Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
19 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
23 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
3
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
20 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
4
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
24 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
5
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
19 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
6
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
19 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Home  /  Berita  /  Voli

Dulu Ada Djunaidi Abdillah, Kini Muncul Junaidi Abdillah

Dulu Ada Djunaidi Abdillah, Kini Muncul Junaidi Abdillah
Kiper Timnas Sepakbola Amputasi Indonesia, Junaidi Abdillah. (Foto: Dok Pribadi)
Minggu, 26 Juni 2022 18:27 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Di era tahun 70 an, pecinta sepakbola Indonesia pasti mengenal nama Djunaidi Abdillah. Gelandang Timnas Indonesia ini punya teknik kelas dunia. Setiap umpanya selalu membuahkan gol. Bahkan, pemain kelahiran Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 21 Februari 1948 ini nyaris membukukan sejarah menjadi pemain Indonesia pertama di kasta tertinggi sepakbola Eropa.

Kiprahnya dalam skuad Garuda adalah bagian dari “tinta emas” sejarah sepakbola, beliau pernah merasakan polesan pelatih legendaris Indonesia, Wiel Coerver, juga pernah menjadi bagian dari Tim Nasional Indonesia yang disegani di Asia, termasuk pula bagian dari catatan sepakbola Abdillah adalah menahan keganasan The Red Devils, Manchester United tanpa gol.

Kini, muncul nama Junaidi Abdillah. Djunaidi Abdillah bukan gelandang Timnas tetapi kiper utama Tim Nasional (Timnas) Sepakbola Amputasi Indonesia yang akan berlaga pada Kejuaraan Dunia Sepakbola Amputasi di Turkiye, Oktober mendatang.

"Djunaidi Abdillah itu pemain pavorit almarhum ayah saya yang kebetulan mantan pemain Semen Padang. Makanya, almarhum memberi saya nama Junaidi Abdillah agar bisa menjadi pemain Timnas Indonesia," kata Junaidi Abdillah saat ditemui di tempat penginapan pemain Timnas Sepakbola Amputasi, Wisma Duta Wiyata Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (25/6/2022).

Pria kelahiran Bogor, Jawa Barat, 11 Agustus 1989 ini memang sejak kecil dilatih ayahnya, Asrul bermain bola. Dan, dia juga ingin terkenal seperti gelandang Timnas Sepakbola Indonesia. Sayangnya, keinginnan itu kandas tatkala Djunaidi Abdillah terjatuh pada usia 10 tahun yang mengakibatkan tangan kanannya patah.

GoNews.co Saat menjalankan tugas di Keme
Saat menjalankan tugas di Kemenkumham. (Dok. Pribadi)

"Waktu itu tulang tangan kanan saya patah sampai keuar menembus kulit dan sempat dibawa ke pengobatan tradisional. Mungkin tulang yang keluar itu tidak steril membersihkannya berakibat infeksi tulang sumsum sehingga terpaksa harus diamputasi," kenang putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Asrul dan Acih ini.

Keinginan menjadi pemain timnas sepakbola Indonesia itu terwujud tatkala Perkumpulan Sepakbola Amputasi Indonesia (PSAI) resmi berdiri tahun 2018. Djunaidi Abdillah termasuk salah satu pendiri PSAI.

"Saya itu termasuk salah satu pendiri PSAI. Makanya, saya senang dan bangga bisa mewujudkan impian almarhum bapak bisa memperkuat Timnas Sepakbola Amputasi Indonesia dan tampil di Piala Dunia," ujarnya.

GoNews.co Bersama Keluarga. (Dok; Pribad
Bersama Keluarga. (Dok; Pribadi)

Aksi Junaidi Abdillah dalam menyelamatkan gawang Indonesia patut mendapat pujian. Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkumham) ini cukup berani dalam aksinya dalam mengamankan gawang.

"Biasa kan kalau tendangan bola itu selalu diarahkan dimana kelemahan kipernya. Tadinya, saya sempat trauma menyelamatkan gawang dengan menepis bola pakai lengan kiri. Karena, itu terlalu beresiko. Tetapi, sekarang sih sudah biasa karena sudah melakukan latihan. Mudah-mudahan di Kejuaran Dunia nanti, saya akan berusaha tidak kebobolan lagi," tandasnya. ***

wwwwww