Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
23 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
2
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
22 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
3
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
DKI Jakarta
23 jam yang lalu
Pengprov MPI DKI Jakarta Siap Sukseskan PON Pantai 2026
4
STY Pastikan Motivasi Persija Jakarta Tetap Terjaga
Sepakbola
24 jam yang lalu
STY Pastikan Motivasi Persija Jakarta Tetap Terjaga
5
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Sepakbola
22 jam yang lalu
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
6
Duet Risto Vidakovic dan Edin Prljaca Tangani PSIM Yogyakarta
Sepakbola
22 jam yang lalu
Duet Risto Vidakovic dan Edin Prljaca Tangani PSIM Yogyakarta
Home  /  Berita  /  Olympic

Emak-emak Dominasi Unjuk Rasa Buruh Tolak Omnibus Law di Bandung

Emak-emak Dominasi Unjuk Rasa Buruh Tolak Omnibus Law di Bandung
Demo Buruh di Bandung. (Detik.com)
Selasa, 06 Oktober 2020 14:05 WIB
BANDUNG - Emak-emak mendominasi jumlah peserta unjukrasa penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja di depan Balai Kota Bandung, Selasa (6/10/2020). Sebagian dari mereka bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk menolak peraturan yang dianggap menyengsarakan kaum buruh itu.

Salah seorang peserta unjuk rasa, Etin Suprapti (39) mengatakan, ia datang berjalan kaki bersama 2.000 karyawan dari kawasan industri di Soekarno Hatta Kota, Kelurahan Cibuntu, Bandung. Sambil menenteng payung terbuka, mereka berjalan sekitar enam kilometer dari titik kumpul menuju Balai Kota Bandung.

Lewat berjalan kaki dengan jumlah masif, Etin berharap aspirasi buruh bisa lebih didengarkan untuk mempertahankan hak dan kesejahteraannya. "Kami yang sudah tidak lagi dipedulikan oleh pemerintah dan legislatif sebagai perwakilan rakyat, dengan menyetujui dan mengesahkan Undang-undang Omnibus Law ini yang jelas-jelas tidak berpihak bagi kaum buruh," ujar Etin.

Ratusan hingga ribuan buruh ini kemudian duduk di tengah Jalan Wastukencana, tepatnya di depan pintu gerbang masuk utama Balai Kota. Setelah itu, mereka kompak membuka payung mereka sambil mengikuti aba-aba dari atas mobil komando.

"Jadi maksud kami membawa payung ini, menjadi simbol perlindungan hukum dan perlawanan dari matinya hati nurani pemerintah, selain juga payung ini untuk melindungi batasan jarak diantara kami dan juga panas matahari," ucapnya.

Ia berharap, aksi yang dilakukan oleh ribuan buruh hari ini bisa didengar oleh pemerintah pusat sehingga muncul Perpu untuk mencabut UU Cipta Kerja. "Harapan kami hanya satu, segera cabut UU Omnibus Law," kata Etin.

Emak-emak ini duduk menyemut. Suara dari balik mobil komando pun tak henti-henti mengingatkan mereka untuk tetap memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:detik.com
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, Banten, Jawa Barat
wwwwww