Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
Umum
22 jam yang lalu
Blokir Akses Kredit Bank, Singapura Bidik Korporasi Biang Kerok Kabut Asap Lintas Batas
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
16 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
14 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
4
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
15 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
5
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
15 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
6
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Umum
23 jam yang lalu
Babat Praktik Curang Makan Bergizi Gratis, Kepala BGN Pastikan Tak Anti Kritik
Home  /  Berita  /  Ekonomi

PTPN Dorong Program PSR dengan Tumpang Sari Padi Gogo untuk Swasembada Pangan

PTPN Dorong Program PSR dengan Tumpang Sari Padi Gogo untuk Swasembada Pangan
Dirut PTPN III (Persero) Muhammad Abdul Ghani dan Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa di tengah bibit sawit di salah satu sentra bibit di Riau.
Selasa, 26 November 2024 11:17 WIB
PEKANBARU – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui subholding PT Perkebunan Nusantara IV memperkenalkan inovasi peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan pola tumpang sari atau intercropping menggunakan padi gogo. Program ini diinisiasi untuk memanfaatkan lahan sawit yang belum menghasilkan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Direktur Utama PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani, menyebutkan bahwa dari total 16,38 juta hektare kebun sawit di Indonesia, sekitar 42 persen atau 6,94 juta hektare adalah milik rakyat.

“Dari angka tersebut, 2,8 juta hektare sawit rakyat saat ini sudah berusia di atas 25 tahun dan membutuhkan peremajaan segera,” kata Abdul Ghani dalam keterangannya, Selasa (26/11/2024).

Selama proses peremajaan, yang biasanya memakan waktu sekitar dua tahun sebelum sawit mulai menghasilkan, lahan kerap tidak dimanfaatkan. Untuk itu, PTPN meluncurkan program intercropping, memanfaatkan lahan sawit rakyat untuk menanam padi gogo.

“Di fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), padi gogo dapat ditanam sebagai tanaman sela. Potensinya besar untuk mendukung swasembada pangan nasional,” ungkapnya.

Dimulai dari Siak sebagai Pilot Project

Program yang diberi nama Tanam Padi Nusantara (TAMPAN) akan dimulai di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, sebagai proyek percontohan. Direktur PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menjelaskan bahwa intercropping ini akan diterapkan di lahan PSR binaan Koperasi Produsen Karya Maju, Kampung Berumbung Baru, Kecamatan Dayun.

“Untuk tahap awal, 60 hektare lahan PSR akan diolah. Dari total tersebut, sekitar 20 hektare akan dimanfaatkan untuk menanam padi gogo,” jelas Jatmiko.

Padi gogo dipilih karena sifatnya yang tidak memerlukan pengairan khusus, cocok untuk ditanam di ladang atau kebun dengan curah hujan cukup.

Hingga 2029, PTPN IV menargetkan penerapan pola intercropping di ribuan hektare lahan PSR setiap tahunnya. “Jika berhasil, ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi solusi optimalisasi lahan tanpa membuka lahan baru,” tambahnya.

Untuk memastikan keberhasilan program, PTPN menggandeng sejumlah pihak, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), serta kementerian dan lembaga terkait.

Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, mendukung penuh inisiatif ini dan menyebutkan bahwa potensi tumpang sari padi gogo di lahan PSR dapat memberikan tambahan produksi beras nasional.

“Sekitar 470 ribu hektare lahan PSR berpotensi menghasilkan tambahan 1,1 juta ton beras per tahun,” jelasnya.

Jatmiko juga mengapresiasi kerja sama yang terjalin dengan IPB, RPN, dan berbagai pihak lain dalam mendukung riset dan pelaksanaan program. “Program ini membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, hingga petani. Dengan kolaborasi kuat, kami optimistis ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Ekonomi, Riau
wwwwww