambang. Pihaknya harus memastikan kesiapan fasilitas teknologi, ketersediaan energi bersih, serta efisiensi jalur logistik agar harga jual produk akhir tetap kompetitif di pasar internasional.
Sebagai instrumen percepatan, Indonesia merajut kolaborasi teknis dengan Korea Selatan guna menyerap teknologi pengolahan serta manufaktur canggih. Kerja sama strategis ini turut menyasar optimalisasi limbah sisa operasional tambang, di mana teknologi pemulihan akan mendaur ulang sisa material menjadi bahan baku sekunder bernilai ekonomis tinggi. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Ekonomi |













