Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
22 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
15 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
14 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
15 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
5
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
15 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
22 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Jamiluddin Ritonga: Jangan Bunuh Karakter Ketua BEM UI

Jamiluddin Ritonga: Jangan Bunuh Karakter Ketua BEM UI
Ilustrasi BEM UI. (Foto: Istimewa)
Kamis, 01 Juli 2021 16:48 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, angkat bicara terkait tudingan BEM UI adalah asuhan Cikeas dan pendukung Front Pembela Islam (FPI). Bahkan Leon ditudig sebagai anggota HMI yang beafiliasi ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Tudingan ini muncul, setelah BEM UI menjuluki Presiden Joko Widodo (Jokowi) The King of Lip Service, dan muncul tudingan tak sedap kepada Ketua BEM UI Leon Arvinda Putra.

"Tudingan tersebut tampaknya sengaja disampaikan secara vulgar untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang diperdebatkan ke sifat atau reputasi dan kredibilitas pribadi Leon. Para penuding tidak menjawab substansi kenapa muncul julukan The King of Lip Service, tapi mereka lebih fokus merusak reputasi dan kredibilitas Leon," ujarnya kepada GoNews.co, Kamis (1/7/2021) di Jakarta.

Menurutnya, tujuan mereka jelas, dengan rusaknya reputasi dan kredibilitasnya, publik diharapkan tidak mempercayai Leon dan BEM UI yang dipimpinnya. Publik diharapkan menjadi antipati dan berbalik menyerang Leon dan BEM UI.

"Upaya pembunuhan karakter (character Assassination) semacam itu memang kerap terjadi di Indonesia. Diskursus menjadi tidak berkembang karena pihak-pihak yang berwacana lebih fokus menyerang orangnya daripada apa yang diwacanakan," tandasnya.

Akibatnya kata Dia, bukan solusi yang dihasilkan dari sebuah wacana. Wacana justeru berkembang pada bertebarannya stigma-stigma negatif yang ditujukan kepada pihak-pihak yang berwacana. "Celakanya, pada kasus BEM UI, para pemberi stigma negatif itu datang dari orang-orang terdidik dan bahkan ada yang sudah dedengkot di dunia politik. Mereka tega memberi stigma negatif kepada para mahasiswa yang memang masih belajar berwacana," tandasnya.

Dengan tudingan itu kata Dekan FIKO< IISIP ini, justeru memberi contoh tidak baik kepada juniornya dalam berwacana. "Anehnya mereka justeru terkesan bangga melakukan hal itu," tukasnya.

Jika para mahasiswa terus diajarkan berwacana dengan membunuh karakter seseorang, dikhawatirkan akan mrlakukan hal yang sama di kemudian hari. "Kalau ini yang terjadi, tentu berbahaya bagi perkembangan komunikasi politik di tanah air," urainya.

Akibatnya, wacana tidak akan pernah produktif. Setiap wacana akan selalu diiringan pembunuhan karakter, yang dapat melahirkan dendam. "Tentu ini tidak sehat untuk komunikasi politik di negeri tercinta," pungkasnya.***

wwwwww