Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
19 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
23 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
3
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
20 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
24 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
19 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
6
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
19 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Meski Dekat dengan Pemerintah, NU Diminta Tak Kehilangan Daya Kritis

Meski Dekat dengan Pemerintah, NU Diminta Tak Kehilangan Daya Kritis
Presiden Jokowi saat membuka Muktamar NU di Lampung. (Foto; Istimewa)
Sabtu, 25 Desember 2021 17:00 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Menjelang 2024 mendatang, PBNU diharap bisa arif merevitalisasi dan mereposisi peranan sebagai kekuatan civil society yang berpengaruh dalam politik nasional.

Dosen Ilmu Politik dan International Studies Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam tak menampik kedekatan NU dengan pemerintah memiliki nilai positif.

"Dengan dekat pemerintah, NU bisa menyampaikan aspirasi akar rumput lebih mudah ke pengambil kebijakan. Namun di sisi lain, peran NU sebagai kekuatan civil society semakin kehilangan daya kritisnya," ujar Khoirul Umam dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/12).

Yang terjadi belakangan, kedekatan tersebut membuat NU terlalu netral dan bahkan mendukung saat pemerintah menelurkan kebijakan kontroversial.

"Bahkan muncul juga statement mendukung Pilpres dikembalikan saja ke MPR, bukan lagi dipilih langsung oleh rakyat," katanya.

Mantan Ketua Tanfidz PCI-NU Queensland Australia ini menegaskan, NU butuh reorientasi arah politik kebangsaan agar semakin clear dan lebih tegas di bawah kepemimpinan Rois Am KH Miftakhul Ahyar dan Ketum PBNU terpilih, KH Yahya Cholil Staquf.

"PBNU tetap memiliki tanggung jawab modal untuk menjaga arah politik dan demokrasi Indonesia dengan memainkan peran strategis dalam konteks politik kebangsaan," pungkasnya.***

wwwwww