Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
Kemenpora
10 jam yang lalu
Menpora Erick Dorong RUU Kepemudaan Lahirkan Solusi Nyata
2
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
Metropolitan
16 jam yang lalu
Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Jabodetabek Sore Hari Ini
3
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
Metropolitan
9 jam yang lalu
Pemprov DKI Perketat Syarat Penerima Bantuan Iuran JKN, Prioritaskan Desil 1-5
4
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
Sepakbola
10 jam yang lalu
Tampil Spartan, Marcelo Djalo Terpaksa Ganti Sepatu Yang Jebol
5
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
Kemenpora
9 jam yang lalu
Meninggalnya Syabilla Rizkia, Menpora Erick Minta Evaluasi Menyeluruh Keselamatan Atlet
6
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
5 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Home  /  Berita  /  Non Olympic

Taufik Hidayat Ditunjuk Jadi Wamenpora, Menteri Dito: Sosoknya Jadi Inspirasi Generasi Muda

Taufik Hidayat Ditunjuk Jadi Wamenpora, Menteri Dito: Sosoknya Jadi Inspirasi Generasi Muda
Menpora Dito Ariotedjo. (Kemenpora.go.id)
Senin, 21 Oktober 2024 18:00 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Dito Ariotedjo menyambut baik kehadiran Taufik Hidayat yang menjadi wakil menteri untuk mendampinginya. Sosoknya disebut menjadi inspirasi bagi generasi muda.

"Nah dengan adanya mas Taufik ini saya rasa sangat positif, dimana ketokohan beliau sangat inspirasi bagi generasi muda," ujar Menpora Dito di Kemenpora, Jakarta, Senin (21/10/2024). 

Taufik Hidayat merupakan mantan atlet bulu tangkis berprestasi pada level dunia. Menpora Dito menyebut hadirnya legenda olahraga Tanah Air itu akan memberikan tambahan energi yang positif di Kemenpora.

"Pasti akan ada delegasi tugas-tugas yang saya rasa akan bagaimana nanti menyentuh langsung para cabang olahraga dan anak muda," sebut Menpora Dito.

"Di dunia olahraga, mas Taufik ini legenda dan ketika turun saya yakin akan memberikan energi dan atmosfer positif," sambungnya.

Lebih lanjut, Menpora Dito bilang jika dirinya sudah berkomunikasi dengan Taufik Hidayat. "Sudah-sudah (ngobrol). Pastinya beliau menyampaikan bagaimana bisa membantu Kemenpora dan banyak hal yang saya rasa kita harus bagi badan untuk saling berkoordinasi," pungkasnya. 

Perjalanan Taufik Hidayat

Taufik Hidayat yang lahir di Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1981, Taufik sudah memiliki minat dan bakat untuk menjadi seorang pebulu tangkis sejak kecil. Semasa kecilnya di Bandung, Taufik bergabung dengan klub bulu tangkis SGS PLN Bandung dan berada di bawah bimbingan Iie Sumirat.

Putra dari pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah ini di usianya yang masih 16 tahun, Taufik meraih gelar juara Kejuaraan Asia Junior 1997 di Manila untuk tunggal putra. Ia membawa tim putra junior Indonesia membawa pulang medali perak atau runner up pada ajang yang sama.

Pada usia 17 tahun, Taufik kembali keluar sebagai juara Brunei Open 1998 dan mencapai babak semifinal Kejuaraan Asia 1998 serta Indonesia Open 1998.

Pada tahun 1998, ia bersama tim bulu tangkis putra Indonesia keluar sebagai juara Asian Games Bangkok 1998. Lalu, ia meraih gelar Indonesia Open 1999. Di tahun yang sama, Taufik mencapai final Turnamen All England dan Singapore Open tapi kalah dari legenda bulu tangkis Inggris Peter Gade dan seniornya di tim nasional, Hariyanto Arbi.

