Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sepasang Mahasiswa yang Minta Yesus Turunkan Bencana Minta Maaf, Polisi Sebut Hanya Bercanda
Peristiwa
12 jam yang lalu
Sepasang Mahasiswa yang Minta Yesus Turunkan Bencana Minta Maaf, Polisi Sebut Hanya Bercanda
2
Pengusaha Batam yang Tewas Ditembak di Kapal Ternyata Hendak Selundupkan Rokok Ilegal ke Inhil
Peristiwa
19 jam yang lalu
Pengusaha Batam yang Tewas Ditembak di Kapal Ternyata Hendak Selundupkan Rokok Ilegal ke Inhil
3
Pakar Sebut Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Bisa Tembus 15 Ribu, Ini Penyebabnya
Kesehatan
19 jam yang lalu
Pakar Sebut Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Bisa Tembus 15 Ribu, Ini Penyebabnya
4
Polisi Israel Kembali Halangi Muslim Palestina Shalat di Masjid Al Aqsa
Internasional
21 jam yang lalu
Polisi Israel Kembali Halangi Muslim Palestina Shalat di Masjid Al Aqsa
5
Korban Gempa Sulbar Terus Bertambah, 56 Tewas dan 826 Luka-luka
Nasional
20 jam yang lalu
Korban Gempa Sulbar Terus Bertambah, 56 Tewas dan 826 Luka-luka
6
Pekan Depan, Suzuki Luncurkan Carry Facelift
Riau
19 jam yang lalu
Pekan Depan, Suzuki Luncurkan Carry Facelift
Home  /  Berita  /  MPR RI

Gus Jazil: Dunia Wisata Harus Beri Kesejahteraan Masyarakat Sekitar

Gus Jazil: Dunia Wisata Harus Beri Kesejahteraan Masyarakat Sekitar
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid melihat hasil tenunan.
Sabtu, 01 Agustus 2020 10:54 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
FLORES - Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid menyebut di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak tempat wisata, baik situs sejarah maupun taman nasional yang popular di nusantara bahkan dunia.

Banyak tempat wisata itu di dunia hanya di Flores. Di setiap kabupaten di pulau itu, ada tempat wisata yang sangat penting dan indah hingga tergambar dalam mata uang Republik Indonesia. Disebut di Kabupaten Ende ada Danau Kelimutu, ada Rumah Pengasingan Bung Karno. Di Kabupaten Ngada ada Kampung Bena. Di Manggarai ada Wae Rebo, di Manggarai Barat ada Labuan Bajo, serta banyak lagi di Pulau Flores.
 
Meski demikian, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu merasakan promosi pariwisata tentang Pulau Flores kurang maksimal. “Seharusnya dipromosikan seperti Bali,” ujar Jazilul Fawaid, saat mengunjungi Kampung Bena, 31 Juli 2020. Dirinya mengakui wabah Covid-19 menjadi penyebab dunia pariwisata menjadi sepi namun seperti pada masa-masa normal, tempat wisata biasanya di sana ramai penjual jasa, seperti tukang foto, penjual oleh-oleh, kerajinan, dan sektor jasa lainnya. Hal demikian diakui oleh pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tidak ditemukan di Kampung Bena dan tempat wisata lainnya di Pulau Flores. “Di sini hanya disuruh tanda tangan dan setelah itu masuk,” paparnya.
 
Lebih lanjut diungkapkan oleh pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu, di tempat wisata yang ada di Pulau Flores, tidak ada ruang bagi pedagang dan pelaku jasa wisata lainnya. “Hal demikian membuat sektor wisata yang ada tidak memberi dampak menguntungkan bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.
 
Potensi yang besar di Pulau Flores, dalam sektor wisata, menurut Gus Jazil perlu lebih dipromosikan dan dikembangkan agar mampu memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Ia mengusulkan agar sektor wisata di pulau itu berkembang ditempuh dengan cara, pertama, harus melakukan kerja sama dengan agen atau biro travel. Biro travel itulah yang bertugas untuk mempromosikan, mengundang, dan mengajak masyarakat luas untuk berwisata di Pulau Flores.
 
Kedua, kaum pengguna medsos, entah itu facebooker, youtuber, twitter, dan instagramer diharap oleh Gus Jazil ikut mempromosikan tempat wisata di pulau ini. “Media sosial kan mudah, murah, dan cepat,” ujarnya.

“Jadi pihak pemerintah kabupaten dan provinsi bisa melakukan kerja bareng dengan kaum medsos,” tambahnya.

Penggiat medsos yang kebanyakan kaum milenial, tentu akan semakin menarik bila mereka membuat foto. “Dengan gaya milenial pastinya akan menarik orang untuk datang ke Pulau Flores,” paparnya.
 
Datang ke Kampung Bena, Gus Jazil merasa kagum dengan bangunan yang ada di kampung yang sudah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Selama ini dirinya hanya melihat Kampung Bena yang tersusun dari kayu dan ijuk di gambar-gambar yang tersebar.

“Banyak filosofi dari bangunan yang ada di kampung ini,” tuturnya. Dalam kunjungan itu, dirinya melihat rumah dan bangunan dengan ragam ukuran dan bentuk. Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu juga melihat penduduk yang sedang menenun dan membeli beberapa kain hasil tenunan. ***

wwwwww