Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
7 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
2
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
6 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
3
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
Hukum
1 jam yang lalu
Kerapatan Adat Nagai Silaut Perjuangkan Keadilan Status Tanah
4
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
Sepakbola
1 jam yang lalu
Darije Kalezic Kecewa, Rizky Eka Tetap Minta Dukungan Suporter PSM
5
Pujian Osmar Loss buat Mentalitas Pemain Dewa United FC
Sepakbola
1 jam yang lalu
Pujian Osmar Loss buat Mentalitas Pemain Dewa United FC
6
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Sepakbola
1 jam yang lalu
Pujian Cara Pemain Bali United Berjuang Raih Kemenangan Tandang Perdana
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Pengamat Sepakbola Pertanyakan Validitas Surat TGIPF Yang Beredar

Pengamat Sepakbola Pertanyakan Validitas Surat TGIPF Yang Beredar
Tragedi Kanjuruhan. (Twitter)
Sabtu, 15 Oktober 2022 19:05 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Pengamat sepak bola Yohanes Sugianto mempertanyakan validitas 14 halaman soft copy surat yang berisi rekomendasi dari Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF). Soft copy dalam bentuk pdf ini banyak beredar di Grup WA.

"Ini kan ada 14 halaman yang muncul. Pertama, patut digarisbawahi bahwa kejadian di Kanjuruhan ini lebih besar dan dahsyat dari yang beredar di media sosial ataupun di televisi," ucapnya.

Sebab, rekonstruksi dari bukti CCTV yang jumlahnya cukup banyak menggambarkan bahwa kejadian di Kanjuruhan itu memang lebih mengerikan. Karena itu, TGIPF sampai berani bicara soal keselamatan rakyat itu yang utama di hadapan hukum, tetapi sudah terinjak-injak dalam Tragedi Kanjuruhan.

Selain itu, pria yang juga kolumnis tersebut menganggap bahwa validitas surat yang disebut isi rekomendasi TGIPF layak dipertanyakan. Bukan hanya karena potongan halaman tertentu saja, tetapi juga tidak dibubuhi tanda tangan, logo, ataupun kop surat resmi.

"Tim ini kan dibentuk pemerintah, langsung ke Presiden. Ada Keppres-nya dan diketua oleh Menteri lho, kok enggak ada validitasnya di surat itu," ungkapnya.

Dengan fakta tersebut, alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menganggap bahwa surat rekomendasi yang banyak beredar itu seperti surat yang sengaja diedarkan untuk menimbulkan kegaduhan.

"Ini kesimpulan dan rekomendasi yang penting. Kalau memang disuruh bertanggung jawab, tinggal menunggu saja bagaimana nanti PSSI. Namun, soal itu benar dan tidak surat dalam bentuk PDF yang banyak beredar itu, ya, layak dipertanyakan," tuturnya.

Memang, Ketua TGIPF Mahfud MD sempat mengumumkan rekomendasi, intinya ialah permintaan Presiden Joko Widodo agar proses penyelidikan tindak pidananya terus dilanjutkan. Selain itu, juga ada permintaan berbagai pihak agar bertanggung jawab secara moral setelah Tragedi Kanjuruhan terjadi. ***

wwwwww