Pada tahun 1999, ia juga membawa pulang medali emas untuk tunggal putra dan beregu putra pada SEA Games Bandar Seri Begawan, serta beregu putra Piala Asia Ho Chi Minh.

Taufik mencapai peringkat nomor satu dunia saat berusia 19 tahun setelah menjuarai Malaysia Open, Kejuaraan Asia, Indonesia Open, dan menjadi finalis All England sekali lagi.

Ia tampil pertama kali di Olimpiade Sydney 2000. Namun, ia dikalahkan Ji Xinpeng dari China di babak perempat final. Pada Olimpiade 2024 Athena, Taufik membuat kejutan dengan meraih medali emas. Ia mengalahkan para pemain unggulan seperti Wong Choong Hann (Malaysia), Peter Gade (Inggris), dan Shon Seung-mo (Korea Selatan).

Pada tahun yang sama, Taufik juga berhasil mempertahankan gelar Indonesia Open serta meraih Juara Asia keduanya. Pada tahun yang sama, Taufik juga berhasil mempertahankan gelar Indonesia Open serta meraih Juara Asia keduanya.

Pada Agustus 2005, Taufik meraih gelar Juara Dunia 2005 di Anaheim, Amerika Serikat, mengalahkan pemain peringkat satu dunia, Lin Dan di babak final.

Prestasinya ini menjadikan Taufik sebagai pemain tunggal putra pertama yang memegang gelar Kejuaraan Dunia dan Olimpiade secara berturut-turut.

Pada rentang 2006-2007, Taufik menjuarai Asian Games Doha 2006, Indonesia Open 2006, Kejuaraan Asia Johor Bahru 2007, dan SEA Games Nakhon Ratchasima 2007.

Sepanjang kariernya, Taufik telah mengoleksi tiga gelar individual Juara Asia (2000, 2004, 2007), dua emas Asian Games (2002, 2006), dua emas SEA Games (1999, 2007), dan enam gelar juara turnamen individual bergengsi Indonesia Open (1999, 2000, 2002, 2003, 2004, 2006).

Empat tahun setelah Olimpiade Athena, Taufik kemudian mengikuti Olimpiade Beijing 2008 dan harus tersingkir di babak kedua. Satu tahun setelahnya, Taufik memutuskan keluar dari Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) PBSI Cipayung dan menjadi pemain profesional.

Pada tahun 2012, ia berkompetisi di Olimpiade terakhirnya di London, dan kembali gugur di babak 16 besar. Di tahun yang sama, ia membangun sebuah pelatihan bulu tangkis Taufik Hidayat Arena (THA) di Ciracas, Jakarta Timur.

Selain menorehkan prestasi secara perorangan, Taufik juga turut memperkuat skuad bulu tangkis Indonesia dalam beberapa kejuaraan beregu dunia. Ia membawa tim untuk meraih Piala Thomas pada tahun 2000 dan 2002 di Kuala Lumpur dan Guangzhou.

Sementara pada edisi 2004, 2006, dan 2008, tim bulu tangkis putra harus puas meraih medali perunggu, serta pada 2010 dengan medali perak.

Pada Kejuaraan Beregu Campuran Piala Sudirman, ia dan tim bulu tangkis Indonesia membawa pulang medali perak untuk edisi 2001, 2005, dan 2007. Sementara pada tahun 1999, 2003, dan 2011, skuad Indonesia harus puas dengan medali perunggu.

Pada Asian Games 1998, tim putra yang juga diperkuat oleh Taufik meraih medali emas. Sementara pada edisi 2002 tim putra harus puas dengan medali perak, dan di tahun 2006 serta 2010, skuad putra membawa pulang medali perunggu.

Sepanjang kariernya di bulu tangkis, Taufik telah mengoleksi 413 kemenangan dan hanya menelan 138 kekalahan. Pada 2013, Taufik Hidayat mengakhiri kariernya atau pensiun sebagai atlet bulu tangkis.  ***

wwwwww