Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Andi Paris Minta Proyek Vaksin masuk Proyek Strategis Nasional
DPR RI
15 jam yang lalu
Andi Paris Minta Proyek Vaksin masuk Proyek Strategis Nasional
2
Reydonnyzar Moenek masih Menjabat Sekjen DPD RI, Yorrys sebut Implikasi Pidana
Politik
18 jam yang lalu
Reydonnyzar Moenek masih Menjabat Sekjen DPD RI, Yorrys sebut Implikasi Pidana
3
Bawa Sabu 5 Kg dan Ribuan Ekstasi, Anggota DPRD dari Golkar Ditangkap BNN, Ternyata Residivis
Peristiwa
23 jam yang lalu
Bawa Sabu 5 Kg dan Ribuan Ekstasi, Anggota DPRD dari Golkar Ditangkap BNN, Ternyata Residivis
4
Sejarah Panjang dan Keberlanjutan Revolusi Mental
DPR RI
17 jam yang lalu
Sejarah Panjang dan Keberlanjutan Revolusi Mental
5
Puluhan Jabatan Fungsional Kemendagri Dilantik
Pemerintahan
17 jam yang lalu
Puluhan Jabatan Fungsional Kemendagri Dilantik
6
Saat Suami Shalat Subuh ke Masjid, Istri Masukkan Anggota Satpol PP ke Rumah, Begini Akibatnya
Peristiwa
18 jam yang lalu
Saat Suami Shalat Subuh ke Masjid, Istri Masukkan Anggota Satpol PP ke Rumah, Begini Akibatnya
Home  /  Berita  /  MPR RI

Perkuat Perekonomian Pedesaan Atasi Resesi Ekonomi

Perkuat Perekonomian Pedesaan Atasi Resesi Ekonomi
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid. (Ist)
Senin, 10 Agustus 2020 10:39 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid yakin ancaman resesi dan pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen yang menimpa Indonesia bisa diatasi dan dikendalikan bila perekonomian pedesaan diperkuat. “Saya yakin sebab di desa banyak potensi besar yang belum dimaksimalkan,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, Jakarta, 10 Agustus 2020.

Dipaparkan, desa yang subur menyimpan potensi sumber daya alam dan tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pohon seperti kopi, cengkeh, tembakau, lada, rempah-rempah, dan lain sebagainya, tumbuh di sana dan dikelola oleh masyarakat. Bila potensi pedesaan seperti itu lebih disentuh dan diperhatikan oleh pemerintah maka desa akan menjadi pusat perekonomian masa depan. Pun demikian daerah pesisir yang kaya dengan sumber daya kelautan.

Dirinya mendorong potensi yang ada di desa dan pesisir dikelola secara proffesional. “Dirikan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes),” ujar pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu. Dengan adanya Bumdes, ada nilai tambah di sana. “Juga menyerap tenaga kerja dari masyarakat,” ujarnya. Dirinya menceritakan, saat melakukan kunjungan ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, di sana banyak Bumdes yang mengelola kopi olahan perkebunan rakyat. Bumdes yang ada mampu mengelola kopi yang dipetik dari perkebunan hingga dipasarkan di warung Bumdes di lokasi tempat wisata. “Nah seperti itulah yang perlu dicontoh dan ditiru oleh desa-desa yang lain,” ungkapnya.

Diakui Bumdes-Bumdes yang ada masih kekurangan peralatan dan sumber daya manusia. Untuk itu dirinya menegaskan, di sinilah peran pemerintah untuk memberdayakan. “Kementerian terkait harus bersama dengan pemerintah daerah membantu dan mendorong agar mereka lebih proffesional dalam mengelola dan menggerakan potensi desa,” ujarnya.  

Dipaparkan, pemerintah harus melatih bagaimana Bumdes mampu mengemas produk dan membuka jaringan distribusi perdagangan. “Selain sering diikutkan dalam pameran produk unggulan, juga dilatih bagaimana menjual produk lewat online,” ucapnya. Disebut teknologi informasi sekarang sudah masuk ke pelosok-pelosok pedesaan. Media sosial seperti facebook, youtube, twitter, instagram, dan lain sebagainya, menurut Jazilul Fawaid juga sudah diakrabi oleh semua orang, termasuk orang desa. “Nah lewat media sosial seperti itu, produk desa bisa dipasarkan,” ujarnya.

Cara memasarkan lewat media online disebut oleh pria yang akrab dipanggil Gus Jazil itu sangat efektif. “Kopi dari Ende dan Bajawa, Flores, cepat diketahui masyarakat di mana saja bila sudah terunggah di media sosial,” paparnya. Kopi dari Flores disebut memiliki rasa yang khas. “Tinggal bagaimana Bumdes yang dibina oleh pemerintah memanfaatkan peluang itu”, tuturnya.

Memberdayakan perekonomian pedesaan lewat Bumdes menurut Gus Jazil tidak banyak mengalami kendala sebab masyarakat pedesaan kental dengan sikap gotong royong dan keterbukaan. Masyarakat pedesaan mudah menyerap nilai-nilai baru yang dirasa bisa memberdayakan potensi diri dan desa. Dalam bekerja pun mereka menerapkan nilai-nilai kegotongroyongan.

Nilai-nilai gotong royong yang ada di desa menurut Jazilul Fawaid perlu untuk terus dirawat, dilestarikan, dan dikembangkan. “Sikap gotong royong dan keterbukaan serta potensi yang melimpah yang membuat saya yakin masa depan perekonomian ada di desa,” tegasnya. ***


wwwwww