Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
20 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
21 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
20 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
20 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
19 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
20 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Metropolitan

Reshuffle Menghampiri, Tiga Partai Dukung Prabowo 2029 Demi Kursi di Kabinet?

Reshuffle Menghampiri, Tiga Partai Dukung Prabowo 2029 Demi Kursi di Kabinet?
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio/Istimewa.
Minggu, 04 Mei 2025 06:50 WIB

JAKARTA – Deklarasi dukungan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kepada Presiden Prabowo Subianto untuk Pemilu 2029 dinilai sebagai strategi untuk mengamankan posisi menjelang reshuffle kabinet yang disebut-sebut sudah di depan mata.

Pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio, menyebut bahwa manuver ketiga partai ini bukan semata bentuk loyalitas politik, melainkan bagian dari kalkulasi untuk tetap bertahan di lingkar kekuasaan.

"Ini strategi klasik. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah sekutu yang loyal. Dukungan dari partai-partai besar ini jadi sinyal kuat bahwa reshuffle sebentar lagi akan terjadi," ujar Hendri yang juga pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Sabtu (3/5/2025).

Ia menilai, kegesitan partai-partai tersebut menunjukkan adanya dinamika internal yang tidak tenang. Menurutnya, deklarasi dini itu tampak sebagai bentuk kepanikan untuk menjaga jatah kursi kabinet agar tidak tergeser.

"Sepertinya mereka sadar kalau enggak cepat ambil posisi, bisa kehilangan slot," jelasnya.

Lebih jauh, Hensat mengkritik waktu deklarasi yang dianggap terlalu dini mengingat Pilpres 2029 masih jauh. Ia menilai partai-partai besar justru melewatkan momentum untuk tampil percaya diri dengan mengusung ketua umum masing-masing sebagai calon presiden.

"Dengan presidential threshold nol persen, partai seperti Golkar, PAN, dan PKS harusnya lebih berani mencalonkan ketua umum mereka sendiri, bukan buru-buru deklarasi," tegasnya.

Menurutnya, langkah tersebut justru bisa membuat partai kehilangan posisi tawar politik di tengah semakin kritisnya publik terhadap manuver-manuver elitis.

"Kalau hanya fokus pertahankan kursi, mereka bisa kehilangan momentum di 2029. Publik sekarang tidak lagi mudah percaya pada simbolik politik semata," pungkasnya. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Metropolitan
wwwwww