Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
Nasional
18 jam yang lalu
Mulyanto: Satgas Indonesia-Singapura Harus Bongkar Jaringan Korporasi Perusak Lingkungan
2
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
Kemenpora
19 jam yang lalu
Kemenpora Gandeng BRI, Atlet Berprestasi Diguyur Bonus Rp158 Miliar
3
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
Kemenpora
19 jam yang lalu
Presiden Prabowo: Indonesia Harus Jadi Bangsa yang Menang
4
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
Kemenpora
19 jam yang lalu
Presiden Prabowo Serahkan Bonus Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026
5
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
Sepakbola
18 jam yang lalu
Subsidi Klub Futsal Masih Menunggak, Tirta Lunggana: Kami Sangat Kecewa
6
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Metropolitan
9 jam yang lalu
BMKG: Cuaca Jabodetabek Hari Ini Berpotensi Hujan Ringan
Home  /  Berita  /  Sepakbola

Final AFF U-23 Jadi Pelajaran, Erick: Pelatih Asing Harus Tahu Lapangan di Sini Tak Sama

Final AFF U-23 Jadi Pelajaran, Erick: Pelatih Asing Harus Tahu Lapangan di Sini Tak Sama
Selasa, 05 Agustus 2025 14:49 WIB

JAKARTA – Kekalahan Timnas Indonesia U-23 dari Vietnam di final Piala AFF U-23 menjadi bahan refleksi mendalam bagi PSSI. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menilai pelatih Gerald Vanenburg perlu memahami lebih dalam dinamika dan budaya sepak bola di Asia Tenggara yang sering kali tak terduga di dalam dan luar lapangan.

Dalam perbincangan bersama pengamat sepak bola Binder Singh, Erick menyoroti bahwa pelatih yang berasal dari kultur sepak bola Eropa sering kali terkaget-kaget menghadapi permainan keras, provokasi lawan, serta kualitas wasit di level Asia Tenggara.

“Mereka harus siap dengan atmosfer pertandingan yang penuh tekanan, provokasi, bahkan drama. Ini bukan hal baru di Asia Tenggara, dan pelatih harus bisa mempersiapkan pemain secara emosional, bukan cuma teknis,” ujar Erick, Senin (3/8/2025).

Erick menyebut bahwa pengibaran bendera merah putih dan bermain di kandang sendiri seharusnya menjadi motivasi tambahan. Namun realitas di lapangan menunjukkan tim masih kesulitan menjaga fokus dan ketenangan dalam situasi emosional tinggi.

Ia juga menyinggung aksi-aksi pemain Vietnam yang memancing emosi, hingga sikap pelatih lawan yang menurutnya turut memperkeruh suasana pertandingan.

“Di sinilah pentingnya pelatih punya pemahaman konteks. Ini bukan Liga Belanda atau Bundesliga. Ini Asia Tenggara, dengan gaya main, tekanan publik, dan karakter lawan yang khas,” tegas Erick.

PSSI, kata Erick, menjadikan Piala AFF U-23 sebagai ajang pemanasan menuju SEA Games 2025. Maka evaluasi dari kekalahan ini tak hanya soal skor akhir, tapi juga soal mentalitas tim dan kesiapan pelatih dalam membangun fondasi jangka panjang.

“Kita ingin juara, tapi lebih dari itu, kita ingin punya tim yang siap di segala kondisi. Dan itu perlu pelatih yang tahu cara mempersiapkan pemain untuk realitas di lapangan Asia Tenggara,” tutupnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Sepakbola, DKI Jakarta
wwwwww