Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
11 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
11 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
22 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
11 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
11 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
6
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
21 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Home  /  Berita  /  Basket

Thailand Larang Sementara Unjukrasa dan Pemberitaan Sensitif

Thailand Larang Sementara Unjukrasa dan Pemberitaan Sensitif
Foto: Ist./Reuters.
Kamis, 15 Oktober 2020 12:58 WIB
BANGKOK - Pemerintah Thailand melarang protes dan publikasi berita sensitif pada hari Kamis dalam menghadapi meningkatnya protes yang menargetkan Raja Maha Vajiralongkorn serta Perdana Menteri Prayuth Chan'ocha.

Dalam waktu 30 menit setelah keputusan darurat mulai berlaku pada pukul 4 pagi (2100 GMT), polisi maju ke pengunjuk rasa yang berkemah di luar kantor Prayuth untuk menuntut pencopotannya dan konstitusi baru.

Polisi mengatakan, mereka telah menangkap sekitar 20 orang yang menolak bekerjasama, termasuk dua pemimpin aksi protes yang paling vokal dalam mengkritik kerajaan.

Untuk membenarkan langkah-langkah darurat yang mencakup larangan pertemuan lima orang atau lebih, pemerintah berdalih bahwa aksi menyebabkan terhambatnya iring-iringan mobil kerajaan serta meningkatnya kekacauan, kerugian ekonomi, dan risiko penyebaran virus corona.

"Sangatlah penting untuk memperkenalkan tindakan mendesak untuk mengakhiri situasi ini secara efektif dan segera untuk menjaga perdamaian dan ketertiban," kata keputusan itu dikutip dari reuters.com Kamis (15/10/2020).

Negara itu memang menghadapi beberapa aksi unjukrasa belakangan ini. Demonstrasi terbaru membawa puluhan ribu pengunjuk rasa pada hari Rabu. Mereka berbaris ke pusat kantor pemerintahan dan bersumpah untuk tetap tinggal sampai Prayuth pergi. Sebagian besar pergi semalaman. Beberapa orang yang mencoba melawan gerak maju polisi di belakang barikade darurat, dengan cepat dibersihkan petugas.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, Basket, Metropolitan
wwwwww