Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
21 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
22 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
21 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
21 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
21 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
21 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Beladiri

Batita Diduga Korban Perkosaan Datangi Komnas Perempuan

Batita Diduga Korban Perkosaan Datangi Komnas Perempuan
Kantor Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Jakarta. (foto: www.gonews.co)
Senin, 31 Januari 2022 20:20 WIB
JAKARTA - Seorang Ibu berinisial A mengadu ke Komnas Perempuan di Jakarta, Senin (31/1/2022). Ia mencari keadilan untuk Batitanya yang diduga mengalami perkosaan di atas kapal Feri dalam perjalanan dari Labuan Bajo ke Konawe Selatan pada 16 Desember 2021 lalu.

Dalam keterangan yang diterima GoNEWS.co, dugaan perkosaan dimulai ketika anaknya yang berinisial WOAAA mengaku celananya ada yang membuka. WOAAA adalah bocah perempuan kelahiran 19 Maret 2019 lalu. Usianya belum genap 3 tahun.

GoNews.co Batita WOAAA bersama Ibunya, A
Batita WOAAA bersama Ibunya, A, tengah berada di kantor kompleks kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (31/1/2022). (foto: www.gonews.co/dzulfiqar)

"Saya senter-senter kemaluan anak saya, saya sudah tidak enak perasaan," terangnya.

Setiba di Kendari, tutur A, dirinya melapor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Sulawesi Tenggara pada 17 Desember 2022.

"Lalu dinas mengantar saya ke Puskesmas, tapi Puskesmas tidak berani melakukan tindakan visum karena harus ada surat pengantar dari kepolisian. Sore harinya, saya ke Polda Sultra," tutur A.

Tanggal 18, A kembali mencoba melapor ke Polda berbekal rekaman CCTV dari pihak kapal, tapi respons belum juga memuaskan. Upaya laporan diulangnya pada tanggal 20 Desember 2021.

Hari itu, Ia bertemu Propam. Personel Propam mengatakan, "Kalau seandainya SPKT Polda hari itu juga tak menerbitkan surat tanda laporan, mereka-mereka akan bertindak."

"Makanya saat itu saya dapat surat laporan polisi dan pengantar visum," kata A.

Setelah itu, visum pun dilakukan di RS Bhayangkara Kendari. "Dokter Raja mengatakan, di dalam kemaluannya anak ku terdapat sperma," tuturnya.

Merasa laporannya di Polda Sultra tak kunjung ditindaklanjuti padahal sudah ada rekaman CCTV dan hasil visum, A pun pergi ke Jakarta.

"Saya di-BAP saja belum," ujarnya.

Bahkan pada suatu kesempatan, menurut A, Oknum Polda Sultra sempat mentertawakan dirinya.

"Lapor aja ke Tuhan! Masa anak sehat-sehat begini diperkosa. Terus kalau kita ambil laporan Ibu, Ibu kan tidak tinggal di Kendari," tutur A menirukan respons oknum polisi yang pernah Ia terima.

Untuk diketahui, A memang bukan warga Kendari. Berdasarkan laporan polisi nomor LP/B/592/XII/202/SPKT Polda Sulawesi Tenggara, A merupakan warga Rante Gola, Bone Gunu, Buton Utara.

Di Jakarta, selain mendatangi Komnas Perempuan, A juga mengaku sudah melapor ke Ombudsman RI pada Jumat 28 Januari 2022.

Saat ini, di tengah upayanya mencari keadilan hukum. Ia tinggal di masjid di pinggiran Jakarta. Dalam penuh ketakutan di Ibu Kota, sejumlah barangnya pun baru saja dicuri orang.

"Saya takut, saya merasa ada yang mengikuti, ini saya kecurian tadi malam. Saya tahajud tadi malam, dan dipertemukan dengan mas-mas wartawan sekarang," ujarnya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Beladiri, Nasional, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara
wwwwww