Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
6 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
5 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Pujian Osmar Loss buat Mentalitas Pemain Dewa United FC
Sepakbola
33 menit yang lalu
Pujian Osmar Loss buat Mentalitas Pemain Dewa United FC
4
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
28 menit yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
5
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
23 menit yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Home  /  Berita  /  Beladiri

Makelar Tanah di Malang Tewas Dibacok, Sempat ke 6 Rumah Sakit Tapi Ditolak

Makelar Tanah di Malang Tewas Dibacok, Sempat ke 6 Rumah Sakit Tapi Ditolak
Lokasi pembunuhan (Foto: Muhammad Aminudin/dETIK)
Senin, 26 Juli 2021 19:44 WIB
MALANG - Seorang warga Desa Gunungronggo, Tajinan, Kabupaten Malang, tewas dengan tubuh penuh luka. Belum diketahui siapa pelaku pembunuhan makelar tanah tersebut.

Korban adalah Purnomo (45). Jenazah korban tengah dilakukan autopsi di Instalasi Kedokteran Forensik (IKF) RS dr Syaiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Hartanto (50), kerabat korban saat ditemui di IKF RSSA menceritakan malam kemarin sekitar pukul 23.00 WIB, terdengar suara ketukan di balik pintu rumahnya. Saat dibuka, Hartanto melihat korban sudah dalam kondisi bersimbah darah dan meminta pertolongan.

Hartanto kemudian panik, kondisi korban kemudian disampaikan kepada kerabat lain. Akhirnya korban dibawa dengan pikap untuk mencari rumah sakit. Nahas, hampir dua jam berkeliling. Tak satupun rumah sakit bisa menerima, karena kondisi penuh.

"Keliling kami, cari rumah sakit. Hampir enam rumah sakit, semuanya penuh. Baru akhirnya ke RSSA jam 1 malam," kata Hartanto ditemui di RSSA, Senin (26/7/2021).

Menurut Hartanto, tak lama setelah korban dibawa ke IGD RSSA, dirinya mendapatkan kabar bahwa korban telah tewas. Ada sejumlah luka di bagian tubuh korban, yakni di perut, punggung, serta tangan. "Baru 10 menit masuk IGD, korban meninggal. Luka parah di punggung dan perut," tuturnya.

Sampai kini, Hartanto bersama keluarga besar tak mengetahui siapa pelaku penganiayaan yang menyebabkan korban tewas. Lokasi penganiayaan yang berujung pembunuhan sendiri terjadi di jalan Desa Sumbersekar, Tajinan yang hanya berjarak kurang dari 20 meter dari kediaman Hartanto. "TKP-nya dekat rumah, itu jalan kampung. Tapi kejadiannya tidak ada yang tahu," beber Hartanto.

Ketika dalam perjalanan mencari rumah sakit, kata Hartanto, korban hanya menjawab jika pelaku tak diketahui karena wajahnya tertutup. "Kami sempat tanya siapa pelakunya, jawabnya tidak tahu. Sepeda motor korban juga masih ada di TKP. Korban jalan kaki ke rumah saya, karena lokasi dekat," tegas Hartanto.

Sehari-harinya, korban bekerja sebagai makelar tanah. Korban meninggalkan istri dan satu anak. "Kerjanya makelaran tanah, anaknya satu," pungkas Hartanto.

Polisi sendiri masih menyelidiki kasus penganiayaan yang menyebabkan korban tewas. Tim Inafis Satreskrim Polres Malang terlihat mendatangi IKF RSSA untuk melakukan penyelidikan.

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Detik.com
Kategori:Jawa Timur, Beladiri, Olympic
wwwwww