Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
21 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
Metropolitan
22 jam yang lalu
Ini 10 Penerima Jakarta Youth Award 2026
3
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
21 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
4
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
21 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
20 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
20 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Ekonomi

Kadin Lobi AS agar Ekspor Garmen Indonesia Lebih Kompetitif Lewat Skema Impor Kapas

Kadin Lobi AS agar Ekspor Garmen Indonesia Lebih Kompetitif Lewat Skema Impor Kapas
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie. (antara/mentari dwi gayati.)
Minggu, 04 Mei 2025 06:11 WIB

JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia tengah melobi Amerika Serikat (AS) untuk membuka peluang kemitraan dagang baru yang memungkinkan produk garmen asal Indonesia menikmati tarif impor serendah mungkin, bahkan hingga nol persen.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyampaikan bahwa upaya ini dibahas saat pertemuannya dengan Vice President National Cotton Council (NCC) AS, Robbie Minnich, di Washington, D.C.

"Kita memikirkan suatu kesepakatan, di mana kalau kita pakai kapas dari Amerika, lalu diolah jadi garmen dan dikirim kembali ke sana, bisa mendapat tarif yang serendah mungkin. Syukur-syukur nol persen," ujarnya, Sabtu (3/5/2025).

Menurut Anindya, skema tersebut akan memberikan keunggulan kompetitif bagi industri garmen nasional yang saat ini masih menghadapi tekanan tarif di pasar ekspor utama.

Kadin juga meminta NCC agar turut membantu melobi Pemerintah AS, khususnya United States Trade Representative (USTR), agar skema ini bisa masuk dalam pembahasan kebijakan perdagangan kedua negara.

"Hubungan kita dengan pemerintah AS cukup baik. Kami berharap langkah ini bisa membuat perusahaan garmen kita lebih kompetitif di pasar internasional," urainya.

Anindya mengakui bahwa kapas dari AS juga bersaing dengan pasokan dari negara lain seperti Tiongkok dan Brasil. Namun, ia tetap optimistis dengan potensi kerja sama dagang ini.

"Pertemuan berlangsung positif. Kami fokus pada isu tarif dan optimis bisa dicapai solusi yang saling menguntungkan," katanya.

Saat ini, ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar 2 miliar dolar AS per bulan. Dengan skema baru ini, Kadin berharap ekspor produk unggulan seperti garmen, alas kaki, dan elektronik bisa tumbuh lebih agresif.

"Kalau nanti kapasnya dari Amerika, kami ingin pastikan tarif garmen kita bisa ditekan. Dengan begitu, produk kita lebih laku dan bersaing di pasar AS," jelasnya.

Anindya menambahkan, skema ini tak hanya menguntungkan pengusaha, tapi juga jutaan pekerja di industri tekstil dan garmen nasional.

"Ini akan berdampak luas, tidak hanya untuk pelaku usaha tapi juga para pekerja. Industri ini melibatkan jutaan tenaga kerja, jadi manfaatnya akan sangat besar bagi ekonomi Indonesia," tandasnya. (ant)

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Kategori:Ekonomi
wwwwww