Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
15 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
15 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
15 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
15 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
15 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
15 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Olympic

Brigpol J Pelaku Atau Korban? Ini Kata Seksolog Zoya Amirin

Brigpol J Pelaku Atau Korban? Ini Kata Seksolog Zoya Amirin
Seksolog Zoya Amirin. (Foto: Istimewa)
Senin, 18 Juli 2022 13:46 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Seksolog Zoya Amirin menyuarakan komentar serius terkait reaksi dunia maya terhadap peristiwa dugaan pelecehan seksual yang dialami Istri dari Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri, Irjen Ferdy Sambo yang diduga dilakukan oleh ajudan sendiri.

Lewat unggahan video di Channel Youtube Zoya Amirin berjudul 'Brigpol J: Pelaku atau korban?' pada Minggu (17/07/2022), Zoya meminta warganet segera mengakhiri tudingan dan opini-opini yang justru akan semakin memperkeruh keadaan.

"Saya disini bukan berkapasitas untuk membela pihak manapun. Fokus saya adalah soal pelecehan seksual, karena menurut saya, komentar para netizen kian hari kian menjadi 'Victim Blaming' (menyudutkan korban kekerasan, red)," ujar Zoya.

Menurutnya, posisi istri Istri Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi (PC) adalah korban yang disudutkan atau tersudutkan.

"Siapapun pelakunya, budaya 'victim blaming' adalah dasar yang paling besar untuk membentuk Rape Culture. Kerena bagi saya, pembunuhan sadis, kekerasan seksual tidak akan terjadi kalau tidak adanya Victim Blaming. Ketika orang bilang, akh enggak mungkin terjadi kekerasan, perkosaan atau pelecehan seperti ini, lihat dong kedudukannya? Kemudian ada yang bilang perkosaan hanya terjadi pada perempuan yang gak baik, ini yang menurut saya sangat-sangat keliru," tegasnya.

Ia juga sempat menyoroti salah satu komentar netizen yang Ia anggap menyudutkan korban. Di mana, ada netizen yang mengatakan 'terus menerus menagis karena harus menjelaskan apa yang terjadi, ini menunjukkan sang isteri mau lepas tanggungjawab'. Menurutnya itu adalah hal yang lucu. Dengan menangis, kata dia, sejatinya korban tidak harus menjelaskan secara tuntas. Ia menjelaskan, ada individu yang ketika shock menjadi menangis, ada yang langsung minta bantuan, dan ada yang marah saat menerima pelecehan seksual.

"Nah dalam kasus ini, ada dua kejadian traumatis menurut saya, pertama dengan kejadian pelecehan, kemudian kedua trauma atas kejadian penembakan. Jadi plis jangan menyalahkan korban, kita jangan membudayakan Victim Blaming," paparnya.

Zoya menegaskan, kekerasan dan pelecehan seksual akan terjadi kepada siapa saja, tidak melihat jenderal atau pejabat rendahan. Karena baik pelaku dan korban bisa terjadi pada siapapun.

"Karena ada beberapa kategori dalam pelecehan seksual itu, pertama pelaku yang ingin bertujuan memepermalukan dan menyakiti. Kemudian tipe pelaku yang ingin menunjukkan kekuasaan, bahwa dia itu jago dan ingin membuktikan diri sendiri. Ketiga, adalah pelaku yang cemburu dan bertindak brutal bahkan melakukan tindakan sadis dalam memperkosa korban," katanya.

"Ada tipe kompetisi, pelaku yang ingin menunjukkan bahwa dia tidak bisa disaingi. Pada intinya semua perkosaan terjadi karena suatu paksaan. Saya berfikir mari sama-sama menghormati proses hukumnya dan tinggalkan budaya Victim Blaming," sambungnya.***

wwwwww