Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
20 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
Beladiri
13 jam yang lalu
Era Baru, Kejurnas Kickboxing Indonesia 2026 Dikemas Dalam Sports Entertainment
3
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
15 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
4
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
17 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
5
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
15 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
6
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
Olympic
12 jam yang lalu
Asael Sumbang Medali Kedua buat Indonesia, Airlangga Berikan Apresiasi
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Anis Matta: Aliansi Kampus Harus Pelopori Gerakan Pemikiran demi Masa Depan Bangsa

Anis Matta: Aliansi Kampus Harus Pelopori Gerakan Pemikiran demi Masa Depan Bangsa
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Anis Matta. (Foto: Istimewa)
Minggu, 22 Agustus 2021 10:45 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta berpandangan masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh aliansi poltik, tetapi ditentukan oleh aliansi kampus.

Sebab, kampus akan melahirkan sebuah gerakan intelektual baru, serta akan mempelopori gerakan pemikiran tentang Arah Baru Indonesia. "Kita coba mulai satu gerakan intelektual baru, gerakan pemikiran baru Indonesia. Ini jauh lebih fundamental bagi saya dalam membangun Indonesia ke depan, daripada membentuk aliansi politik," kata Anis Matta dalam diskusi 'Membaca Politik Taliban dan Masa Depan Geopolitik Dunia Islam', Jumat (20/8/2021) malam.

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Aceh-Yogyakarta secara virtual ini, menurut Anis Matta, partai politik (parpol) perlu membentuk aliansi dengan kampus dan seluruh akademisi.

"Kita bisa mendiskusikan semua pertanyaan mengenai pemikiran manusia tentang satu model ekonomi baru yang tatanan globalnya benar-benar runtuh, " katanya.

Neoliberalisme telah memunculkan ketimpangan sosial dan memunculkan kelompok Ultranasionalis di Amerika dan Eropa, akibat sistem kapitalisme.

"Makanya Amerika dan Eropa sekarang perlahan-lahan mulai meninggalkan kapitalisme dan beralih ke sosialisme. Sementera China dari sosialisme justru menjadi kapitalisme," katanya.

Artinya, semua negara di dunia saat ini sedang mencari sebuah sistem tatanan global baru, karena tidak mungkin lagi menggunakan sistem kapitalisme dan sosialisme.

"Kapitalisme telah merusak lingkungan dan menimbulkan ketimpangan sosial, sementara sosialisme menghalangi kebebasan demokrasi. Dua sistem ini tidak mungkin lagi diterima secara global," ujarnya.

Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk ikut serta menentukan sistem tatanan global baru, sehingga menjadi kekuatan global.

"Indonesia bisa menjadi kekuatan kelima besar dunia dan ikut menentukan sistem tatanan baru global, atau menjadi outsider seperti selama ini, menerima dan melaksanakan sistem tersebut," katanya.

Guna mewujudkan Indonesia sebagai lima besar dunia, Anis Matta berkepentingan untuk menghidupkan kembali aliansi kampus yang akan menjadi pondasi pemikiran gerakan intelektual baru Indonesia.

"Sudah waktunya kita berhenti menjadi sekedar konsumen pemikiran orang. Kita sudah harus menjadi produsen pemikiran-pemikiran. Gerakan intelektual baru ini akan memberikan jawaban atas persoalan dunia dan di Indonesia sekarang," ujarnya.

Karena itu, Anis Matta menyesalkan apabila ada parpol yang lebih mengedepankan politik transaksional seperti memberikan bantuan sosial, ketimbang memberikan ruang bicara untuk 'pergulatan intelektual'.

"Pada dasarnya memberikan bantuan impact dari krisis itu bukan tugas partai. Tetapi krisis menyebabkan orang menjadi pragmatis, dan politisi keluar dari diskursus intelektual dan masuk politik pasar," tegas Anis Matta.

Anis Matta berharap parpol mengajak para intelektual baru dari kampus untuk berbicara kepada rakyat, serta mengubah perbincangan di warung kopi dan media sosial dengan perbicangan yang substansial.

"Kita mulai gerakan supaya kosakata yang berhubungan dengan ideologi lebih mendominasi. Ini akan menjadi permulaan yang dashyat untuk merumuskan peta jalan baru Arah Baru Indonesia," pungkasnya.***

wwwwww