Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
Hukum
9 jam yang lalu
Kasus Sadap Terungkap, Ical Syamsudin: Kontra Intelijen Prabowo Berjalan
2
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
21 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
3
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
23 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
4
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
Olympic
20 jam yang lalu
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
23 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
Sepakbola
18 jam yang lalu
Lawan Melbourne Victory, Persib Incar Tiga Poin Demi Tiket 16 Besar ACL 2
Home  /  Berita  /  Voli

Lukman Edy: Alhamdulillah, BPOM Izinkan Ivermectin untuk Pengobatan Covid-19

Lukman Edy: Alhamdulillah, BPOM Izinkan Ivermectin untuk Pengobatan Covid-19
Lukman Edy. (Foto: Istimewa)
Kamis, 15 Juli 2021 11:18 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA – Ketua Dewan Pakar Indonesia Maju Institut (IMI), Lukman Edy menyambut baik, izin Emergency Use Autorization atau EUA BPOM terhadap Ivermectin sebagai terapi Covid-19, bersama dengan 7 obat terapi lain.

"Alhamdulillah, ternyata Ivermectin diajukan oleh salah satu BUMN Farmasi, yaitu Indofarma, atas dorongan sang Menteri BUMN Erick Thohir menjadi produk lokal yang massal, sehingga menjadi obat murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat," ujarnya, Kamis (15/7/2021).

Lukman Edy yang juga merupakan penyintas Covid-19 ini mengatakan, meskipun sebelumnya banyak menuai kritik dari kelompok oposisi pemerintah, dia bersama keluarga serta kerabatnya tetap menggunakan Ivermectin sebagai obat terapi Covid-19.

"Alhamdulillah, rata rata atau hampir semuanya, setelah 5 hari mereka membaik dan ketika diswab lagi, negatif. Banyak yang minta lagi ke saya, tapi persediaan Ivermectin saya sudah habis. Saya ikhtiar ke apotik, dijawab ditarik oleh distributor dan dirazia oleh BPOM," tandasnya.

Menurut Lukman Edy, upaya Menteri BUMN yang meminta BPOM untuk menerbitkan EUA terhadap Ivermectin merupakan bentuk sense of crisis dalam menyediakan obat terapi Covid-19 murah namun baik bagi masyarakat tanah air.

"Obat terapi Covid-19 sekarang ini mahal sekali, dan pasca pengobatan punya dampak yang luas. Kuitansi rumah sakit yang merawat Covid -19, rata-rata penyintas menghabiskan Rp250 juta keatas bahkan ada yang sampai Rp 1 miliar lebih," tukasnya.

Bagi Lukman Edy, Ivermectin ini seperti ''setetes air di tengah gurun''. Ketika obat terapi Covid-19 yang lain mahal, muncul Ivermectin yang murah. BUMN berencana memproduksi obat ini secara massal dengan harga kisaran Rp7.000. 

"Mudah-mudahan Ivermectin (yang baru mendapat EUA BPOM) menjadi alternatif yang sudah ditakdirkan Allah SWT umtuk penanggulangan Covid-19," pungkasnya.***

wwwwww