Puspita Mustika Adya Bisa Rasakan Perasaan M Fadly Tak Tampil di APG 2021 Solo
![]() |
| Puspita Mustika Adya dan istri saat bersama M Fadly. (Dok: Pribadi) |
Penulis: Azhari Nasution
Pelatih Paracyling pertama Indonesia ini juga bisa merasakan perasaan perih peraih medali emas Asian Para Games 2018, Muhammad Fadly Imammuddin yang tidak bisa bergabung dengan Kontingen ASEAN Para Games Indonesia. Apalagi, mantan anak asuhannya itu sudah berjibaku menjalani program latihan demi meraih prestasi di Velodrome Solo.
"Potensi cabor Paracyling itu menyumbangkan medali emas sangat besar. Sebagai pendiri Paracyling Indonesia, saya menyayangkan cabor paracyling tidak bisa dipertandingkan apalagi Indonesia sebagai tuan rumah APG 2022 menggantikan posisi Vietnam yang menolak," kata Puspita yang dihubungi Jumat, 8 Juli 2022.
"Saya sebagai mantan atlet bisa merasakan perasaan M Fadly dan kawan-kawan yang sudah berjibaku latihan selama ini. Mereka pasti tidak berani mengeluh apalagi mengungkapkan kesedihannya tidak bisa tampil di hadapan publiknya sendiri," tambahnya.
Puspita memang tercatat pelatih pertama Tim Paracyling Indonesia yang sukses. Berkat kerja kerasnya, Tim Paracyling Merah Putih mampu menyumbangkan 1 emas, 8 perak, dan 8 perunggu bagi Kontingen Para Games Indonesia di Asian Para Games Jakarta 2018.

Secara terpisah, Sekjen National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Rima Ferdianto mengatakan cabor Paracyling tidak dipertandingkan di ASEAN Para Games 2022 Solo karena tidak memenuhi kuota empat negara sesuai ketentuan.
"Hanya Thailand dan Indonesia saja peminatnya sementara kuotanya harus empat negara," kata Rima Ferdianto yang dihubungi Jumat (8/7/2022).
Lantas bagaimana dengan alasan kuota tersebut, Puspita menjelaskan lima negara Asia Tenggara pasti memiliki atlet paracyling pada setiap nomor yang dipertandingkan di APG. Bahkan, Puspita mengaku mendapat informasi dari salah seorang pendiri Paracyling Malaysia, Ramly Ibrahim yang menyebutkan Indonesia yang tidak menginginkannya.
Nama Puspita Mustika Adya tidak asing lagi di dunia balap sepeda Tanah Air. Pada masa jayanya, Puspita merupakan sprinter yang tak hanya merajai velodrom di berbagai ajang nasional, tetapi juga menjadi juara di ajang tingkat Asia Tenggara dan Asia.
Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 28 April 1966 ini pernah meraih medali emas SEA Games di Manila 1998 untuk nomor sprint 200 meter dan 1.000 meter Individual Time Trial (ITT). Tahun 1989, ia mencetak rekor baru SEA Games 1.000 meter ITT di Kuala Lumpur, Malaysia.

Terakhir di SEA Games 1991 Manila, ia meraih emas nomor 4.800 massed start. Sebagai pelatih ia telah mengantongi sertifikat IOC Cycling Course 1993, 1997, dan 2003 dengan gelar The Best Indonesia Coach dan pemilik sertifikat High Level Coacu UCI. Dan, ia sempat koma akibat kecelakaan saat menangani Tim Balap Sepeda Brunai Darusalam tahun 2008.
Sebagai pecinta balap sepeda, Puspita didampingi istri Riries Widya membidani paracycling di Indonesia dari tahun 2016-2017. Perjuangan Puspita menggelar Trainning Camp (TC) dengan menggunakan dana pribadi dan sebagian sponsor bisa mengantarkan M Fadly yang mantan pebalap motor itu menempati peringkat empat pada Kejuaraan Paracycling Asia 2017. Ini merupakan pertama kali Indonesia tampil di Paracyling Asia.
Pada ASEAN Para Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia, Puspita memberangkatkan 4 atlet paracycling yakni Dewi, Wayan Damai, M Fadly dan Saori tanpa TC. Berbekal surat mandat NPC Indonesia dengan sangu doa dari Pengurus Besar Ikatan Sports Sepeda Indonesia (PB ISSI), Tim Paracycling Indonesia bisa menyumbangkan 2 emas, 3 perak, dan 7 perunggu.
Pada saat Indonesia tuan rumah Asian Paragames 2018, Puspita membuatkan program latihan untuk 16 atlet berbeda ebility beda kelas. Hasilnya, M Fadly mencatat tinta emas dengan menjadi atlet paracyling pertama Indonesia yang menyumbangkan medali emas bagi Kontingen Para Games Indonesia. ***
| Kategori | : | Non Olympic, DKI Jakarta |













