Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
Umum
12 jam yang lalu
Mabes Polri Cek Kabar Penangkapan Jenderal Bintang Empat di Mako Brimob Terkait Isu Penyadapan
2
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
Umum
14 jam yang lalu
Soroti RUU Perampasan Aset di Parlemen, Jamdatun Peringatkan Potensi Penyalahgunaan Wewenang Negara
3
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
Olympic
9 jam yang lalu
Sashenka Ukir Sejarah, Pejudo Pertama dan Penyumbang Medali Pertama Indonesia
4
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
21 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
5
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
KOI
7 jam yang lalu
NOC Indonesia: Keselamatan Atlet Tidak Boleh Hanya Menjadi Komitmen di Atas Kertas
6
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
KOI
7 jam yang lalu
Okto Dorong Indonesia Jadi Tuan Rumah World Championships Skateboarding
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Dari Bukit Berlian, Ema Gerakkan Lingkungan Lewat Bank Sampah

Dari Bukit Berlian, Ema Gerakkan Lingkungan Lewat Bank Sampah
Ema Suranta.
Senin, 21 April 2025 23:07 WIB

BANDUNG – Di tengah berbagai persoalan lingkungan dan rendahnya kesadaran pengelolaan sampah, sosok Ema Suranta hadir sebagai Kartini masa kini dari Desa Kertamulya, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Ia bukan hanya melihat tumpukan sampah, tapi menjadikannya sumber perubahan.

Kegelisahan Ema berawal dari banyaknya sampah yang menggunung di desanya. Kenangan akan tragedi TPA Leuwigajah yang menewaskan 150 orang menjadi pemantik bagi dirinya untuk bertindak. Bersama ibu-ibu di sekitarnya, ia mendirikan Bank Sampah Bukit Berlian, bukan sekadar tempat memilah sampah, melainkan pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan semangat tak kenal lelah dan dukungan dari Permodalan Nasional Madani (PNM), Ema mulai membudidayakan larva Black Soldier Fly atau maggot untuk mengolah sampah organik. Inovasi ini bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.

Berawal dari modal awal sebagai nasabah PNM Mekaar, kini Ema mampu mengolah hingga 2 ton sampah organik setiap pekan. Hasilnya berupa maggot segar dan kasgot (pupuk organik), yang tak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menambah penghasilan bagi warga.

"Ema adalah bukti bahwa perempuan bisa menjawab tantangan zaman dengan tindakan nyata. Ia mengubah masalah menjadi solusi yang berkelanjutan," ujar Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi.

Arief menyebut, Kartini masa kini tak hanya bicara soal emansipasi, tapi juga soal keberanian memikul tanggung jawab atas lingkungan dan sesama.

“Nasabah PNM seperti Ibu Ema menunjukkan bahwa pemberdayaan ultra mikro bukan sekadar soal ekonomi. Ini tentang membangun masa depan bersama,” tambahnya.

Melalui program PNM Mekaar, jutaan perempuan Indonesia telah mendapatkan pendampingan untuk mandiri secara finansial, percaya diri secara sosial, dan kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

PNM berharap semakin banyak sosok seperti Ema yang mendapatkan akses pembiayaan dan pembinaan agar mampu menjadi inspirasi dan penggerak perubahan di komunitas masing-masing. ***

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Ekonomi, DKI Jakarta, Jawa Barat
wwwwww