Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
Kemenpora
8 jam yang lalu
Mengenal Diri Bukan Mendiagnosis Diri, Pesan Fanny Ghassani dan Samanta Clara di IYS 2026
2
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
Kemenpora
8 jam yang lalu
Menpora Erick Serahkan Penghargaan Pemenang di IYS 2026
3
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
Nasional
7 jam yang lalu
Gagasan Kehadiran Staf Khusus Presiden Bidang Keolahragaan Memperkuat Ekosistem Olahraga
4
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
Sepakbola
5 jam yang lalu
Zlatko Runje Gantikan Igor Tolic Saat Jamu Kalteng FC
5
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
Basket
10 jam yang lalu
Makin Panas, Empat Tim Lolos Bersaing di Semifinal
6
Kiko Carneiro Tak Mau Kecolongan Lawan Persita
Sepakbola
8 jam yang lalu
Kiko Carneiro Tak Mau Kecolongan Lawan Persita
Home  /  Berita  /  Basket

Tragedi Kanjuruhan, Ultras Rayo Vallecano Spanyol: Mereka Bukan Meninggal Tapi Dibunuh!

Tragedi Kanjuruhan, Ultras Rayo Vallecano Spanyol: Mereka Bukan Meninggal Tapi Dibunuh!
Ultras Rayo Vallecano nilai korban Tragedi Kanjuruhan dibunuh (Angel Martinez/Getty Images)
Kamis, 06 Oktober 2022 12:48 WIB
MADRID - Ultras Rayo Vallecano, klub Liga Spanyol, membuat pesan soal Tragedi Kanjuruhan. Isinya berbunyi, 'Mereka bukan meninggal, tapi dibunuh!'

Momen itu terlihat jelang laga Rayo Vallecano melawan Elche di Campo de Futbol de Vallecas, Selasa (4/10/2022). Ultras turut membentangkan spanduk bertuliskan pesan dukungan.

"No son muertes, son asesinatos," tulis ultras Rayo Vallecano dalam bahasa Spanyol.

Tulisan itu punya makna pedas. "Mereka bukan meninggal, tapi dibunuh!" begitu bunyi dalam spanduk ultras Rayo Vallecano.

Tragedi Kanjuruhan terjadi usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam WIB. Usai laga, invasi suporter ke lapangan ditanggapi aparat dengan kekerasan.

Sampai akhirnya, gas air mata dilepaskan petugas ke berbagai penjuru stadion. Penonton yang panik langsung berebut keluar stadion.

Pintu stadion yang terkunci dari luar membuat penonton banyak yang terinjak-injak, dan akhirnya kehabisan napas di dalam stadion. Laporan terakhir menyebut, 131 orang tewas, jumlah korban tewas terbanyak kedua dalam sejarah sepakbola.

Usai kejadian, banyak yang menyoroti penggunaan gas air mata kepada penonton. Kepanikan akibat gas beracun itu menyebabkan banyak tewas dalam Tragedi Kanjuruhan.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Olympic, Basket, Non Olympic, Sepakbola, DKI Jakarta
wwwwww