Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
Sepakbola
24 jam yang lalu
Lawan Persib, Mundari Karya Optimistis Curi Poin
2
Penurunan Muka Tanah Jakarta Melambat, PAM Jaya Ungkap Peran Air Perpipaan
Korporasi
24 jam yang lalu
Penurunan Muka Tanah Jakarta Melambat, PAM Jaya Ungkap Peran Air Perpipaan
3
Kesempatan Frediric Injay Balas Kekalahan Lawan Garudayaksa
Sepakbola
24 jam yang lalu
Kesempatan Frediric Injay Balas Kekalahan Lawan Garudayaksa
4
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
Lingkungan
4 jam yang lalu
FASTA DKI-Sispala Desak Penegakan Hukum Karhutla Tanpa Kompromi
5
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Hiburan
3 jam yang lalu
Tolak Konser Andrea Bocelli di Jakarta, Dailami Minta Pemerintah Tegas
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Ubah Mindset Atlet Terhadap Acuan Prestasi, NOC Indonesia Gandeng IOA

Ubah Mindset Atlet Terhadap Acuan Prestasi, NOC Indonesia Gandeng IOA
Ketua NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari saat berbicara dalam seminar “Leadership Spirit of Olympism”. (Foto: NOC Indonesia)
Sabtu, 15 Oktober 2022 17:53 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Atlet-atlet Indonesia harus diubah mindsetnya dalam mengangkat prestasi olahraga Indonesia di kancah dunia. Untuk itu, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari mengajak Indonesian Olympian Assosiation (IOA) bergerak bersama mengubah mindset atlet-atlet Indonesia dengan menjadikan Olimpiade sebagai puncak acuan prestasi.

Hal tersebut dikatakan Okto, sapaan karib Raja Sapta, dalam seminar “Leadership Spirit of Olympism” yang diadakan IOA di Function Hall Kantor NOC Indonesia, Sabtu (15/10), Okto hadir didampingi Komite Eksekutif NOC Indonesia, Jadi Rajaguguk dan Wakil Sekretaris Jenderal IV Daniel Loy.

“Saat ini masih banyak yang gagal paham terhadap acuan prestasi. Banyak atlet yang masih menjadikan SEA Games target utama Padahal seharusnya sasaran puncak adalah Olimpiade sebagai tingkatan tertinggi multievent di dunia,” kata Okto.

Situasi ini, diterangkan Okto, dikarenakan banyak yang belum paham dengan apa yang tertulis dalam Olympic Charter atau Piagam Olimpiade. Untuk itu, Okto meminta IOA turut membantu NOC Indonesia menyosialisasikannya, terutama terkait Olympic Movement (Gerakan Olimpiade) serta Olympic Values (Nilai-nilai Olimpiade).

IOA, dikatakan Okto, menjadi instrumen penting dalam membawa pesan penting tersebut. Sebab, para olympian yang memiliki pengalaman berlaga di pesta olahraga paling prestisius di dunia dan menjadi tokoh utama yang pernah merasakan nilai-nilai Olimpiade, yakni excellence (keunggulan), respect (saling menghormati), dan friendship (persahabatan).

“Buat saya pengalaman mendampingi atlet di dua Olimpiade, Rio de Janeiro (2016) dan Tokyo (2020) sungguh luar biasa. Saya yakin para Olympian pun merasakan ambience yang berbeda ketika tampil di Olimpiade dan memang untuk tampil di Olimpiade membutuhkan proses yang tidak instans,” kata Okto.

“Saya yakin para Olympian dapat merasakan bagaimana seorang atlet dapat menunjukkan perjuangan untuk mencapai keunggulan (excellence), bagaimana kita bisa menghormati lawan kita di dalam dan di luar lapangan, dan bagaimana kita bisa mendapatkan persahabatan dalam komunitas olahraga, tak terbatas gender, ras, agama, hingga warna kulit. Ini harus kita sebarkan bersama.” ***

wwwwww