Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
Hukum
21 jam yang lalu
Jika Presiden Diduga Disadap Ilegal, SGY Pertanyakan Perlindungan Privasi Rakyat
2
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
Umum
22 jam yang lalu
Mantan Presiden SBY Soroti Penyadapan Prabowo Subianto, Tiga Jenderal Polisi Resmi Ditahan
3
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
Olympic
18 jam yang lalu
Asael dan Sashenka Buktikan Atlet Muda Indonesia Berpotensi Bersaing di Panggung Dunia
4
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
Metropolitan
18 jam yang lalu
KJP Plus dan KJMU Mulai Cair 3 November, Total Anggaran Capai Rp164,67 Miliar
5
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
16 jam yang lalu
PP FTI Prihatin dan Kecewa Triathlon Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
6
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
SEA Games
17 jam yang lalu
NOC Indonesia Cermati Sejumlah Cabor Unggulan Tak Dipertandingkan di SEA Games 2027
Home  /  Berita  /  PON

Miniatur Indonesia di Tanah Arab, Menurut MPR

Miniatur Indonesia di Tanah Arab, Menurut MPR
Wakil Ketua MPR RI, Dr Ahmad Basarah di ruang kerjanya. (foto: istimewa)
Kamis, 29 Oktober 2020 15:33 WIB
JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Basarah, mengajak semua elemen bangsa khususnya umat Islam, untuk menjadikan momentum peringatan maulid Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam sebagai pengingat bahwa kebhinekaan kota Madinah di zaman Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallammirip dengan kebhinekaan Indonesia saat ini.

"Di Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam juga menghadapi kebhinekaan suku-suku dan agama-agama. Suku-suku itu saling bersaing, para penganut agama-agama pun saling menunjukkan pengaruh. Di tengah persaingan suku, agama, ras dan antargolongan itulah Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam lalu mengajukan Piagam Madinah sebagai platformbersama yang mempersatukan mereka," kata Ahmad Basarah, tertulis, Kamis (29/10/2020).

Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu menjelaskan, Piagam Madinah yang dibuat secara demokratis itu hanya memuat nilai-nilai bersama yang mengikat dan bisa diterima semua suku dan penganut agama di Madinah. Itulah sebabnya Piagam Madinah sejak awal tidak mendapat penolakan dari penduduk Yatsrib yang beragam.

"Dalam konteks Indonesia, universalitas Piagam Madinah itu mirip dengan universalitas Pancasila yang juga memuat nilai-nilai bersama yang mengikat bangsa yang beragam ini dari segi suku, agama, ras dan antargolongan. Jika kita lihat sejarah kelahiran Pancasila, umat Islam sebagai mayoritas tidak memaksakan kehendak mereka saat itu, sebaliknya penganut agama lain merasa terlindungi," jelas Ahmad Basarah.

Karena itu, jelas penulis buku 'Bung Karno, Islam dan Pancasila' ini, momentum peringatan Maulid Nabi kali ini harus dijadikan inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk memperkukuh persatuan nasional dan semangat gotong royong menghadapi pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:DKI Jakarta, Badminton, MPR RI, Nasional, PON
wwwwww