Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kalahkan Qatar, Shin Tae Yong: Masih Ada Kekurangan
Sepakbola
11 jam yang lalu
Kalahkan Qatar, Shin Tae Yong: Masih Ada Kekurangan
2
Kota Kendari Mencekam, Ratusan Massa Mengamuk Bawa Sajam dan Rusak Sejumlah Mall
Peristiwa
22 jam yang lalu
Kota Kendari Mencekam, Ratusan Massa Mengamuk Bawa Sajam dan Rusak Sejumlah Mall
3
Beragama Hindu, Mahasiswi Kedokteran Ini Sudah Lebih 5 Tahun Berhijab
Pendidikan
21 jam yang lalu
Beragama Hindu, Mahasiswi Kedokteran Ini Sudah Lebih 5 Tahun Berhijab
4
Agar Tak Jadi Preseden, MPR Minta Usut Tuntas Penusukan Syekh Ali Jaber
MPR RI
23 jam yang lalu
Agar Tak Jadi Preseden, MPR Minta Usut Tuntas Penusukan Syekh Ali Jaber
5
Per September, Klaim Pembiayaan Pasien Covid Mencapai Lebih dari Rp10 Triliun
Pemerintahan
22 jam yang lalu
Per September, Klaim Pembiayaan Pasien Covid Mencapai Lebih dari Rp10 Triliun
6
Jiwasraya 'Dirampok' dan Dikorupsi, Rakyat Harus Bayar 20 Triliun? Yang Bener Saja!
Peristiwa
22 jam yang lalu
Jiwasraya Dirampok dan Dikorupsi, Rakyat Harus Bayar 20 Triliun? Yang Bener Saja!
Home  /  Berita  /  MPR RI

Museum Penanggulangan Terorisme Cocok Jadi Tujuan Wisata Bali

Museum Penanggulangan Terorisme Cocok Jadi Tujuan Wisata Bali
Sabtu, 01 Agustus 2020 20:37 WIB
BALI - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai museum penanggulangan terorisme, Prakasa Rucira Garjita, yang berada di Jalan Tohpati, Denpasar, Bali, bisa menjadi objek wisata menarik bagi turis.

Sebagai museum pertama tentang penaggulangan terorisme di Indonesia, dibangun Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Galose pada 2019, menyimpan banyak peninggalan barang-barang yang dipakai Satgas antiteror Densus 88, BNPT, dan seluruh stakeholder kepolisian daerah Bali dalam menangkap teroris Bom Bali seperti Imam Samudera, Amrozi, Ali Ghufron hingga Dr. Azhari.

Museum ini menjadi memori kolektif bangsa melawan terorisme dalam kurun waktu 2002 - 2019. Disini menyimpan perangkat digital forensik maupun persenjataan yang dipakai para penegak hukum dalam membekuk para teroris. 

Terdapat duplikat mobil L 300 warna putih berisi bom dan TNT seberat 1 ton yang dipakai saat serangan teror di Sari Club dan Paddy’s Legian, Kuta,12 Oktober 2002 malam. Serta sepeda motor Yamaha F1Z R warna merah yang digunakan teroris Ali Imron untuk melakukan survei lokasi, sebelum meledakan bom di Legian atas perintah trio Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron. 

"Bahkan ada video penggerebekan Tim kepolisian yang saat itu diperkuat Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, dan Rycko Amelza Dahniel dalam membekuk buronan teroris internasional Dr. Azhari di Batu, Malang pada 2005. Kini ketiga personil kepolisian tersebut sudah menjadi orang hebat. Pak Tito menjadi Kapolri hingga Menteri Dalam Negeri, Pak Petrus menjadi Kapolda Bali, dan Pak Ryco menjadi Kabaintelkam Mabes Polri. Bahkan anggota Densus lainnya, Idham Azis kini jadi orang nomor satu di Polri (Kapolri)," ujar Bamsoet saat mengunjungi Museum Prakasa Rucira Garjita, di Bali, Sabtu (1/8/17).

Turut hadir Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Galose, Dansat Brimob Polda Bali Kombes Pol Ardiansyah Daulay dan Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Wisnu Putra.

Mantan Ketua Komisi III DPR dan mantan Ketua DPR RI ini memandang, museum Prakasa Rucira Garjita juga menjadi monumen pengingat bahwa terorisme atas dalih apapun, apalagi dengan memanipulasi ajaran agama, tak bisa dibenarkan. Sebagai negara yang majemuk, Indonesia dibangun berdasarkan ideologi Pancasila. Presiden Soekarno menyebutnya negara semua untuk semua. Bukan negara untuk satu golongan saja. Agar terorisme tak menjadi momok bagi Indonesia, penanaman nilai Pancasila mutlak dilakukan kepada generasi muda dan berbagai lapisan masyarakat.

"Museum Prakasa Rucira Garjita juga menjadi pengenang jasa pengabdian petugas kepolisian yang gugur saat menjalankan tugas membekuk para teroris. Sebagai contoh, disini menyimpan bodyvest putih yang dipakai (almarhum) Briptu Anumerta Suherman yang gugur saat melakukan penggerebekan teroris di Solo pada September 2012. Nama mereka terpatri abadi dalam museum, sebagai pertanda banga Indonesia tak melupakan jasa dan pengabdian mereka," tandas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mendorong berbagai Polda bisa meniru kreatifitas serupa. Tak hanya dengan membangun museum, melainkan membangun karya yang bisa menjadi nilai tambah bagi daerah, khususnya yang berhubungan dengan penegakan hukum.

"Presiden Soekarno dengan tegas sudah mengingatkan jangan sekali-kali meninggalkam sejarah (Jas Merah). Dari sejarahlah kita bisa memetik pelajaran. Sejarah Bom Bali I, Bom Bali II, dan berbagai tindakan teror lainnya harus menjadi pelajaran untuk semakin menguatkan solidaritas kebangsaan guna menutup berbagai kemungkingan celah tindakan teror di masa depan," pungkas Bamsoet.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, MPR RI, Politik, Pemerintahan, Peristiwa, Bali

wwwwww