Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
Politik
14 jam yang lalu
Maju Pilkada Bengkalis, Istri Tersangka Korupsi Didukung 4 Partai
2
Sebut Santri Tahfidz Qur'an sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
Politik
19 jam yang lalu
Sebut Santri Tahfidz Quran sebagai Calon Teroris, Gus Jazil Minta Denny Siregar Minta Maaf
3
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
Politik
19 jam yang lalu
Bandara Sudah Sediakan Rapid Test, Masyarakat Sudah Bisa Manfaatkan Penerbangan
4
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
Peristiwa
18 jam yang lalu
Viral Pegawai Starbucks Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV
5
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
Politik
19 jam yang lalu
Kualitas Sinyal Operator Buruk saat Pandemi, DPR Panggil Telkomsel, Indosat dan XL Axiata
6
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Politik
18 jam yang lalu
Sebut Rp2,7 Triliun Bukan Angka Kecil, Nasir Djamil: Segera Usut Kasus Pemalsuan Label SNI
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Nasib Kelapa Sawit Indonesia, Sumbang Devisa Ekspor Besar tapi Diserang Isu Negatif

Nasib Kelapa Sawit Indonesia, Sumbang Devisa Ekspor Besar tapi Diserang Isu Negatif
Ilustrasi. (Net)
Senin, 29 Juni 2020 17:53 WIB
JAKARTA - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas yang menjadi andalan ekspor non migas, yang secara konsisten tetap menyumbangkan devisa ekspor nomor satu. Bahkan, dilihat dari data BPDPKS ekspor sawit pada tahun 2019, ekspor kelapa sawit menyumbang 22,4 persen dari PDB atau menyumbang sebesar USD 154,9 juta.

Ketua Dewan Pengawas Badan BPDPKS, Rusman Heryawan mengatakan, beberapa hal masih mempengaruhi citra ekspor produk sawit Indonesia, seperti dinamika harga sawit dipengaruhi oleh minyak nabati lainnya.

"Terutama yang diproduksi Eropa dan Amerika," kata Rusman dalam webinar, Senin (29/6).

Kemudian, produk turunan sawit banyak digunakan untuk makanan. Selain itu juga diserang oleh kampanye negatif sebagai produk berbahaya bagi kesehatan, dan merusak lingkungan.

"Kampanye negatif menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai jual produk sawit Indonesia," ujarnya.

Namun, untuk meningkatkan ekspor sawit ke pasar luar negeri, BPDPKS bekerjasama dengan berbagai pihak antara lain Kementerian Bidang Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, dan masyarakat industri sawit telah melakukan upaya penguatan pasar ekspor melalui promosi, advokasi dan litigasi.

Untuk promosi sendiri, yakni kampanye positif sawit di Uni Eropa dengan target Parlemen EU, dan Komisi EU/ lalu kerja sama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Kementerian Perdagangan dan DCI consulting Firm.

Lalu kerja sama kedubes RI dan Docs Fair Festival Amsterdam, untuk menampilkan film dokumentasi sawit Indonesia. Selanjutnya yaitu seminar sawit Indonesia di Washington, seminar palm oil di Stockholm, dan berbagai kerjasama misi dengan Kementerian dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di berbagai negara.

Sementara untuk advokasi, BPDPKS memberikan dukungan pendanaan bagi kegiatan edukasi publik di sejumlah negara mengenai sawit dan makanan, sawit dan lingkungan hidup, dan pemanfaatan biomassa dan limbah industri sawit.

"Dalam kegiatan ini BPDPKS juga menyertakan para pakar dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia dan luar negeri," ujarnya.

Demikian, segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelesaian perkara atau litigasi, BPDPKS melakukan gugatan atas putusan anti dumping duty and countervailing Duty atas produk Biodiesel sawit Indonesia oleh Amerika Serikat tahun 2019.

"Hearing dengan Uni Eropa untuk investigasi Anti subsidi impor biodiesel Indonesia. Dan gugatan Indonesia kepada Uni Eropa atas pemberlakuan Reneweble Energy Directive II dan Delegated Act," ujarnya.

BPDPKS juga melakukan pendampingan hukum atas penyelidikan countervailing (anti subsidi) oleh Uni Eropa terhadap produk Biodiesel Indonesia.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Merdeka.com
Kategori:GoNews Group, Pemerintahan, Ekonomi, Peristiwa, DKI Jakarta

wwwwww