Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Sepakbola
24 jam yang lalu
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
2
Penurunan Muka Tanah Jakarta Melambat, PAM Jaya Ungkap Peran Air Perpipaan
Korporasi
24 jam yang lalu
Penurunan Muka Tanah Jakarta Melambat, PAM Jaya Ungkap Peran Air Perpipaan
3
Kesempatan Frediric Injay Balas Kekalahan Lawan Garudayaksa
Sepakbola
24 jam yang lalu
Kesempatan Frediric Injay Balas Kekalahan Lawan Garudayaksa
4
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
4 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
5
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
3 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Home  /  Berita  /  Nasional

Moeldoko: Jangan Sampai Data Palsu Digunakan Daftar Parpol dan Calon Independen

Moeldoko: Jangan Sampai Data Palsu Digunakan Daftar Parpol dan Calon Independen
Kepala KSP Moeldoko saat menjadi pembicara dalam webinar bertema 'Satu Data Pemilu untuk Satu Data Indonesia' di Jakarta, Rabu (1/12/2021). (foto: ist./ksp)
Rabu, 01 Desember 2021 16:02 WIB
JAKARTA - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjadi pembicara dalam webinar 'Satu Data Pemilu untuk Satu Data Indonesia' yang digelar KPU baru-baru ini. Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (1/12/2021), Ia menyatakan dorongannya soal pemutakhiran data, sinkronisasi, dan kerja bersama untuk Satu Data Indonesia (SDI).

"Jangan sampai data-data palsu digunakan untuk pendaftaran partai politik, calon independen atau kepala daerah sehingga mengantarkan orang-orang yang tidak mewakili pilihan rakyat bisa jadi pemimpin," tegas Moeldoko dikutip GoNEWS.co dari antaranews.com.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan Satu Data Indonesia (SDI) yang diatur dalam Perpres Nomor 39 tahun 2019. Kebijakan ini diharapkan menjadi kunci dari berbagai permasalahan data di Indonesia, seperti sulitnya mendapatkan data termutakhir dan berkualitas akibat tidak adanya koordinasi antarinstitusi sehingga data yang dihasilkan sering tumpang tindih dan tidak sinkron.

"Kami (KSP) dalam proses bottlenecking sering kesulitan mendapat data mutakhir sehingga KSP bersama Bappenas dan kementerian/lembaga kunci, menginisiasi, dan merumuskan kebijakan SDI ini," tutur Moeldoko.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Sumber:antaranews.com
Kategori:Voli, Metropolitan, Nasional, DKI Jakarta
wwwwww