Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
15 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
2
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
Metropolitan
14 jam yang lalu
‎SGY Dukung Tiket Pantai Ancol Gratis, Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Kebijakan Tiket Masuk
3
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
4 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
4
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
4 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
5
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
3 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
6
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
4 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Tak Cuma PKB, Pengamat Sebut PBNU Sekarang Milik Banyak Partai, Paling Untung PDIP

Tak Cuma PKB, Pengamat Sebut PBNU Sekarang Milik Banyak Partai, Paling Untung PDIP
Ilustrasi PBNU. (Foto: Istimewa)
Rabu, 02 Februari 2022 12:52 WIB

JAKARTA - Struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah komando Ketua Umum Tanfidziyah, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), memiliki corak politik yang berbeda dari kepemimpinan sebelumnya.

Dalam pengamatan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, PBNU sebelum dipimpin Gus Yahya selalu diasosiasikan milik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Kini, corak politik itu tak lagi kental, sejak struktural PBNU masa khidmat 2022-2027 dikukuhkan di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Senin kemarin (31/1).

Dalam momentum tersebut, Adi melihat implementasi dari pernyataan Gus Yahya yang sejak awal terpilih menegaskan sikapnya yang tak ingin PBNU dijadikan alat politik bagi PKB yang kini dipimpin Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

"Apalagi beberapa waktu lalu PBNU menegur keras Cak Imin karena memamerkan dukungan sejumlah PWNU di Jawa Timur, itu disebut menyalahi etika politik di PBNU," ujar Adi, Rabu (2/2).

Contoh konkret dari sikap PBNU yang dipimpin Gus Yahya itu, dipaparkan Adi, juga terlihat dari tamu undangan yang hadir di dalam acara pengukuhan yang dirangkai bersamaan dengan perayaan harlah ke-96 NU.

Ditambah, terdapat sejumlah tokoh parpol yang duduk di pucuk pimpinan PBNU periode 2022-2027, yang di antaranya berasal dari PDI Perjuangan, Partai Golkar, dan PPP.

"PBNU sekarang ini sudah bisa diklaim oleh banyak partai. Salah satunya tentu ada PDIP," imbuh Adi.

Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini memperkirakan wajah PBNU sekarang bakal memberikan keuntungan ke salah satu partai besar di Indonesia.

Partai tersebut adalah PDIP. Alasannya, Adi melihat dalam momentum pengukuhan kepengurusan PBNU itu ada Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, yang menempel Presiden Joko Widodo yang memang sudah punya kedekatan dengan kaum Nahdliyin.

"Jadi kalau saya lihat begitu, wajah baru PBNU dalam banyak hal merugikan PKB dan Cak Imin. Tentu saja Puan ini orang yang dijagokan juga untuk maju Pilpres," demikian Adi.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Voli, Metropolitan, DKI Jakarta
wwwwww