Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
24 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
2
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
5 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
3
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Hukum
24 jam yang lalu
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
4
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
14 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
5
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
7 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
6
Pieter Huistra Sebut Lini Pertahanan PSS Sleman Masih Rapuh
Sepakbola
24 jam yang lalu
Pieter Huistra Sebut Lini Pertahanan PSS Sleman Masih Rapuh
Home  /  Berita  /  Umum

Gus Jazil: Tunda Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Gus Jazil: Tunda Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid. (foto: Humas)
Senin, 21 Juni 2021 00:38 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Niatan untuk menggelar kembali pembelajaran secara tatap muka di sekolah diapresiasi oleh Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. Meskipun kapasitas siswa yang hadir di sekolah maksimal 50 persen.

Namun hal yang demikian, menurutnya, suatu langkah yang maju di saat pandemi Covid-19. Apalagi proses pembelajaran yang dilakukan menggunakan protokol kesehatan yang ketat. Karena dengan digelarnya pembelajaran tatap muka itu membuat Indonesia terhindar dari ‘lost generation’ atau hilangnya masa depan generasi penerus bangsa.

"Sudah setahun lebih anak-anak Indonesia tidak pergi ke sekolah," ungkap pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur itu

Menurut pria yang akrab disapa Gus Jazil itu tidak hanya membuat bangsa ini terancam ‘lost generation’ namun juga bisa mengakibatkan anak-anak Indonesia malas belajar dan pergi ke sekolah. "Bahayanya bila mereka lebih memilih kerja. Dan parahnya Anak-anak bekerja disebut Gus Jazil memiliki produktifitas rendah dan diupah ala kadarnya," ujanrnya.

Di tengah bangsa ini mulai membuka kembali sekolah, muncul varian baru Covid-19. Varian ini disebut memiliki daya penularan yang lebih cepat. Akibat varian baru ini menimbulkan lonjakan penularan. Bangkalan, Jawa Timur; Kudus, Jawa Tengah; dan Jakarta, merupakan tempat di mana varian baru itu ditemukan. Akibat varian baru itu menurut Wakil Ketua Umum DPP PKB ini membuat rumah sakit-rumah sakit menjadi penuh. “Sangat menyedihkan,” tuturnya.

Alumni PMII itu merasa prihatin dengan munculnya varian baru. Dengan ditemukannya varian baru dan terbuktinya semakin tingginya angka penularan membuat kondisi yang demikian mengancam dari proses pembelajaran tatap muka yang tengah berlangsung. “Prihatin dengan kondisi yang demikian,” ujar Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu.

Agar penularan tidak menjadi-jadi, Gus Jazil menyarankan agar proses pembelajaran tatap muka yang telah digelar di beberapa sekolah dan daerah ditunda atau dijadwalkan ulang.
"Kita berada dalam pilihan yang sulit," ujarnya.

Dirinya juga menyebut sebaiknya pemerintah mendahulukan kesehatan daripada yang lain. Karena itu sebaiknya pembelajaran tatap muka ditunda sampai waktu yang memungkinkan untuk dibuka kembali. "Sebab mereka adalah generasi muda penerus bangsa. Merekalah yang akan menggantikan kita," tambahnya.

Untuk menciptakan ‘herd imunity’ atau kekebalan massal, alumni Perguruan Tinggi Ilmu Quran itu mendorong agar pemerintah massif dalam melakukan vaksinasi. “Ini penting dan perlu,” paparnya.

Gus Jazil yakin vaksinasi yang lebih massif bisa dilakukan oleh pemerintah sebab saat ini di Indonesia, vaksin yang ada tidak hanya satu merk atau jenis. “Ada vaksin merk lain yang telah digunakan oleh pemerintah,” paparnya.***

wwwwww