Bentuk Organisasi Baru Solusi Dualisme Tenis Meja dan Munas Akan Selesaikan Dualisme Anggar
![]() |
| Menpora Dito Ariotedjo saat peresmian BAKI. (Ist) |
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Jumat, 18 Oktober 2024, olahraga Indonesia memasuki era baru. Hari itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Dito Ariotedjo meresmikan Badan Aribitrase Keolahragaan (BAKI).
Keberadaan BAKI yang menjadi satu-satunya badan arbitrase di Tanah Air ini diyakini bakal mampu menyelesaikan sengketa olahraga. Pasalnya, Komite Olahraga Indonesia (NOC Indonesia) dan KONI Pusat sepakat mendukung BAKI.
Tidak heran jika Menpora Dito dengan lancar menjawab pertanyaan wartawan Gonews.co Group terkait dualisme organisasi tenis meja dan anggar.
Terkait dualisme di tubuh Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI), Menpora Dito menyebut akan ada pembentukan organisasi baru sebagai induk utama dari cabang olahraga tenis meja di Indonesia untuk menuntaskannya. "Nanti akan dibikin organisasi yang baru yang sudah disetujui kedua pihak federasi," kata Dito Ariotedjo.
Sedangkan anggar yang diketahui terjadi dualisme di tubuh Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) yakni PB IKASI dibawah kepemimpinan Agus Suparman dan PB IKASI di bawah kepemimpinan Amir Yanto, Menpora Dito menyebut akan ada Musyawarah Nasional (Munas). “Nanti akan ada Munas,” tegasnya.
Seperti diketahui dualisme dalam kepengurusan PTMSI sudah mencuat ke permukaan sejak tahun 2011 lalu. Persoalan yang tak tuntas hingga 13 tahun ini menimbulkan dampak negatif terhadap pembinaan atlet cabor tenis meja.
Dua kubu itu adalah Pengurus Besar PTMSI (PB PTMSI) yang dipimpin oleh Ketua Umum Peter Layardi Lay serta Pengurus Pusat PTMSI (PP PTMSI) yang dipimpin Komjen Pol (Purn) Oegroseno.
Selain dampak pembinaan, permasalah ini membuat cabang olahraga tenis meja sempat absen dalam dua edisi SEA Games, masing-masing pada tahun 2019 dan 2021. Cabor itu kemudian baru kembali tampil di ajang SEA Games 2023 Kamboja.
Dito memastikan bahwa masing-masing pimpinan pun sudah menemuinya dan sepakat untuk membentuk federasi baru. "Nantinya dalam pembentukannya, kita mengedepankan stakeholders, bagaimana klub-klub itu kita libatkan dan juga seluruh potensi di daerah. Persoalan tidak sampai ke proses arbitrasi atau sengketa [lebih lanjut]," ujarnya.
Dito sebelumnya sempat mengundang kedua ketua umum ke rumahnya pada tahun 2023 lalu sebelum tenis meja kembali berlomba di SEA Games.
Dalam pertemuan itu, mereka membahas normalisasi federasi tenis meja Indonesia yang dilaksanakan sesuai peraturan berlaku untuk mengakhiri sengkata panjang tersebut. ***
| Kategori | : | Non Olympic, DKI Jakarta |













