Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
Nasional
23 jam yang lalu
Tolak Usul Luhut, Mulyanto Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara
2
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
Sepakbola
23 jam yang lalu
Egy Maulana Vikri Bertekad Pertahankan Performa Terbaik Saat Libur
3
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
Sepakbola
23 jam yang lalu
Optimalisasi Kemampuan Multiposisi Rizky Ridho
4
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
Metropolitan
12 jam yang lalu
‎BMKG Prediksi Hujan Menyapa Jabodetabek Hari Ini, Petir Mengintai Sore Hari
5
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
Sepakbola
23 jam yang lalu
Pieter Huistra Akui Aspek Pertahananan PSS Perlu Perbaikan
6
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Sepakbola
23 jam yang lalu
Stjepan Fokus Laga Berikutnya, Nadeo Ucapkan Terima Kasih kepada Jakmania
Home  /  Berita  /  Nasional

Jakarta Institut Soroti Pidato Kenegaraan Prabowo Subianto

Jakarta Institut Soroti Pidato Kenegaraan Prabowo Subianto
Presiden RI, Prabowo Subianto sampaikan pidato kenegaraan jelang HUT ke-80 RI. (Ist)
Sabtu, 16 Agustus 2025 10:43 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA- Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD 2025 menyampaikan pidato yang memadukan tiga elemen utama: refleksi sejarah 80 tahun kemerdekaan, paparan capaian 300 hari pemerintahan, dan garis besar Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.

Prabowo membuka pidato dengan salam lintas agama, lalu menekankan pentingnya ingatan kolektif atas perjuangan kemerdekaan. Penyebutan periode 1945–1949 sebagai masa "perang mempertahankan kemerdekaan" menghidupkan kembali memori heroik nasional.

 
Dari perspektif teori konstruksi identitas nasional (Anderson, 1983), strategi ini memperkuat imagined community yang menghadirkan rasa persatuan lintas generasi. Namun, pidato ini relatif minim elaborasi tantangan sejarah kontemporer, seperti polarisasi politik pasca-pemilu atau transformasi digital global, yang justru relevan bagi generasi muda. 
 
Prabowo memaparkan indikator makroekonomi dengan pertumbuhan ekonomi 5,12%, investasi semester I 2025 mencapai Rp 942 triliun (+13,6% YoY), penciptaan 1,2 juta lapangan kerja baru, dan program gizi untuk 82 juta anak dan ibu hamil.
 
Dari sudut pandang development economics, pertumbuhan di atas 5% patut dicatat, namun analisis distribusi manfaat pertumbuhan belum diungkap. Tidak ada data rinci soal disparitas wilayah atau kontribusi sektor informal, padahal sektor ini menyerap ±60% tenaga kerja nasional.
 
Selain itu, pernyataan tegas "tidak gentar menghadapi kekuatan besar dan kaya" menunjukkan sinyal politik populist economic nationalism (Rodrik, 2018) yang secara retoris menguntungkan, tetapi membutuhkan pembuktian implementasi kebijakan anti-monopoli yang konsisten.
 
RAPBN 2026 menetapkan belanja negara Rp 3.786,5 triliun dan pendapatan Rp 3.147,7 triliun, dengan defisit 2,48% PDB (Rp 638,8 triliun). Fokus belanja diarahkan pada ketahanan pangan, energi, percepatan investasi, digitalisasi layanan publik, dan pembiayaan kreatif.
 
Secara teori fiskal (counter-cyclical policy), alokasi ini dapat merespons ketidakpastian global. Namun, belum dijabarkan strategi mitigasi risiko terhadap pelemahan rupiah, volatilitas harga komoditas, dan ancaman krisis iklim yang dapat menggerus basis produksi pangan dan energi.
 
Penggunaan video dokumenter capaian di forum parlemen merupakan inovasi komunikasi politik yang jarang dilakukan presiden sebelumnya. 
 
Direktur Jakarta Institut, Agung Nugroho mengatakan, hal ini memperkuat narrative framing bahwa pemerintahan telah bergerak cepat dan konkret. 
 
Akan tetapi, lanjut Agung, framing visual tanpa data pembanding dapat menguatkan confirmation bias pada audiens yang sudah mendukung, sambil gagal menjawab skeptisisme publik yang kritis.
 
"Pidato ini berhasil merangkai sejarah, kinerja, dan arah kebijakan dalam satu panggung. Namun, secara ilmiah, kelemahannya terletak pada absennya analisis risiko, kurangnya pembahasan isu kesenjangan sosial, dan minimnya target kuantitatif yang terukur untuk 2026," ujarnya, melalui keterangan tertulis, Sabtu (16/8). 
 
Agung menjelaskan, bagi pengamat kebijakan publik, pidato ini menjadi dokumen penting untuk membaca arah politik ekonomi Indonesia lima tahun ke depan.
 
"Nasionalis-populis dalam retorika, namun tetap menjaga koridor fiskal konvensional," pungkas Agung. ***

Kategori:Nasional
wwwwww