Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
24 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
24 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
23 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
24 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
5
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
23 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
23 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Non Olympic
Kisah Perjalanan Legenda Pebalap Sepeda (Bagian-1)

Puspita Mustika Adya, Menjual Rumah Demi Mendirikan Paracycling Indonesia

Puspita Mustika Adya, Menjual Rumah Demi Mendirikan Paracycling Indonesia
Puspita saat mengurut kaki peraih medali emas Asian Para Games 2018 Jakarta, M Fadly. (Dok. Pribadi)
Minggu, 10 Juli 2022 23:56 WIB
Penulis: Azhari Nasution
NAMA  legenda balap sepeda Puspita Mustika Adya kembali muncul tatkala Indonesia sebagai tuan rumah Asian Para Games 2018. Lewat sentuhan mantan pebalap sepeda nasional ini yang mengantongi sertifikat kepelatihan high level coach organisasi balap sepeda internasional (UCI), Tim Paracyling Indonesia mampu menyumbangkan 1 medali emas, 8 perak, dan 8 perunggu.

Yang lebih mengesankan lagi, Puspita mampu memunculkan nama Muhammad Fadly Immamuddin (sesuai KTP/paspor). Mantan pebalap motor yang kaki kirinya diamputasi akibat tabrakan di arena sirkuit ini mengukir tinta emas dengan menjadi satu-satunya atlet paracyling meraih medali emas di ajang pesta olahraga atlet disabilitas Asia itu.

Berkibarnya cabang olahraga paracyling itu tidak datang begitu saja melainkan lewat perjuangan Puspita Mustika Adya yang ditunjuk sebagai Ketua Komite Paracyling Indonesia di Pengurus Besar Ikatan Sports Sepeda Indonesia (PB ISSI) di bawah kepemimpinan Raja Sapta Oktohari.

Puspita bersama istrinya, Riries Widya mendirikan paracycling di Indonesia dari tahun 2016-2017. Keduanya, mulai mendata atlet paracyling yang bakal direkrut termasuk M Fadly.

"Istri saya, Riries Widy sempat menjual rumah miliknya pada tahun 2016 untuk biaya pendirian paracyling Indonesia dan juga untuk membiayai perjalanan atlet paracyling binaan tampil di berbagai event," kata Puspita Mustika Adya yang dihubungi baru-baru ini.

"Saya masih ingat waktu kami mendirikan paracycling ada yang pesimistis. Tetapi, saya tetap mendorong Puspita untuk mewujudkan impiannya ingin mencetak atlet paracyling berprestasi dan membawa harum nama bangsa dan negara. Dan, saya dengan Puspita yang mendatangi M Fadly ke rumahnya di Sentul agar mau bergabung dengan Tim Paracycling Indonesia," timpal Riries Widya.

GoNews.co Puspita bersama Riries Widya d
Puspita bersama Riries Widya dan atlet paracyling Indonesia. (Dok. Pribadi)

Saat itu, Puspita dan Riries Widya memang dihadapkan dengan tantangan yang berat. Apalagi, keduanya nekad menggelar Trainning Camp (TC) bagi atlet paracycling dengan menggunakan dana pribadi dan sebagian dukungan sponsor. Namun, usaha dan keikhlasan mereka berbuah hasil.

Mantan pebalap motor M Fadly yang dibina Puspita secara serius di Velodrom Solo, Jawa Tengah, mampu menempati peringkat empat pada Kejuaraan Paracycling Asia 2017. Padahal, M Fadly tercatat sebagai atlet paracyling pertama Indonesia yang tampil di ajang event Paracyling Asia.

Tidak hanya sampai di situ saja. Pada ASEAN Para Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia, Puspita dengan keyakinannya berani memberangkatkan 4 atlet paracycling yakni Dewi, Wayan Damai, M Fadly dan Saori tanpa TC.

"Kami hanya berbekal surat mandat NPC Indonesia dengan sangu doa dari Pengurus Besar Ikatan Sports Sepeda Indonesia (PB ISSI). Alhamdulillah, Tim Paracycling Indonesia mampu menyumbangkan 2 emas, 3 perak, dan 7 perunggu bagi Kontingen Indonesia. Ini sebuah berkah dari Allah SWT," ungkapnya. 

Pada masa jayanya, Puspita merupakan sprinter yang tak hanya merajai velodrom di berbagai ajang nasional, tetapi juga menjadi juara di ajang tingkat Asia Tenggara dan Asia. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 28 April 1966 ini pernah meraih medali emas SEA Games di Manila 1998 untuk nomor sprint 200 meter dan 1.000 meter Individual Time Trial (ITT). Tahun 1989, ia mencetak rekor baru SEA Games 1.000 meter ITT di Kuala Lumpur, Malaysia.

Terakhir di SEA Games 1991 Manila, ia meraih emas nomor 4.800 massed start. Sebagai pelatih ia telah mengantongi sertifikat IOC Cycling Course 1993, 1997, dan 2003 dengan gelar The Best Indonesia Coach dan pemilik sertifikat High Level Coach UCI. Dan, ia sempat koma akibat kecelakaan saat menangani Tim Balap Sepeda Brunai Darusalam tahun 2008.

Penulis : Azhari Nasution, Wartawn Gonews.co Group. ***


wwwwww