Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
Nasional
22 jam yang lalu
DPR Siapkan Jalan, DKPP Didorong Lebih Kuat hingga Daerah
2
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
Nasional
22 jam yang lalu
DKPP Bidik Kemandirian, Sekretariat Daerah Jadi Agenda Mendesak
3
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
Nasional
22 jam yang lalu
Firman Soebagyo: Indonesia Emas 2045 Bukan Hadiah, tetapi Harus Diperjuangkan
4
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
KONI
22 jam yang lalu
Fokus PON, KONI Pusat Selaraskan Program Kerja dengan Kemenpora
5
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
Nasional
22 jam yang lalu
Pemerintah Diminta Bersikap Proporsional Terkait MSCI
6
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
KONI
21 jam yang lalu
Pesilat Ayudiah Meninggal di PORPROV Jateng 2026, KONI Pusat Tegaskan Keselamatan Atlet Nomor Satu
Home  /  Berita  /  Voli

ASN Terseret Jaringan Teror di Aceh, Wajah Radikalisme di Balik Meja Pemerintah

ASN Terseret Jaringan Teror di Aceh, Wajah Radikalisme di Balik Meja Pemerintah
Ilustrasi. Densus 88 tangkap ASN di Aceh terduga teroris. (Dok. Polri)
Rabu, 06 Agustus 2025 12:03 WIB

BANDA ACEH – Penangkapan dua aparatur sipil negara (ASN) oleh Densus 88 Antiteror Polri kembali membuka wacana tentang rapuhnya sistem deteksi dini terhadap infiltrasi paham ekstrem di tubuh birokrasi. Kedua ASN yang ditangkap, ZA (47) dan MZ (40), diduga memiliki peran kunci dalam jaringan teror yang beroperasi di Aceh.

Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana mengungkapkan, ZA terlibat aktif dalam pengelolaan dana organisasi teror, sementara MZ berperan sebagai penggerak perekrutan anggota baru di wilayah Aceh.

"Mereka berperan penting, satu di aspek logistik dan satu lagi dalam kaderisasi. Penangkapan dilakukan setelah pemantauan selama berbulan-bulan," katanya, Selasa (5/8).

Barang bukti berupa laptop, handphone, flashdisk, dan senjata tajam turut diamankan. Densus menduga alat tersebut berisi data penting jaringan dan dokumen aktivitas kelompok.

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran serius bahwa birokrasi pemerintah dapat disusupi oleh kelompok dengan ideologi kekerasan, apalagi bila pengawasan terhadap pegawai hanya berfokus pada aspek administratif.

Pemerintah Kota Banda Aceh dan Kanwil Kemenag Aceh selaku institusi tempat kedua ASN bekerja, mengaku tidak menduga keterlibatan tersebut. Juru Bicara Pemkot, Tomi Mukhtar, menyampaikan keprihatinan dan menyatakan akan menunggu informasi lebih lanjut dari penyidik.

"Kami hormati proses hukum. Tentu ini menjadi pelajaran untuk memperketat pengawasan internal terhadap ASN," ujarnya. 

Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, juga membenarkan bahwa MZ adalah ASN di instansinya dan telah menerima surat resmi penangkapan dari polisi.

"Penangkapannya terjadi di sebuah warung kopi. Kita belum tahu sejauh mana keterlibatannya," jelasnya.

Kasus ini memicu desakan dari berbagai kalangan agar sistem rekrutmen dan pembinaan ASN ditinjau ulang, dengan memasukkan aspek ideologi dan wawasan kebangsaan sebagai indikator utama.

"Ini bukan lagi soal disiplin kerja, tapi menyangkut keamanan nasional," kata seorang pengamat kebijakan publik di Banda Aceh. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Voli, Beladiri, DKI Jakarta, Aceh
wwwwww