Taklukkan Cook Islands dan Bungkam Filipina, Indonesia Juara di Kartini T20 Bali
![]() |
| Pemain Timnas Cricket Putri Indonesia saat bersiap melakukan pukulan. (dok. PP PCI) |
Penulis: Azhari Nasution
Pertandingan final ini menghadirkan atmosfer yang luar biasa. Disaksikan ratusan pendukung tuan rumah yang memadati tribun dan berdiri di tepian lapangan, Indonesia berhadapan kembali dengan Cook Islands, lawan yang sempat mereka kalahkan di babak grup.
Cook Islands melakukan batting lebih dahulu, namun lini bowling Indonesia tampil disiplin. Dalam 20 over, tim dari Pasifik Selatan itu hanya mampu mencetak 57 run, kehilangan 9 wicket. Lini serang Indonesia lalu menjawab tantangan itu dengan permainan yang penuh tekanan, sempat kehilangan 7 wicket, namun berhasil mencetak 58 run di over ke-17.4.
Kemenangan dengan 3 wicket tersisa itu langsung disambut dengan pelukan, sorak, dan air mata bangga dari para pemain dan pelatih.
Kemenangan di partai puncak itu sekaligus mempertegas dominasi Indonesia sepanjang turnamen. Dalam tiga laga babak grup, Indonesia selalu menang. Mereka mengalahkan AIWCA, klub putri asal Australia, dengan keunggulan mutlak dalam waktu hanya 3,4 over. Namun kemenangan paling mengesankan datang saat melawan Filipina. Dalam laga yang berlangsung pada 10 April, Indonesia mencetak skor tertinggi turnamen, yakni 132/8, lalu membatasi Filipina hanya di 56 run. Kemenangan dengan selisih 76 run menjadi yang terbesar di antara semua pertandingan, sekaligus memperlihatkan kekuatan penuh tim Garuda Putri.
Di balik angka dan catatan skor, ada nama-nama yang menjelma menjadi pahlawan. Desi Wulandari, sang pembuka yang bermain dengan kepala dingin, menjadi pencetak run terbanyak turnamen (89 run), termasuk 69 run dalam satu laga, skor tertinggi individu di ajang ini. Ia tampil tenang dan penuh perhitungan, menjadi jangkar serangan tim Indonesia di semua laga krusial.
Sementara di sektor bowling, Sang Ayu Nyoman Maypriani menjelma sebagai mimpi buruk bagi lawan-lawannya. Dalam laga melawan Filipina, ia mencatatkan rekor bowling figures terbaik dengan 4 wicket tanpa kebobolan satu pun run (4/4). Bersama rekannya Ni Wayan Sariani yang mengoleksi 7 wicket, lini pertahanan Indonesia tak hanya efektif, tetapi juga mengintimidasi. Mereka menjaga tekanan dengan cermat, memaksa lawan-lawan bermain di bawah kemampuan terbaiknya.
Turnamen internasional ini diikuti oleh empat tim lintas kawasan: Indonesia sebagai tuan rumah, Cook Islands, Filipina, dan AIWCA dari Australia. Bertajuk WBBI: Kartini T20 International Series, ajang ini diselenggarakan dari 9 hingga 13 April 2025, menggunakan format Twenty20 dan bola kulit (leather ball). Diselenggarakan di jantung pariwisata Pulau Dewata, tepatnya di Lapangan Cricket Udayana, turnamen ini menjadi perayaan olahraga perempuan sekaligus penghormatan atas semangat emansipasi R.A. Kartini yang menjadi inspirasi nama turnamen.

Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Cricket Indonesia (PCI), Abhiram Singh Yadav, menyampaikan rasa bangga dan haru atas keberhasilan ini. Dalam pernyataan resminya usai final, ia menekankan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari proses panjang dan kerja kolektif banyak pihak.
"Kemenangan ini bukan hanya milik para pemain, tapi milik seluruh bangsa. Ini adalah hasil dari pembinaan jangka panjang, kepercayaan, dan kerja keras yang tidak pernah putus. Anak-anak ini menunjukkan bahwa perempuan Indonesia bisa bersaing dan menang di panggung internasional. Ini awal dari sesuatu yang besar,” ujar Yadav sambil tersenyum penuh haru.
Sementara itu, pelatih tim nasional Indonesia, Andy Cottam, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut para pemainnya telah tumbuh menjadi atlet yang matang, baik secara teknis maupun mental.
“Mereka datang ke turnamen ini bukan hanya untuk bermain, tapi untuk menang. Dan mereka melakukannya dengan cara yang berkelas. Saya sangat bangga dengan cara mereka menghadapi tekanan, mengambil keputusan, dan bermain sebagai tim. Ini adalah momen yang akan terus hidup di sejarah cricket Indonesia,” ujar Cottam yang sejak 2022 telah membina skuat ini.
Statistik turnamen turut mencerminkan dominasi Indonesia. Dari total 1.211 run dan 103 wicket yang tercipta dalam 8 pertandingan, Indonesia menjadi tim dengan Net Run Rate tertinggi (3.5012) dan satu-satunya tim yang menyapu bersih kemenangan di babak grup. Mereka juga memegang dua rekor penting: skor tertinggi tim (132/8) dan skor terendah lawan (21/3 oleh AIWCA). Performa ini menempatkan Indonesia bukan hanya sebagai juara di Bali, tetapi juga sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan di arena cricket putri Asia-Pasifik.
Namun yang paling penting, turnamen ini membuktikan bahwa cricket putri Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar. Di bawah bendera semangat Kartini, perempuan Indonesia tak lagi sekadar penonton dalam dunia olahraga. Mereka adalah pemain utama, penentu arah, dan kini, juara.
Lebih dari sekadar trofi, kemenangan ini menjadi modal berharga bagi tim nasional putri untuk menghadapi tantangan yang lebih besar: SEA Games Thailand 2025, yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, pengalaman internasional yang bertambah, dan semangat yang membara, tim ini siap melangkah ke medan berikutnya—bukan hanya untuk berpartisipasi, tetapi untuk kembali membawa pulang kejayaan. ***
| Kategori | : | Non Olympic, Bali |













