Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
Badminton
21 jam yang lalu
Ubed Akui Waktu Mepet dan Richie Ingin Hasil Terbaik
2
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
Olympic
22 jam yang lalu
Asael, Michelelle, dan Miftaqul Masih Berada di Jalur Positif
3
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
Olympic
22 jam yang lalu
Seragam Kontingen Indonesia Hasil Kolaborasi Sarinah dan Mills Menggandeng Brand Lokal
4
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
Hukum
21 jam yang lalu
Senator Dailami: Polri Bersama Masyarakat Jangan Hanya Slogan
5
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
Metropolitan
12 jam yang lalu
BMKG Prakirakan Sebagian Jabodetabek Berpotensi Hujan Ringan pada Sore Hari Ini
6
Makan Konate Menerima Kekalahan Lapang Dada
Sepakbola
23 jam yang lalu
Makan Konate Menerima Kekalahan Lapang Dada
Home  /  Berita  /  Voli

Korsel Batalkan Kerjasama Proyek EV, MITI Sarankan Pemerintah Evaluasi

Korsel Batalkan Kerjasama Proyek EV, MITI Sarankan Pemerintah Evaluasi
Pembina MITI, Mulyanto. (Ist)
Selasa, 22 April 2025 23:57 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Pembatalan kerjasama Proyek Titan kerjasama BUMN dengan konsorsium LG Energy Solution Ltd (LGES), Korea Selatan (Korsel), harus mendapat perhatian serius Pemerintah.

Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Mulyanto sarankan Pemerintah harus lakukan evaluasi secara objektif untuk mengetahui alasan pembatalan kerjasama proyek senilai Rp 130 triliun tersebut.

Ia juga mengusulkan Pemerintah perlu mengembangkan keragaman mitra strategis terkait pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) nasional. Jangan hanya bergantung pada sumber teknologi satu negara.

Menurutnya diversifikasi kerjasama dengan berbagai negara sangat penting untuk menjaga keseimbangan geopolitik serta mendapatkan sumber teknologi dan pasar yang semakin luas.

"Meski BUMN kita masih memiliki konsorsium kerjasama pengembangan ekosistem EV dengan perusahaan CATL China melalui proyek Dragon sebesar Rp. 240 triliun, namun batalnya proyek Titan ini memiliki pengaruh signifikan, yang dapat memperlambat program pengembangan ekosistem EV dan hilirisasi sumber daya mineral nasional," jelasnya.

Karena itu menurut Mulyanto Pemerintah harus memitigasi dampaknya secara sungguh-sungguh serta mengembangkan alternatif kemitraan dan strategi lain.

"Pelajaran yang dapat dipetik dari kasus kebijakan tarif Presiden AS Trump adalah soal diversifikasi pasar dan kerjasama kemitraan secara beragam dengan berbagai negara.

Ketergantungan atau dominasi sumber teknologi atau pasar pada satu atau beberapa negara akan menjadi sangat rawan bagi pembangunan ekonomi nasional," terangnya.

Untuk diketahui, PT Indonesia Battery Corporation (IBC) pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, 17 Februari 2025 lalu, memaparkan bahwa perusahaan Korea Selatan, LGES, mundur dari pembentukan joint venture (JV) Proyek Titan, yakni megaproyek baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) senilai US$7,7 miliar (sekitar Rp129,84 triliun asumsi kurs saat ini) di Indonesia.

Mundurnya LGES dari proyek yang dikenal dengan kode 'Proyek Titan' itu diumumkan perusahaan asal Korea Selatan tersebut pada Jumat (18/4/2025). 

Namun di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bersama mitra strategisnya terus menindaklanjuti proyek ekosistem baterai EV lainnya, Proyek Dragon, senilai total USD 16 miliar atau sekitar Rp 240 triliun.

Direktur Utama Antam Nico D. Kanter menjelaskan, proyek Dragon merupakan proyek strategis sekaligus program prioritas perseroan.

Proyek Dragon dikerjakan Antam dengan menggandeng Contemporary Brunp Lygend (CBL)—konsorsium raksasa produsen baterai asal Tiongkok Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL). ***

wwwwww